Ulasan

Andai Mas Laut Tahu: Ironi Politik Hari Ini dalam Laut Bercerita

Andai Mas Laut Tahu: Ironi Politik Hari Ini dalam Laut Bercerita
Novel Laut Bercerita. (Dok. Pribadi/Chairun NIsa)

Membaca ulang Laut Bercerita dalam edisi cetak ulang ke-100 memberikan pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan edisi 2017 yang pernah saya baca. Sampulnya tampak elegan dan estetik, menyerupai dokumen rahasia, seolah mengajak pembaca masuk ke dalam arsip sejarah yang kelam. Dari segi bahasa, edisi ini terasa lebih segar sebagai sebuah novel. Jika pada cetakan awal nuansa jurnalisme masih sangat kental mengingat Leila S. Chudori adalah jurnalis senior majalah Tempo, kali ini narasi yang disajikan terasa lebih luwes, puitis, dan mengalir.

Inti ceritanya tetap sama, pembacaan kedua ini justru membuat saya benar-benar menemukan “jiwa” novel ini, yang terletak pada syair ikonik: “Matilah engkau, maka kau akan lahir berkali-kali.” Kalimat ini menjadi napas panjang yang menghidupi keseluruhan kisah.

Sinopsis dan Pergeseran Fokus

Pada pembacaan pertama yang jujur saja didorong oleh rasa penasaran dan tren (fomo)—saya mengira novel ini hanya berfokus pada kisah para aktivis yang hilang di masa Orde Baru. Memang, cerita berangkat dari gerakan mahasiswa era 1990-an, khususnya menjelang Reformasi 1998 (sekitar 1993–1998). Aktivitas mahasiswa seperti diskusi buku-buku terlarang, aksi solidaritas terhadap konflik lahan, hingga gerakan kemanusiaan digambarkan berujung pada penculikan dan penyiksaan oleh aparat yang dengan mudah melabeli mereka sebagai kelompok subversif.

Namun, pada pembacaan kedua, fokus saya bergeser secara signifikan. Novel ini ternyata tidak hanya berbicara tentang aktivisme, tetapi juga tentang dampak emosional yang ditanggung oleh keluarga yang ditinggalkan. Terutama pada ibu dari korban. Di sinilah kekuatan novel ini terasa begitu dalam dan menyayat. Tidak mengherankan jika buku ini mampu menjangkau pembaca lintas generasi dari baby boomer hingga Gen Z bahkan hingga dicetak ulang ke 100 dan diadaptasi ke layar.

Detail di Balik Layar: Jurnal Laut Bercerita

Salah satu keunikan edisi cetak ulang ke-100 adalah adanya Jurnal Laut Bercerita yang memuat proses kreatif penulisan, termasuk coretan outline. Bagian ini justru menjadi fokus utama saya, mengingat alur cerita novel ini telah banyak diulas.

Dari jurnal tersebut, terungkap bahwa nama tokoh utama awalnya adalah “Layang Seta” sebelum akhirnya menjadi Biru Laut. Pemilihan nama dan karakter dilakukan dengan sangat detail. Inspirasi nama “Biru Laut” sendiri lahir dari perjalanan riset penulis ke Flores, ketika melihat hamparan laut yang luas dan menyimpan begitu banyak cerita.

Selain itu, penyusunan timeline menjadi aspek krusial dalam novel ini. Dengan banyaknya tokoh dan latar waktu, setiap alur disusun dengan sangat hati-hati agar tidak terjadi kerancuan. Penulis juga melakukan riset mendalam, mulai dari wawancara dengan korban untuk mendapatkan gambaran “penjara visual”, hingga mengunjungi langsung lokasi-lokasi penting seperti ladang jagung yang menjadi latar adegan krusial.

Struktur dan Dua Sudut Pandang

Awalnya, novel ini direncanakan menggunakan sudut pandang Biru Laut dan ibunya. Namun, di tengah proses penulisan, Leila merasa belum sanggup menggambarkan secara utuh kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya secara paksa. Akhirnya, sudut pandang tersebut dialihkan menjadi sudut pandang saudara.

Novel ini pun terbagi menjadi dua bagian besar:

  • Bagian Biru Laut (1991–1998)

Mengisahkan perjuangan Biru Laut sebagai aktivis mahasiswa bersama rekan-rekannya dalam organisasi Winatra. Pembaca diajak menyaksikan bagaimana mereka menjadi buronan, diculik, dan disiksa tanpa kepastian waktu maupun tempat. Tidak ada kejelasan antara pagi, siang, atau malam—semuanya menjadi kabur dalam ruang tahanan yang gelap.

  • Bagian Asmara Jati (2000–2007)

Bagian ini diisi oleh sudut pandang Asmara Jati, adik Biru Laut. Dari perspektif seorang adik, pembaca merasakan luka yang berbeda: luka kehilangan tanpa kepastian. Pencarian yang panjang dan sunyi menjadi inti emosi pada bagian ini.

Karakter dan Plot Twist yang Menyakitkan

Tokoh-tokoh dalam novel ini digambarkan dengan sangat kuat dan berlapis. Biru Laut hadir sebagai sosok yang tenang, pendiam, tetapi penuh kasih. Sementara Asmara Jati tampil sebagai karakter yang realistis dan tangguh dalam mencari kebenaran.

Tokoh lain seperti Anjani, kekasih Laut, menjadi salah satu karakter yang mengalami perubahan paling drastis. Kehilangan membuatnya nyaris kehilangan kewarasan. Menariknya, karakter ini seolah menjungkirbalikkan tafsir Ramayana: bukan Rama yang menyelamatkan Sita, tetapi justru Sita-lah yang menyelamatkan Rama sebagaimana Anjani mencoba “menyelamatkan” Laut dari kegelapan batinnya.

Novel ini juga menghadirkan plot twist yang menyakitkan. Tokoh yang semula dicurigai sebagai pengkhianat ternyata tidak bersalah, sementara sosok yang dianggap paling setia justru menjadi agen ganda. Pengkhianatan ini terasa begitu pahit karena menghancurkan kepercayaan yang telah dibangun sejak awal. Nasib setiap tokoh pun telah dirancang dengan rapi dalam tabel siapa yang kembali, dan siapa yang hilang tanpa jejak.

Refleksi dan Catatan Pribadi

Kehadiran tokoh penyair dalam novel ini mengingatkan saya pada Wiji Thukul sosok nyata yang hingga kini tidak pernah kembali. Aktivitas mahasiswa membaca buku-buku terlarang, serta aksi Kamisan di depan Istana Merdeka dengan payung hitam, menjadi simbol perjuangan yang masih menggantung hingga hari ini.

Seandainya Mas Laut tahu realitas hari ini, entah ia akan tersenyum lega atau justru semakin terluka di dasar sana. Ada begitu banyak hal gila yang ingin kita bisikkan kepadanya. Kita ingin cerita bahwa buku-buku kiri yang dulu membuatnya disiksa, kini beredar bebas menjadi best seller, bahkan industri kreatif kita sudah bisa melahirkan film seperti Pesta Babi.

Namun, di balik "kebebasan" fana itu, ironinya teramat menyengat. Kawan-kawan sehambatan Mas Laut yang dulu berteriak melawan tirani, kini justru nyaman duduk di kursi pemerintahan, menjadi bagian dari sistem yang dulu mereka kutuk. Puncaknya, sebuah lelucon sejarah yang luar biasa getir terjadi ketika Soeharto diangkat menjadi pahlawan nasional bersamaan dengan Marsinah.

Bagaimana bisa sang eksekutor dan sang korban bersanding dalam ruang penghormatan yang sama? Bangsa ini seolah sedang memainkan simulasi Animal Farm karya George Orwell: kita mengira sudah bebas setelah berhasil mengusir Tuan Jones (sang petani), padahal kita hanya berpindah ke dalam cengkeraman Napoleon dan para babi yang perlahan mulai berjalan dengan dua kaki dan meniru perilaku manusia yang dulu mereka lawan.

Pada akhirnya, membaca ulang Laut Bercerita hari ini bukan lagi sekadar merawat ingatan, melainkan meratapi kenyataan bahwa perjuangan Mas Laut telah dikhianati oleh bangsa yang amnesia.


Identitas Buku

Chudori, Leila S. Laut Bercerita. Cetakan ke-100. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2025.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda