Ulasan

Merasa Kosong di Tengah Keramaian: Membaca Rasa Sepi di The Great Gatsby

Merasa Kosong di Tengah Keramaian: Membaca Rasa Sepi di The Great Gatsby
The Great Gatsby (Dok.Pribadi/Oktavia)

The Great Gatsby adalah novel legendaris karya F. Scott Fitzgerald yang pertama kali terbit pada 10 April 1925. Berlatar New York dan Long Island pada musim panas tahun 1922, novel ini menjadi salah satu karya sastra dalam sejarah Amerika karena berhasil menangkap wajah masyarakat pada masa yang dikenal sebagai  Era Jazz.

Masa ketika pesta, alkohol, kemewahan, dan budaya populer berkembang pesat, tetapi di balik gemerlap itu tersembunyi kekosongan moral dan kehampaan hidup.

Awalnya aku mengira novel ini hanya tentang romansa klasik orang kaya. Namun semakin dibaca, The Great Gatsby ternyata jauh lebih dalam. Fitzgerald tidak hanya menulis kisah cinta tragis, tetapi juga membedah impian manusia, obsesi, kelas sosial, hingga rapuhnya American Dream.

Sinopsis Novel

Cerita dinarasikan oleh Nick Carraway, seorang pemuda yang baru kembali dari perang dan mencoba membangun karier sebagai pialang saham di New York. Nick tinggal di West Egg, kawasan orang-orang kaya baru, dan bertetangga dengan sosok misterius bernama Jay Gatsby.

Gatsby dikenal karena pesta-pesta mewahnya yang luar biasa megah. Rumahnya selalu dipenuhi tamu, musik, alkohol, dan kemeriahan yang tak pernah berhenti.

Namun anehnya, hampir tidak ada yang benar-benar mengenal Gatsby.

Ada yang bilang ia mantan pembunuh, penyelundup alkohol ilegal, bahkan mata-mata perang. Fitzgerald sengaja membangun misteri ini perlahan melalui sudut pandang Nick. Kita dibuat penasaran tentang siapa sebenarnya Jay Gatsby.

Awal cerita memang terasa lambat dan penuh percakapan detail, tetapi justru di situlah kekuatan Fitzgerald. Ia sedang membangun dunia yang tampak glamor di permukaan, namun rapuh di dalamnya.

Dan ketika misteri itu mulai terbuka, kita sadar bahwa inti dari semua kemewahan Gatsby ternyata sangat sederhana: cinta.

Gatsby mencintai Daisy Buchanan, perempuan yang pernah menjadi kekasihnya sebelum Perang Dunia I. Daisy kini telah menikah dengan Tom Buchanan, pria kaya dari kalangan “old money” atau keluarga kaya lama Amerika. Di sinilah Fitzgerald menyisipkan kritik sosial yang tajam.

Gatsby adalah simbol “new money”, orang miskin yang berhasil kaya melalui kerja keras dan cara-cara abu-abu. Sementara Tom dan Daisy mewakili kelas elit lama yang merasa lebih tinggi dan eksklusif. Meski Gatsby memiliki rumah besar, mobil mahal, dan pesta spektakuler, ia tetap dianggap tidak benar-benar setara.

Kelebihan dan Kekurangan

Fitzgerald seolah ingin mengatakan bahwa American Dream tidak pernah benar-benar adil. Kekayaan ternyata tidak selalu mampu membeli penerimaan sosial.

Yang paling tragis adalah cinta Gatsby sendiri. Ia tidak mencintai Daisy sebagaimana adanya sekarang, melainkan Daisy dalam ingatannya. Daisy telah berubah menjadi perempuan manja, apatis, dan nyaman hidup dalam privilese.

Tetapi Gatsby terus memelihara bayangan masa lalu itu. Rumah besar yang ia beli bahkan sengaja dibangun berhadapan dengan rumah Daisy, dipisahkan oleh teluk kecil dengan cahaya hijau di ujung dermaga yang menjadi simbol harapan sekaligus obsesi.

Lampu hijau itu kemudian menjadi salah satu simbol paling ikonik dalam sastra dunia.

Di balik kisah cinta tersebut, Fitzgerald juga mengkritik masyarakat Amerika tahun 1920-an yang hedonis dan kosong secara spiritual. Orang-orang datang ke pesta Gatsby hanya untuk bersenang-senang, mabuk, lalu pergi tanpa benar-benar peduli pada dirinya. Bahkan ketika tragedi terjadi, hampir semua orang menghilang begitu saja.

Novel ini menunjukkan bahwa manusia sering kali mencintai kemewahan, tetapi tidak memiliki kesetiaan.

Salah satu bagian paling menyedihkan adalah kenyataan bahwa Gatsby membangun seluruh hidupnya demi satu perempuan. Ia bekerja keras, mengumpulkan kekayaan, bahkan rela terlibat dalam bisnis ilegal demi membuktikan dirinya pantas untuk Daisy. Namun cinta yang ia perjuangkan ternyata berdiri di atas nostalgia dan ilusi.

Dan di situlah kekuatan The Great Gatsby. Fitzgerald berhasil menulis kisah cinta yang indah sekaligus menyakitkan. Kita dibuat memahami bahwa obsesi yang terlalu besar bisa menghancurkan manusia.

Menariknya, ketika pertama kali terbit pada tahun 1925, novel ini justru tidak terlalu laku. Baru setelah Fitzgerald meninggal, The Great Gatsby mulai diakui sebagai mahakarya sastra Amerika. Kini novel ini telah diadaptasi menjadi berbagai film, drama, hingga opera, termasuk film populer yang dibintangi Leonardo DiCaprio.

Pada akhirnya, The Great Gatsby bukan hanya tentang cinta Jay Gatsby kepada Daisy. Novel ini adalah cermin tentang manusia yang terus mengejar impian, meski kadang impian itu sendiri sebenarnya telah kosong sejak awal.

Identitas Buku

  • Judul: The Great Gatsby
  • Penulis: F. Scott Fitzgerald
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Penerjemah: Maria Masniari Lubis
  • Tahun Terbit: 06 November 2014
  • ISBN: 978-602-03-0880-7
  • Tebal: 208 halaman
  • Genre: Fiksi Klasik, Literatur, Roman, Tragedi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda