Ulasan

Siksaan Ingatan Abadi Segara Alam Menghadapi Diorama Lubang Buaya

Siksaan Ingatan Abadi Segara Alam Menghadapi Diorama Lubang Buaya
Novel Namaku Alam (Sumber: Gramedia)

Menemukan novel Namaku Alam di rak Perpustakaan Daerah awalnya terasa seperti sebuah ketidaksengajaan yang manis. Sampulnya yang mencolok langsung mencuri perhatian, belum lagi statusnya sebagai salah satu koleksi favorit yang selalu laris dipinjam hingga membuat saya harus rela masuk daftar tunggu.

Saat pertama kali memegangnya, saya sama sekali tidak menyangka bahwa sosok Alam yang menjadi pusat semesta di sini adalah karakter yang sama dengan novel Pulang. Baru setelah menyelami lembar demi lembar ceritanya, kesadaran itu muncul: ini adalah sebuah spin-off yang brilian.

Sang penulis, Leila S. Chudori, rupanya memilih untuk memperluas semesta Pulang menjadi sebuah trilogi, dan Namaku Alam (Bagian Pertama) hadir sebagai pembuka yang megah.

Menariknya, meskipun berstatus spin-off, Leila tidak mewajibkan pembaca untuk melahap Pulang terlebih dahulu. Buku ini mampu berdiri tegak dengan kakinya sendiri. Ia menjadi pintu masuk yang ramah namun menohok, mengajak kita mengintip ke dalam lubang gelap sejarah Indonesia di masa awal rezim Orde Baru yang represif.

Di balik geliat kreativitas Jakarta masa itu, bayang-bayang represi politik tetap menghantui siapa pun yang dianggap “berseberangan” dengan penguasa.

Sang Pahlawan dengan "Kutukan" Memori

Pusat dari narasi ini adalah Segara Alam—sebuah nama yang terasa sangat Indonesia sekaligus puitis. Ia adalah pemuda yang lahir tepat pada tahun 1965, sebuah tahun yang menjadi titik balik kelam bagi keluarganya dan sejarah bangsa.

Leila membekali Alam dengan kemampuan yang luar biasa sekaligus menyiksa: photographic memory. Kecerdasan di atas rata-rata ini justru menjadi beban hidup yang getir, karena Alam mustahil melupakan setiap detail memori traumatisnya.

Kutukan ingatan ini paling nyata menyiksanya sejak ia masih kecil. Bayangkan saja, sebagai anak dari keluarga yang dicap "kiri", Alam harus melewati siksaan batin setiap kali sekolahnya mengadakan kunjungan wajib ke Museum Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya.

Di sana, di hadapan diorama yang penuh darah dan narasi tunggal versi penguasa, Alam kecil selalu merasa terpojok, ketakutan, dan terasing. Ingatan fotografisnya merekam setiap detail visual yang mengerikan itu dengan sangat tajam, menjadikannya mimpi buruk yang terus berulang dan meneror isi kepalanya, padahal ia sendiri adalah korban dari situasi tersebut.

Latar belakang keluarganya pun digambarkan dengan sangat liris namun menyakitkan. Ayahnya, seorang wartawan yang dekat dengan Lekra, menjadi buron dan dieksekusi pada tahun 1970.

Sementara ibunya harus bertahan menghadapi siksaan mental dan pelecehan dari aparat demi membesarkan tiga anaknya sendirian.

Tumbuh dengan stigma anak "pelarian" membuat Alam akrab dengan diskriminasi sejak bernapas. Bersama sahabatnya, Bimo, dan sosok Om Aji, mereka membentuk ikatan emosional yang kuat sebagai sesama keluarga eks-tapol (tahanan politik).

Membaca novel ini seperti diajak melintasi lorong waktu ke Jakarta era 1970-an dan 1980-an. Leila berhasil menghidupkan atmosfer zaman itu; sebuah masa kontras di mana novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer harus dibaca secara sembunyi-sembunyi karena dilarang, namun di sisi lain, Jakarta memiliki oase kreativitas di Taman Ismail Marzuki (TIM) berkat dinginnya tangan Ali Sadikin.

Perlawanan Pemikiran dan Kekuatan Perempuan

Alur cerita mulai terasa memikat ketika memasuki paruh kedua, tepatnya saat Alam pindah ke SMA Putra Nusa di Jakarta Selatan. Di sana, ia menemukan wadah perlawanan pemikiran melalui kelompok ekstrakurikuler "Para Pencatat Sejarah" (PPS).

Di sinilah Alam dan kawan-kawannya mengembangkan nalar kritis terhadap narasi sejarah negeri yang dimanipulasi oleh penguasa. Leila menunjukkan kepiawaiannya menjahit rasa ingin tahu remaja terhadap sejarah kelam dengan getar percintaan anak SMA era tersebut, lengkap dengan dialek khas Jakarta-nya.

Meskipun narator utamanya adalah laki-laki, kekuatan sejati novel ini justru bertumpu pada karakter-karakter perempuannya:

  • Surti (Ibu Alam): Simbol ketangguhan luar biasa yang menjadi kepala keluarga sekaligus tameng utama bagi anak-anaknya.
  • Kenanga & Bulan: Dua kakak perempuan Alam yang memastikan rumah mereka tetap menjadi tempat bernaung yang aman.
  • Dara Ariana: Seorang karateka tangguh yang menjadi dambaan hati Alam—sosok perempuan modern yang mandiri dan menolak didikte oleh laki-laki.

Harus diakui, Namaku Alam memiliki alur yang lebih lambat dibanding Pulang karena lebih fokus pada rekaman memori dan drama kehidupan sehari-hari.

Ada bagian di mana diskusi para siswa SMA dalam kelompok PPS terasa melampaui kewajaran remaja pada umumnya. Namun, saya melihat ini sebagai upaya sengaja dari Leila untuk menumbuhkan kembali nalar kritis anak muda di tengah sistem pendidikan yang kian pragmatis.

Leila S. Chudori pernah mengungkapkan bahwa ketika jurnalisme dibungkam dan tak lagi mampu mengungkap fakta sejarah, maka sastralah yang harus maju mengemban tugas tersebut.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda