Ulasan

Puisi sebagai Perlawanan: Membaca Kita Adalah Jelata di Tengah Indonesia yang Gelap

Puisi sebagai Perlawanan: Membaca Kita Adalah Jelata di Tengah Indonesia yang Gelap
Buku Kita Adalah Jelata karya Okky Madasari (KPG)

Buku Kita Adalah Jelata karya Okky Madasari bukan sekadar kumpulan puisi. Ia adalah catatan luka, arsip kemarahan, sekaligus suara yang menolak tunduk pada kebisuan.

Dalam buku ini, Okky menghadirkan 100 sajak yang lahir dari keresahan sosial, ketidakadilan politik, hingga penderitaan rakyat biasa yang sering hanya menjadi angka dalam berita.

Sejak halaman pertama, saya merasa buku ini tidak ingin menjadi “indah” dalam pengertian puisi yang manis dan penuh metafora romantik. Puisi-puisinya justru terasa kasar, getir, dan kadang menampar. Namun, di situlah kekuatannya. Okky tidak sedang berusaha membuat pembaca nyaman. Nmaun, ia ingin pembaca sadar bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja di negeri ini.

Buku ini dibuka dengan Kita Adalah Affan, puisi yang mengisahkan Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas dilindas mobil taktis polisi dalam demonstrasi akhir Agustus 2025. Dari sana, atmosfer buku langsung terasa muram sekaligus marah. Okky seperti mengajak pembaca memasuki lorong gelap demokrasi Indonesia, tempat rakyat kecil terus menjadi korban, sementara penguasa sibuk merawat citra.

Pengalaman saya membaca buku ini terasa seperti duduk di tengah demonstrasi. Bising, panas, penuh amarah, tetapi juga dipenuhi harapan kecil agar sesuatu berubah. Ada sajak yang membuat saya tertawa getir karena sindirannya begitu tajam, ada pula yang membuat dada sesak karena terlalu dekat dengan kenyataan.

Saya tidak menyangka bisa cekikikan membaca puisi politik ala “fufufafa”, lalu beberapa halaman kemudian merasa marah membaca tentang ketimpangan sosial dan matinya nurani pejabat.

Salah satu puisi yang paling membekas bagi saya adalah Lima Sila:

Apa itu iman di negeri berketuhanan?
Adakah kemanusiaan di tengah keserakahan?
Apakah persatuan hanya untuk yang satu kepentingan?
Adakah kebijaksanaan dalam nafsu kekuasaan?
Apa itu keadilan sosial bagi rakyat yang terus dirundung malang?

Puisi itu sederhana, tetapi menghantam keras. Lima pertanyaan itu seperti merangkum kegelisahan banyak rakyat Indonesia hari ini. Pancasila yang selama ini dielu-elukan seketika terasa kehilangan makna ketika korupsi, ketimpangan, dan manipulasi politik terus dipertontonkan tanpa rasa malu.

Yang membuat buku ini relevan dengan zaman sekarang adalah keberanian Okky membaca realitas tanpa basa-basi. Ia menulis tentang bencana alam, doktor instan, poliTIKUS, aksi Kamisan, hingga Indonesia Gelap.

Meski beberapa puisi ditulis sejak 2026, semuanya terasa sangat dekat dengan situasi Indonesia 2025. Demokrasi yang dibungkam, kritik yang dianggap ancaman, serta rakyat yang dipaksa lelah oleh drama politik menjadi tema besar yang terus berulang.

Sajak-sajak Okky mengingatkan saya pada puisi-puisi Wiji Thukul dan W. S. Rendra. Bedanya, jika Rendra berteriak lantang di atas panggung, Okky memilih nada yang lebih tenang, lebih dingin, tetapi justru terasa menusuk. Ia tidak selalu mengobarkan amarah secara meledak-ledak. Kadang ia menyindir dengan humor, kadang dengan ironi, dan justru karena itulah puisinya terasa lebih mengendap.

Dalam salah satu sajak satirnya, Okky menulis:

Setiap ada pekik Merdeka, aku dengar bunyi kentut.
Merdeka! Tuut!
Merdeka! Tuut!

Kalimat itu vulgar, bahkan mungkin dianggap kasar. Namun, justru di sana letak keberaniannya. Okky sedang menertawakan kemunafikan bangsa yang gemar meneriakkan nasionalisme tetapi lupa pada penderitaan rakyat kecil.

Kelebihan terbesar buku ini terletak pada keberpihakannya. Okky jelas berdiri di sisi rakyat jelata. Ia tidak berusaha netral. Dalam konteks sastra perlawanan, sikap seperti itu penting karena sastra bukan hanya soal estetika, melainkan juga keberanian moral. Bahasa yang digunakan juga relatif sederhana sehingga mudah dipahami pembaca awam, tetapi tetap memiliki daya pukul emosional yang kuat.

Selain itu, perpaduan puisi dan catatan reflektif membuat buku ini terasa hidup. Puisi-puisinya tidak melayang terlalu abstrak. Semuanya membumi pada kenyataan sosial yang konkret. Dari Republik Rekayasa hingga sajak-sajak politik lainnya, pembaca diajak melihat bagaimana kekuasaan bekerja dengan manipulasi, ketakutan, dan pencitraan.

Namun, buku ini juga memiliki kekurangan. Bagi pembaca yang tidak terlalu menikmati puisi politik atau sastra kritik sosial, beberapa sajak mungkin terasa repetitif dan terlalu frontal. Ada bagian-bagian yang lebih mirip pamflet ketimbang puisi, sehingga unsur puitiknya kadang kalah oleh semangat protesnya.

Meski demikian, buku himpunan 100 sajak ini tetap penting dibaca, terutama di masa ketika kritik sering dibungkam dan rakyat dipaksa melupakan luka-lukanya sendiri. Buku Kita Adalah Jelata mengingatkan bahwa sastra masih bisa menjadi alat perlawanan, sekecil apa pun pengaruhnya. Okky tahu puisi tidak akan menurunkan harga beras atau menghentikan gas air mata, tetapi setidaknya puisi bisa menjaga nurani agar tidak mati sepenuhnya.

Di tengah gelap yang direkayasa, buku ini menjadi api kecil yang menjaga ingatan bahwa kita pernah, dan masih bisa, melawan ketidakadilan. Karena pada akhirnya, seperti yang diyakini Okky, imajinasi yang merdeka akan selalu lebih abadi daripada rezim yang pongah.

Identitas Buku

Judul: Kita Adalah Jelata

Penulis: Okky Madasari

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan: I, Oktober 2025

Tebal: 132 Halaman

ISBN: 978-623-134-447-2

Genre: Fiksi/Puisi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda