Ulasan

Mata di Tanah Melus: Petualangan Fantasi yang Membuka Wajah Indonesia Timur

Mata di Tanah Melus: Petualangan Fantasi yang Membuka Wajah Indonesia Timur
Mata di Tanah Melus (Dok.Pribadi/Oktavia)

Buku ini menjadi bukti bahwa literatur anak pun bisa menyentuh isu-isu besar. Dengan cara yang sederhana, hangat, dan penuh makna. Novel Mata di Tanah Melus karya Okky Madasari menjadi salah satu karya menarik dalam sastra anak dan remaja Indonesia.

Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2018, buku ini menghadirkan perpaduan unik antara petualangan, fantasi, dan realitas sosial di wilayah perbatasan Indonesia, khususnya di Kabupaten Belu.

Sinopsis Buku

Matara atau biasa dipanggil Mata, seorang gadis berusia 12 tahun yang baru lulus sekolah dasar. Bersama ibunya yang berprofesi sebagai penulis, Mata melakukan perjalanan ke Nusa Tenggara Timur untuk berlibur. Namun, liburan yang dibayangkan santai dan menyenangkan justru berubah menjadi petualangan tak terduga yang penuh misteri.

Alih-alih mengunjungi destinasi populer seperti Bali atau Lombok, Mata justru dibawa ke wilayah yang terasa asing dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar seperti Jakarta. Di sinilah cerita mulai berkembang. Serangkaian kejadian sial mulai dari kecelakaan kecil hingga tersesat membawa Mata terpisah dari ibunya dan masuk ke dunia yang disebut Tanah Melus.

Tanah Melus sendiri terinspirasi dari legenda masyarakat lokal di Belu. Dalam cerita, suku Melus digambarkan sebagai kelompok misterius yang dianggap telah punah, tetapi sebenarnya masih hidup tersembunyi dengan kemampuan luar biasa, seperti memahami berbagai bahasa hanya dengan sekali dengar. Unsur ini memberikan sentuhan fantasi yang kuat, tanpa sepenuhnya melepaskan akar budaya lokal.

Selama petualangannya, Mata bertemu dengan Atok, seorang anak dari suku Melus yang kemudian menjadi temannya. Bersama Atok, Mata menjelajahi dunia yang dipenuhi makhluk dan tokoh ajaib, seperti Ratu Kupu-Kupu dan Dewa Buaya. Pengalaman ini mengingatkan pada pola petualangan klasik dalam The Little Prince, di mana perjalanan fisik juga menjadi perjalanan batin untuk memahami dunia dan diri sendiri.

Namun, kekuatan utama novel ini bukan hanya pada unsur fantasinya, melainkan pada pesan sosial yang dibawanya. Okky Madasari dengan halus menyisipkan kritik terhadap cara pandang masyarakat modern terhadap daerah terpencil dan masyarakat adat. Tanah Melus menjadi simbol dari kelompok yang terpinggirkan. Mereka yang sering dianggap “tidak ada” hanya karena tidak terlihat dalam arus utama pembangunan.

Kelebihan dan Kekurangan

Latar geografis yang digunakan juga bukan sekadar tempelan. Penulis menggambarkan wilayah seperti Atambua, Gunung Lakaan, hingga padang sabana Fulan Fehan dengan cukup detail. Ini memberi nilai edukatif bagi pembaca muda untuk mengenal bagian Indonesia yang jarang terekspos. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memperluas wawasan geografis dan budaya.

Dari sisi gaya bahasa, Mata di Tanah Melus menggunakan diksi yang sederhana dan mudah dipahami. Alurnya mengalir cepat dan penuh rasa ingin tahu, menjadikannya sebuah “page turner” yang membuat pembaca terus ingin mengikuti petualangan Mata hingga akhir.

Meski demikian, beberapa bagian penyelesaian konflik terasa cukup sederhana, bahkan cenderung cepat. Namun hal ini masih dapat dimaklumi mengingat target pembacanya adalah anak-anak. Justru kesederhanaan tersebut membuat cerita tetap ringan dan tidak membebani.

Novel ini juga mengajak pembaca untuk merefleksikan hubungan manusia dengan alam. Di tengah eksplorasi dan pembangunan, apakah kita sudah benar-benar menghargai lingkungan dan masyarakat lokal? 

Secara keseluruhan, Mata di Tanah Melus adalah karya yang berhasil menjembatani dunia imajinasi dengan realitas sosial. Ia bukan hanya cerita petualangan, tetapi juga pengingat bahwa Indonesia menyimpan banyak “dunia lain” yang belum sepenuhnya kita pahami.

Melalui mata seorang anak, pembaca diajak melihat bahwa keberagaman budaya dan alam bukan sekadar latar, melainkan bagian penting dari identitas bangsa.

Identitas Buku

  • Judul: Mata di Tanah Melus
  • Penulis: Okky Madasari
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2018
  • ISBN : 978-602-0381-329
  • Tebal: 187 halaman
  • Genre: Sastra Anak, Petualangan, Fantasi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda