Ulasan

Menakar Rumitnya Konflik Domestik dalam Novel Perhaps Love

Menakar Rumitnya Konflik Domestik dalam Novel Perhaps Love
Novel Perhaps Love. (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)

Genre marriage life dengan bumbu perjodohan selalu memiliki tempat tersendiri di hati penikmat fiksi romansa. Formula klasik ini kembali diangkat oleh Dian Mariani lewat novelnya yang bertajuk Perhaps Love. Melalui buku ini, pembaca disuguhkan sebuah realitas tentang bagaimana dua orang asing dipaksa berkompromi dan berbagi ruang kehidupan yang sama di bawah ikatan pernikahan.

Secara garis besar, buku ini menonjolkan lika-liku rumah tangga karakter Melanie dan Dewa. Patah hati mendalam yang dialami Melanie di masa lalu membuatnya terpaksa menerima keputusan orang tua untuk dijodohkan. Melanie awalnya berharap kehadiran orang baru bisa menjadi obat penawar bagi lukanya.

Sayangnya, Dewa bukanlah sosok pria hangat yang pandai merangkai kata-kata romantis untuk membuai pasangannya. Alih-alih diisi oleh obrolan mendalam yang merekatkan hubungan, interaksi harian antara Melanie dan Dewa cenderung kaku, berjarak, serta dipenuhi oleh formalitas belaka. Pola komunikasi yang mirip dengan ritual basa-basi ini menciptakan jurang pemisah yang cukup lebar di antara keduanya dalam menyesuaikan diri.

Tempo Lambat dan Ujian Konsistensi Karakter

Satu hal yang cukup menonjol dari gaya penulisan novel ini adalah pemilihan alurnya yang terhitung sangat senggang. Dinamika hubungan kedua tokoh utama dibalut dalam ritme yang lambat dengan pola tarik-ulur yang intens.

Bagi penikmat cerita yang menyukai pergerakan plot yang taktis, gaya penceritaan seperti ini berisiko memicu kejenuhan di tengah buku. Fokus cerita terasa berputar-putar terlalu lama di area yang sama tanpa ada gebrakan berarti. Ditambah lagi, kehadiran konflik dari luar baru mulai disisipkan secara masif menjelang lembar-lembar akhir, padahal potensinya akan jauh lebih kaya jika dicicil sejak bab-bab awal.

Selain ritme yang lambat, sorotan tajam juga kerap tertuju pada pembawaan karakter utamanya. Dewa digambarkan layaknya prototipe pria dingin, kaku, dan serba berkecukupan dalam fiksi populer pada umumnya—seorang pria kaya raya dengan aset rumah besar. Sementara itu, sosok Melanie tampil sebagai figur wanita yang sangat labil serta kekanakan. Fluktuasi emosi Melanie seperti bersikeras menuntut perceraian namun di saat bersamaan mudah terbawa perasaan oleh perlakuan Dewa bisa menjadi bumerang yang menguras batas toleransi pembaca.

Bagi sebagian orang yang mengulas di Goodreads akumulasi dari kejengkelan terhadap kelabilan karakter ini bisa menjadi alasan utama untuk memilih Did Not Finish (DNF) sebelum berhasil menyelesaikan seluruh isi buku.

Rahasia di Masa Lalu dan Logika Cerita

Kendati memiliki beberapa catatan pada dinamika karakternya, novel setebal 352 halaman ini tetap menyimpan daya pikat yang kuat. Pola hubungan benci jadi cinta serta teka-teki masa lalu yang membayangi terbukti ampuh memancing rasa penasaran untuk terus membalik halaman demi mengetahui akhir dari rintangan pernikahan mereka.

Melalui jalinan cerita, pembaca juga diperkenalkan pada dinamika hubungan karakter lain seperti Rein dan Daniel, yang menampilkan potret dua sosok dewasa dengan prinsip cinta yang lebih matang tanpa aturan mengekang.

Namun, riak konflik tetap muncul ketika kepercayaan Rein terusik oleh rahasia Daniel. Telepon-telepon misterius yang memaksa Daniel pergi di tengah kebersamaan mereka memunculkan sebuah dilema besar. Daniel dihadapkan pada pilihan sulit antara seseorang yang sangat penting dari masa lalunya atau Rein yang baru dikenalnya tetapi berhasil membuatnya jatuh cinta.

Beberapa kejanggalan dalam logika emosi cerita juga tidak luput dari perhatian. Keputusan karakter pria untuk cepat jatuh cinta kepada pasangan baru memicu tanda tanya besar. Narasi tersebut terasa agak instan dan kurang berdasar, mengingat ia digambarkan masih didera kedukaan atau bayang-bayang masa lalu, sementara hubungan baru yang dijalani setahun belakangan pun terus diwarnai pertengkaran.

Di samping itu, aspek teknis penyuntingan juga menyisakan catatan kecil karena penulis sesekali masih keliru menggunakan kata ganti orang ketiga, di mana kata 'Kami' kerap muncul pada bagian yang seharusnya menggunakan kata 'Mereka'.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Perhaps Love menyajikan sebuah potret drama domestik yang cukup menghibur terlepas dari segala catatan kritis yang menyertainya. Di balik riak-riak konflik yang melelahkan, kisah ini membawa pesan moral yang sangat relevan untuk kehidupan nyata: bahwa komunikasi yang sehat, terbuka, dan minim gengsi adalah fondasi utama untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman fatal dalam sebuah hubungan jangka panjang.


Identitas Buku

Judul Buku: Perhaps Love
Penulis: Dian Mariani
Penerbit: Bhuana Sastra (Bhuana Ilmu Populer)
Tanggal Rilis: 06 Oktober 2025
Jumlah Halaman: 352 Halaman
Bahasa: Indonesia

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda