Cerita Fiksi

Sang Dracula dan Perempuan Tanpa Kepala

Sang Dracula dan Perempuan Tanpa Kepala
Ilustrasi hutan berkabut (Unsplash/Karsten Wurth)

Suara aliran sungai yang bergemuruh, dan diiringi dengan kicau-kicau burung membuatku membuka mata. Sejauh memandang, tersaji hamparan lanskap pepohonan berkabut, dan sungai jernih yang mengakir di sela-sela batu.  Udaranya sejuk, dan terdapat pohon beringin besar dengan akar-akar gantung menyerupai rumbai-rumbai raksasa.

“Dimana lagi aku mendarat ini?” tanyaku sambil mengedarkan pandangan. “Negeri dongeng kah?”

Seorang lelaki berjaket hitam tampak mendekat dari balik pohon mahoni. Senyumnya mengembang manis, seperti merk sepatu olahraganya yang kutaksir cukup membuat kantong jebol.

“Suka pemandangan hutannya?” tanyanya basa-basi. “Atau suka penampilanku?”

Aku nyaris menyemburkan tawa. “Ngomong saja sama angin.”

Lelaki itu terkekeh, sebelum duduk santai di atas sebuah batu besar. Kuikutilah dia, sehingga kini kami diam sambil menikmati suasana hutan yang tenang dan memukau.

“Bahkan burung pun menemukan pasangannya,” gumamku nyaris tidak terdengar.

“Kau juga akan menemukan pasanganmu.”

Aku berdecih. “Aku tidak mudah percaya pada orang. Jadi mungkin bakal susah dapat jodohnya.”

Aku sendiri tidak habis pikir, kenapa aku kerap bertemu orang-orang yang salah. Kapan hari kawan SMA mengenalkanku pada teman suaminya, yang kutahu adalah seorang pemabuk dan penjudi.

Kapan hari, ada yang mengenalkanku pada lelaki NPD dan kepo akut. Pernah juga beberapa orang mencoba menjodohkanku dengan anak mereka, tetapi dengan fakta bahwa mereka sudah punya pacar masing-masing. What the?!

“Kau terlalu terpaku pada masa lalumu,” katanya singkat.

Lelaki itu kemudian beranjak pergi, meninggalkanku sendirian dan menghilang di balik rimbun pepohonan. Setelah kepergiannya, kuputuskan untuk berdiam lebih lama dan mengamati burung-burung kutilang, hingga burung nuri warna-warni yang beterbangan.

Aroma humus berpadu dengan lembap bebatuan sungai dan lumut di permukaannya. Ditambah aroma tanah basah dan manis buah mangga hutan, serta aroma embun yang pekat. Menciptakan aroma yang sanggup menenangkan pikiran.

Kualihkan pandanganku ke bawah, tepatnya pada aliran air jernih di sela-sela bebatuan sungai. Terlihat ada banyak ikan, udang kecil, hingga cuyu (kepiting sungai) berenang. Tampak juga buah mahoni yang semula bertaburan tertiup angin, jatuh dan hanyut di sungai.

“Simfoni alam,” kataku sambil tersenyum.

“Menikmati pemandangannya?”

Aku menoleh sewaktu mendengar suara lembut perempuan, hanya untuk membeku di tempat.

Sebab dia menenteng kepalanya sendiri!

“Boleh aku bergabung?” tanyanya sopan.

Aku menelan ludah. Kemudian mengangguk canggung, dan cukup ketakutan. Perempuan itu lantas duduk disampingku, dan meletakkan kepalanya di dekat badan.

“Namaku Madeleine,” ucapnya. “Jangan takut dengan penampilanku.”

Madeleine tampak berusia duapuluhan. Berkulit kuning langsat pucat, dengan dress musim panas berwarna biru bermotif dedaunan. Meski kepala dan badannya terpisah, tetapi tidak ada darah yang mengucur dari lehernya. Bekas luka pun tidak ada. Selain itu, Madeleine memiliki rambut pirang bergelombang yang mengingatkanku pada tokoh utama komik-komik romansa kerajaan.

“Kepalamu…betulan begitu?” tanyaku masih tidak percaya. “Uhm, kamu…tinggal dimana?”

Madeleine tertawa. Badannya bergetar, seakan pertanyaanku itu lelucon. “Aku tinggal disini, dan wujudku memang seperti ini.”

Aku mengangguk.

“Lelaki yang tadi bersamamu itu temanmu?” tanyanya. “Kalian terlihat akrab?”

Aku menggeleng. “Sejujurnya, aku tidak tahu dia siapa. Tapi dia sering menemuiku.”

Sudut bibir Madeleine terangkat. “Dia memang memiliki wujud yang nyaman dilihat sih. Apalagi, fashion yang dia kenakan. Sudah mirip model-model internasional saja.”

Jujur, aku tidak tahu bagaimana akhirnya kami justru membahas lelaki berjaket hitam tadi. Mulai dari pakaiannya, sepatunya, sampai pada topik-topik lain. Entah membicarakan film, aktor paling populer, drama Korea, hingga masakan daerah sekaligus bumbu-bumbunya.

Madeleine ternyata cukup update dengan perkembangan dunia. Dia bahkan menjadi kawan ngobrol yang menyenangkan.

Hingga kami berdua diganggu oleh kemunculan seekor kelelawar hitam. Dia mencoba meraih kepala Madeleine, yang berhasil kuselamatkan. Kelelawar itu juga mencoba menyerang wajahku, yang berhasil dipukul Madeleine sehingga hewan itu tercebur ke sungai.

Namun, kelelawar itu kembali mengudara dan kembali mengusik kami.

“Dmitri!” kata Madeleine datar.

Aku menyerahkan kepala Madeleine saat dia mengulurkan tangan padaku. Setelahnya, terlihat kelelawar tadi terbang mendekat, lalu dalam sekejap mata berubah menjadi sesosok lelaki bertubuh tinggi tegap, dalam balutan setelan hitam dan mantel musim dingin berwarna senada.

Lelaki itu memiliki rambut sehitam arang, iris sekelam malam, yang kontras dengan kulit putih pucatnya. Yang membuatku terheran-heran, saat dia menyeringai, terlihatlah sepasang gigi taring panjang.

“Dmitri, minta maaflah pada Friska. Kau barusan mengganggunya,” titah Madeleine dalam nada datar yang membuatku kebingungan. Darimana dia tahu namaku?

Lelaki bertaring itu hanya mengedikkan bahu, kemudian tersenyum sedikit lebih tulus. Tidak ada ucapan maaf, atau minimal mengulurkan tangan. Arogansinya menonjol sekali. Sehingga aku memilih menganggukkan kepala, berusaha menerima permintaan maafnya yang aneh.

“Maafkan Dmitri ya, Friska. Dracula satu ini memang arogan,” ucap Madeleine menengahi.

“O–oke.”

Aku mengucek mataku beberapa kali. Memastikan bahwa pemandangan di depan sana itu nyata. Melihat Dmitri sang dracula arogan tampak memeluk Madeleine lembut, bahkan mencium lehernya. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih.

“Ayo pergi, jangan ganggu orang sedang kasmaran,”

“Weh, sejak kapan kamu disini?”

Kubiarkan lelaki berjaket hitam yang tadi menghilang menarik lenganku. Kami lantas menjauh dari Madeleine dan Dmitri yang kini berbaring bersisian di atas batu besar. Entah apa yang mereka berdua bicarakan, tetapi sepertinya asyik sekali.

“Kau lihat? Bahkan perempuan tanpa kepala pun menemukan pasangannya. Asal kau tahu saja, Dmitri adalah yang paling populer di negerinya sana,”

“Tunggu dulu. Memangnya Dmitri berasal darimana?”

“Negeri dimana dracula berada.” Lelaki itu lantas tertawa, sebelum melepaskan lenganku dan mendongak, memandangi dahan-dahan pepohonan hutan. “Jangan terlalu rendah diri. Kau pasti akan menemukan pasanganmu.”

“Kok kamu seyakin itu?”

Dia lalu memandangku. Meski disayangkan, bayangan dedaunan jatuh di wajahnya. “Kau terlalu ambil pusing akan omongan orang. Hanya karena belum menikah di usiamu yang seperempat abad. Tenang saja.”

“Kamu sendiri sudah menikah?”

Lelaki itu kemudian tersenyum lembut, dan mengulurkan sebelah tangannya untuk menutup mataku. “Dengarkan aliran sungai yang bergemuruh….”

Suara aliran sungai yang bergemuruh, dan diiringi dengan kicau-kicau burung membuatku membuka mata. Terdengar juga suara klakson penjual tempe keliling, dan dering alarm yang memekakkan telinga.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda