Ulasan
Ulasan Let Go: Kisah Persahabatan Remaja yang Tetap Hangat Meski Dibaca Ulang
Ada beberapa novel yang selesai dibaca lalu terlupakan. Namun, ada pula yang terus menetap di ingatan bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Bagi saya, Let Go karya Windhy Puspitadewi termasuk dalam kategori kedua. Novel yang pertama kali terbit pada 2009 melalui Gagasmedia ini menjadi salah satu bacaan favorit saya semasa SMP. Saat itu saya hanya meminjamnya dari seorang teman, tetapi ceritanya berhasil meninggalkan kesan yang begitu kuat.
Bertahun-tahun kemudian, ketika tanpa sengaja berkunjung ke toko buku, saya kembali menemukan Let Go. Kali ini novel tersebut hadir dalam edisi baru yang diterbitkan Gramedia dengan tampilan sampul yang berbeda. Jika edisi lamanya didominasi warna hijau toska dengan ilustrasi sobekan kertas dan burung-burung yang beterbangan, versi terbaru tampil lebih sederhana dengan latar putih serta ilustrasi jangkar dan burung kecil. Perubahan visual itu terasa modern, tetapi tetap mempertahankan nuansa yang tenang dan penuh makna.
Membaca ulang novel ini seperti kembali ke masa remaja. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan, seolah-olah saya sedang membuka kembali halaman-halaman kenangan. Menariknya, perasaan yang muncul masih sama seperti ketika pertama kali menyelesaikannya bertahun-tahun lalu.
Sinopsis Let Go
Cerita berpusat pada Caraka atau Raka, seorang siswa SMA yang dikenal sebagai pembuat onar. Sikapnya yang keras kepala, gemar menentang aturan, dan tidak terlalu memedulikan penilaian orang lain membuatnya harus menerima konsekuensi. Sebagai bentuk hukuman, ia diminta bergabung dalam tim pengelola Veritas, majalah dinding sekolah yang dikembangkan dalam format blog.
Di sana, Raka dipertemukan dengan tiga siswa yang memiliki karakter bertolak belakang. Ada Nathan, murid cerdas yang cenderung dingin dan sarkastis. Kemudian Nadya, sosok pemimpin yang mandiri dan terbiasa mengandalkan dirinya sendiri. Sementara Sarah adalah gadis berhati lembut yang sering kali tidak mampu menolak permintaan orang lain sehingga mudah dimanfaatkan.
Perbedaan sifat membuat kerja sama mereka tidak berjalan mulus pada awalnya. Konflik kecil hingga pertengkaran menjadi bagian dari proses mereka mengenal satu sama lain. Namun, semakin sering menghabiskan waktu bersama, hubungan mereka perlahan berubah menjadi persahabatan yang tulus.
Perjalanan itu juga menjadi titik balik bagi Raka. Berbagai rahasia, peristiwa menyakitkan, dan tantangan hidup yang mereka alami bersama membentuknya menjadi pribadi yang lebih matang. Ia belajar bahwa persahabatan, cinta, kehilangan, dan pengorbanan merupakan bagian dari proses bertumbuh. Pada akhirnya, novel ini mengajarkan bahwa mencintai seseorang terkadang berarti mampu merelakan, bukan terus menggenggam.
Yang paling saya sukai dari tulisan Windhy Puspitadewi adalah gaya berceritanya yang terasa ringan dan mengalir. Walaupun novel ini ditulis lebih dari satu dekade lalu, bahasa yang digunakan masih terasa dekat dengan pembaca masa kini. Bisa jadi karena saya sudah mengenalnya sejak remaja, tetapi saya tetap merasa dialog dan interaksi antartokohnya tidak terasa usang.
Alur ceritanya juga cukup nyaman diikuti. Memang ada beberapa bagian yang menurut saya berjalan agak lambat dan terlalu melankolis. Namun, hal tersebut tidak sampai mengurangi kenikmatan membaca secara keseluruhan. Justru percakapan antar karakter menjadi salah satu kekuatan utama novel ini.
Interaksi Raka dan Nathan adalah bagian favorit saya. Percakapan mereka terasa alami, penuh sindiran, tetapi juga menyimpan kepedulian yang perlahan tumbuh. Dinamika keduanya membuat cerita terasa hidup sekaligus memberikan banyak momen emosional yang berkesan.
Meskipun Let Go sering dikategorikan sebagai novel romantis remaja, bagi saya daya tarik utamanya bukan terletak pada kisah cintanya. Justru persahabatan antara Raka dan Nathan yang menjadi inti cerita. Hubungan mereka menunjukkan bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang menemukan cinta, melainkan juga belajar menerima kenyataan, mengikhlaskan masa lalu, dan tetap melangkah meski harus kehilangan sesuatu yang berharga.
Di sisi lain, karakter Raka juga menghadirkan banyak humor yang membuat cerita tidak terasa terlalu berat. Candaan-candaan yang ia lontarkan menjadi penyeimbang di tengah tema kehilangan dan pengorbanan yang cukup emosional.
Secara keseluruhan, Let Go adalah novel coming of age yang tetap relevan meski telah melewati banyak tahun sejak pertama kali diterbitkan. Kisah tentang persahabatan, pertumbuhan diri, dan keberanian untuk melepaskan membuat novel ini layak dibaca, baik oleh pembaca baru maupun mereka yang ingin bernostalgia dengan bacaan masa remaja. Bagi saya, pengalaman membacanya kembali membuktikan bahwa cerita yang baik tidak kehilangan pesonanya seiring waktu. Rating: 8/10.
Identitas Buku
Judul: Let Go
Penulis: Windhy Puspitadewi
Tahun Terbit: 2009 (Gagasmedia) / 2018 (Gramedia)
Jumlah halaman: 268 halaman (Gramedia)
ISBN: 978-602-03-8238-8 (Gramedia)
Bahasa: Indonesia