Ulasan
Pecandu Buku, Gerak Laku Penuntut Ilmu: Literasi untuk Membangun Peradaban
Salah satu tantangan besar yang harus dihadapi di era melesatnya teknologi artificial intelligence (AI) hari ini adalah bagaimana mengembalikan keistimewaan manusia sebagai makhluk yang berpikir. Pasalnya, adanya AI yang seolah bisa diandalkan mulai menggeser posisi manusia sebagai individu yang berakal budi.
Oleh karena itu, kita perlu kembali disadarkan tentang betapa pentingnya menjadi manusia pembelajar meski kita hidup berdampingan dengan teknologi yang semakin cerdas.
Hal tersebut dibahas dalam buku berjudul Pecandu Buku: Gerak Laku Penuntut Ilmu yang ditulis oleh Vivit Nur Arista Putra. Buku ini membahas tentang nilai-nilai, perdebatan filosofis dan historis, serta bagaimana islam memandang budaya membaca dan menulis.
Berbicara tentang literasi, dalam hal ini membaca merupakan aktivitas yang bisa merintis jalan apa saja. Mulai dari pengetahuan, peradaban, dan kemajuan suatu bangsa. Lewat membaca itulah, islam memiliki kekuatan pengubah; mengilhami temuan pengetahuan, membongkar kesadaran palsu, dan memprakarsai sistem birokrasi modern.
Sebagaimana wahyu pertama yang turun dari langit adalah perintah untuk membaca. Sayangnya, kebanyakan di antara kaum muslimin mengabaikan hal ini.
Padahal peradaban islam adalah peradaban buku dan bacaan yang dibangun dari fondasi ilmu pengetahuan. Sebab kokoh dan robohnya peradaban tergantung pada maju mundurnya ilmu pengetahuan.
Kini peradaban ilmu luntur karena mesjid semakin bertambah tetapi perbincangan pengetahuan kian sedikit. Tak ada rasa haus ilmu dan lapar buku.
Adapun di masa lalu, masyarakat islam dapat mencapai peradaban ilmu dan menghasilkan penemuan penting ketika melestarikan tradisi literasi.
Contohnya bisa kita lihat pada para penggerak peradaban di zaman kejayaan islam. Mulai dari Imam Al Ghazali, Imam Syafi'i, Ibnu Sina dan ulama klasik lainnya.
Mereka semua adalah contoh orang-orang alim dan berilmu yang menjadikan kekuatan literasi sebagai salah satu faktor besar dalam berkarya.
Mereka menghabiskan banyak waktu dengan membaca, menelaah banyak buku, dan menuliskan pengetahuan yang akan diwariskan pada generasi setelahnya.
Dari kisah-kisah mereka, kita bisa belajar bahwa ketika ingin berkembang, maka kita perlu memperbaiki kualitas literasi. Yakni memperbanyak membaca buku, menulis untuk mengabadikan pengetahuan, dan tidak bosan dalam menuntut ilmu.
Kalau dalam islam sendiri, ilmu begitu dimuliakan karena menjadi bagian dari kewajiban seorang muslim. Jadi, literasi itu sendiri tidak sekedar mengasah keterampilan duniawi, tapi juga bagian dari mengembangkan kesadaran spiritual.
Hal tersebut bisa kita wujudkan dengan membiasakan diri membaca buku. Jangan lupa untuk lebih cerdas dalam menyaring jenis bacaan di tengah banjir informasi saat ini. Sebab, pada dasarnya kita sama sekali tidak kekurangan bacaan. Yang menjadi PR besar justru adalah kemampuan memilih jenis informasi dan pengetahuan yang masuk ke dalam pikiran.
Sebagai lanjutan dari aktivitas membaca, belajarlah untuk menulis. Mengabadikan pengetahuan, menyimpan kenangan, hingga mencatat hal-hal berharga yang kita temui dalam hidup dalam bentuk tulisan.
Jika ingin hidup berubah ke tingkatan yang lebih tinggi, jadilah "pecandu buku". Dengan membaca dan menulis, kita bisa memperoleh pengalaman yang mampu memantik jalan menuju peradaban yang lebih baik.
Secara umum, buku ini cukup inspiratif. Meskipun isinya lebih banyak membahas aspek spiritual islam yang barangkali tidak relate dengan semua orang. Tapi bagi pembaca muslim, buku ini barangkali akan membuka wawasan tentang pentingnya membangun semangat literasi. Jadi, bagi Sobat Yoursay yang tertarik dengan tema yang dibahas, Pecandu Buku bisa menjadi bacaan yang menarik untuk disimak!