Ulasan
Review Film The Bell: Sajikan Elemen Horor Psikologis yang Begitu Mendalam!
The Bell: Panggilan untuk Mati merupakan film horor Indonesia yang dirilis pada 2026, disutradarai oleh Jay Sukmo dengan skenario ditulis oleh Priesnanda Dwisatria. Produksi Multi Buana Kreasindo dan Sinemata ini mengusung durasi sekitar 91 menit dan mengangkat legenda urban lokal dari Belitung, khususnya sosok Penebok—hantu tanpa kepala bergaun merah yang haus tumbal. Film ini berhasil menyegarkan genre horor nusantara dengan pendekatan yang menggabungkan elemen folklore, drama keluarga, dan ketegangan supranatural yang kuat.
Folklore Belitung yang Sangat Kuat

Cerita berawal dari sebuah lonceng keramat di Belitung yang selama ratusan tahun diyakini mampu mengurung ruh-ruh jahat, termasuk Penebok. Ketika sekelompok konten kreator muda nekat mencuri lonceng tersebut demi konten viral, mereka tanpa sengaja membebaskan entitas mengerikan itu.
Penebok, sosok hantu tanpa kepala bergaun merah, mulai menebar teror dengan memburu korbannya satu per satu, meninggalkan jejak kematian berupa kepala yang terpenggal. Danto, keturunan terakhir seorang dukun, terpaksa kembali ke kampung halamannya untuk memulihkan artefak tersebut dan menguasai ritual terlarang guna menghentikan pembantaian sebelum sembilan nyawa melayang, termasuk nyawanya sendiri.
Film ini mengeksplorasi tema tanggung jawab terhadap warisan leluhur, konsekuensi keserakahan modern, serta kekuatan mistis yang masih hidup di tengah masyarakat. Latar Belitung Timur yang indah—dengan pantai, hutan, dan desa tradisional—dikontraskan secara efektif dengan atmosfer gelap dan mencekam, menciptakan nuansa horor yang autentik dan kultural.
Review Film The Bell: Panggilan untuk Mati

Para pemeran utama termasuk Bhisma Mulia sebagai Danto, Safira Ratu Sofya, Givina Lukita, Shaloom Razade (yang memerankan sosok Penebok), serta aktor senior seperti Mathias Muchus. Penampilan mereka, khususnya Shaloom Razade dalam transformasi sebagai hantu tanpa kepala, mendapat pujian karena mampu menyampaikan aura menyeramkan yang kuat.
Sinematografi oleh Indra Suryadi memanfaatkan pencahayaan rendah, tone warna dingin, dan lokasi syuting asli di Belitung untuk memperkuat imersi penonton yang ada di bioskop. Bunyi lonceng menjadi elemen suara utama yang efektif, berfungsi sebagai pengingat konstan akan ancaman yang mendekat.
Salah satu keunggulan utama film ini terletak pada kemampuannya mengintegrasikan legenda lokal Penebok ke dalam narasi yang padu dan koheren. Berbeda dengan banyak film horor Indonesia yang kerap mengandalkan jump scare berlebihan, The Bell membangun ketegangan secara perlahan dan terukur melalui struktur alur mundur-maju yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Twist cerita yang seimbang, dipadukan dengan sentuhan drama keluarga yang mendalam, menjadikan kisah ini tidak sekadar menakutkan, melainkan juga sarat makna. Visualisasi sosok Penebok—dengan gaun merahnya yang mencolok di tengah kegelapan, gerakan yang tidak wajar, serta suara panggilan misterius—memberikan kesan ikonik yang kuat dan berpotensi menjadikannya salah satu hantu lokal paling dikenang.
Penggunaan bunyi lonceng sebagai motif horor sangat berhasil. Setiap dentingan menciptakan antisipasi yang membuatku tegang sepanjang filmya diputar. Film ini juga menghargai kearifan lokal dengan menampilkan ritual dan kepercayaan masyarakat Belitung, sehingga terasa lebih mendalam daripada horor generik.
Meski demikian, beberapa elemen alur terasa konvensional, terutama pada bagian awal yang memperkenalkan karakter konten kreator. Beberapa jump scare mungkin terprediksi bagi penggemar horor berpengalaman. Pacing di tengah film sesekali melambat saat fokus pada backstory, yang bisa mengurangi intensitas buatmu yang mencari ketegangan nonstop. Akan tetapi, kekurangan ini tidak mengurangi keseluruhan pengalaman yang solid kok.
The Bell: Panggilan untuk Mati resmi tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026. Penayangan perdana atau gala premiere telah digelar sebelumnya, dan film ini tersedia di jaringan seperti Cinema XXI, CGV, Cinepolis, dan lainnya. Dengan rating dewasa 17+, film ini aku rekomendasikan untuk penonton yang menyukai horor dengan elemen budaya kuat.
Salah satu adegan paling menakutkan terjadi saat salah seorang konten kreator sedang mereview rekaman kamera mereka di ruangan gelap. Tiba-tiba, bunyi lonceng terdengar samar-samar dari dalam video. Saat mereka memutar ulang dan memperbesar frame, sosok Penebok muncul di latar belakang rekaman—berdiri diam di balik pepohonan, gaun merahnya berkibar pelan meski tanpa angin. Kepala yang seharusnya tidak ada seolah menatap langsung ke kamera. Kemudian, di dunia nyata, lonceng berbunyi lagi dari arah koridor. Karakter utama berbalik, dan Penebok sudah berdiri tepat di belakangnya, tangannya terulur untuk memanggil kepala korban.
Transisi mulus antara rekaman dan realita, dikombinasikan dengan sound design yang mencekam, membuat adegan ini memicu reaksi merinding kuat dan shock mendadak. Adegan ini tidak hanya mengandalkan visual mengerikan tetapi juga membangun paranoia bahwa ancaman bisa muncul dari rekaman sehari-hari.
The Bell: Panggilan untuk Mati adalah kontribusi berharga bagi perfilman horor Indonesia. Dengan mengangkat folklore Belitung yang jarang dieksplorasi, film ini tidak sekadar menghibur tetapi juga melestarikan cerita rakyat. Buat kamu yang mencari pengalaman bioskop yang tegang dengan nuansa lokal autentik, film ini sangat aku rekomendasikan. Rating pribadi: 7.5/10. Tayang mulai 7 Mei 2026—siapkan mentalmu dulu, sebelum mendengar panggilan lonceng itu!