Saat beberapa kali terjebak dalam pola yang keliru dalam mengelola uang, beberapa orang baru tersadar saat dewasa dan sudah mengorbankan banyak hal. Padahal masalah keuangan sebenarnya bisa dihindari jika seseorang telah diajarkan literasi keuangan sejak dini.
Hal itulah yang menjadi pembahasan dalam buku berjudul 'Kamu Tidak Sendirian'. Buku yang ditulis oleh Agung Setiyo Wibowo dan Gembong Suwito ini membahas tentang sharing dua ayah milenial dalam mengajarkan uang kepada anak.
Buku ini bermula dari keresahan penulis tentang besarnya angka generasi muda yang terjerat utang pinjol, tertipu investasi bodong, hingga biaya pendidikan yang semakin tidak terjangkau oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah. Oleh karena itu, memahamkan generasi muda terkait literasi keuangan yang baik adalah sebuah PR besar yang mesti dilakukan oleh orang tua.
Literasi keuangan sendiri adalah sebuah ilmu yang sangat bermanfaat untuk anak hingga ia dewasa kelak. Ironisnya, ilmu tentang hal ini tidak pernah diajarkan di bangku sekolah. Oleh karena itu, orang tua perlu mengambil peran untuk mengajarkan hal-hal tersebut agar anak-anak mereka kelak bisa menentukan pilihan yang bijak seputar keuangan.
Lantas, pada usia kapan waktu terbaik untuk mengedukasi keuangan? Jawabannya adalah sedini mungkin. Di buku ini penulis memaparkan contoh-contoh dari berbagai rentang usia saat orang tua hendak mengajarkan edukasi keuangan.
Adapun kecerdasan finansial yang ingin dicapai meliputi kemampuan untuk memahami dan mengelola urusan keuangan secara efektif. Hal ini melibatkan kombinasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan kita untuk membuat keputusan tentang sumber daya keuangan anak, baik di masa sekarang maupun di masa depan.
Dalam mengajarkan literasi finansial, kita harus terlebih dahulu memperbaiki mindset atau pola pikir tentang hal ini. Yakni menelusuri akar masalah dari keluarga, faktor yang menyebabkan seseorang buruk dalam mengatasi keuangan, hingga mengetahui tentang bagaimana konsep kecerdasan finansial yang ideal diajarkan kepada anak.
Setelah memperbaiki mindset, hal selanjutnya adalah dengan melakukan pemetaan (mapping) dengan memahami metode belajar anak secara efektif, mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengedukasi keuangan, dan mengenali fase pertumbuhan anak dan metode pengajaran di setiap fasenya.
Kemudian melangkah ke tahap perencanaan dan pengukuran (measure). Di tahap ini, orang tua hendaknya mulai merencanakan tentang bagaimana langkah menyiapkan dana pendidikan untuk anak. Dan terakhir adalah tahap modeling dengan coaching dan mentoring sebagai kuncinya. Seputar coaching dan mentoring ini, penulis menjelaskannya secara terperinci di dalam buku ini.
Secara umum, sebenarnya buku ini cukup inspiratif. Penulis menyertakan banyak sumber yang cukup kredibel serta banyak contoh yang bisa diterapkan. Tapi sayangnya, ada beberapa pembahasan yang terkesan berulang dan dipaksakan untuk dicantumkan. Seperti pada bagian memahami metode belajar anak yang hanya membahas gaya belajar dan tidak begitu bersinggungan dengan literasi keuangan secara khusus. Penggunaan judul 'Kamu Tidak Sendirian' juga bagi saya pribadi terasa tidak nyambung dengan konten keseluruhan yang dibahas oleh buku ini.
Pembahasan di bagian pertengahan buku juga terkesan bukan materi yang bisa diajarkan kepada anak, seperti finansial check up, rencana dana pendidikan, hingga dana darurat, yang lebih mengarah pada literasi keuangan untuk orang dewasa.
Tapi terlepas dari hal tersebut, pembahasan di awal dan akhir bab buku ini tetap relevan dan penulis tetap mencantumkan tips untuk mengajarkan uang pada anak.
Jadi, bagi Sobat Yoursay yang tertarik untuk mengajarkan literasi keuangan kepada anak, buku ini bisa jadi salah satu referensinya. Selamat membaca!