Ulasan

Corpus Uterus: Menelusuri Rahim, Trauma Sejarah, dan Perlawanan Perempuan

Corpus Uterus: Menelusuri Rahim, Trauma Sejarah, dan Perlawanan Perempuan
Novel Corpus Uterus (Dok. pribadi/Chairun Nisa)

Corpus Uterus. Dari judulnya saja sudah tercium aroma istilah medis yang tajam. Begitu pula dengan sampulnya yang secara berani menggambarkan organ reproduksi wanita, lengkap dengan ornamen bunga dan kadal di dalamnya.

Lantas, apa maksudnya? Ternyata, isinya luar biasa dan sangat dalam. Tidak heran jika novel ini menarik perhatian dewan juri Sayembara Novel DKJ tahun 2023.

Ditulis oleh Sastri Gotama, seorang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, buku ini benar-benar bicara soal rahim—rahim ibu yang paling "ibu".

Sinopsis

Cerita berpusat pada kehidupan seorang anak laki-laki bernama Panuluh (Luh) yang lahir pada tahun 1966. Meski tentang Panuluh, setiap episode hidupnya adalah fokus cerita pada kekuatan perempuan, utamanya pada rahim mereka.

Tahun 1965, Kalimah ditangkap karena suaminya seorang penulis koran yang berafiliasi dengan PKI. Kalimah yang tidak tahu-menahu soal aktivitas suaminya—yang bahkan sudah tidak pernah lagi tidur dengannya karena mencari "kehangatan rahim lain"—mengalami nasib tragis: digunduli, ditelanjangi, dan dirudapaksa oleh tentara. Tak lama kemudian, Kalimah hamil.

Segala cara dilakukan untuk menggugurkan janin yang dianggapnya sebagai "tahi" itu, namun gagal. Janin itu sangat kuat dan bengal. Akhirnya, bayi itu dibiarkan hidup hanya dengan air tajin.

Kalimah bahkan tidak sudi menyusui; bayi itu pun tahu diri, tidak lagi menangis meminta puting ibunya. Bayi itu bernama Luh, yang kelak akan menjadi ahli aborsi.

Saat balita, Luh hilang dan ibunya pun tidak mencari. Sang ibu hanya terus mengetik, mengubah namanya menjadi Mardi S, seorang penulis novel dewasa. Satu-satunya ingatan Luh tentang ibunya hanyalah kenangan samar tentang kutang merah dan cawat.

Luh kemudian ditemukan oleh Nur, wanita yang tampak solihah. Setelah sempat terkatung-katung di kantor polisi, Luh tinggal di kontrakan bersama Nur, Siti, Yanti, dan Farida. Mereka menyayangi balita Luh dengan tambahan kosa kata baru yang disimpan baik-baik oleh Luh setiap harinya.

Luh memiliki kelebihan unik: telinganya seperti kembang kol yang mampu mendengar melebihi kemampuan manusia normal, termasuk langkah semut dan debaran jantung tanpa alat medis.

Nur sendiri adalah sosok yang mempermainkan syariat. Ia menikah dengan ratusan pria, menuntut kenikmatan, lalu bercerai tanpa menghiraukan masa iddah dengan alasan hanya ingin mengetahui "kosongnya rahim" (ia selalu menggunakan pengaman dan pil KB).

Sementara Yanti adalah seorang pekerja seks di Gang Dolly. Ia kasar namun aslinya baik sekali. Yanti mati setelah dinikahi dan dicerai oleh calon polisi bernama Danang—sosok yang kelak terus mempersulit hidup wanita. Setelah Nur menghilang karena trauma diperlakukan seperti binatang oleh pria yang mengaku ahli agama, Luh pun pergi.

Obsesi Luh terhadap janin membawanya bekerja di rumah sakit. Ia selalu mengintip dokter melakukan kuret. Luh tinggal bersama Dokter Markus (alias Marcia) yang memiliki kesempurnaan indra penciuman dan sangat menyenangi aroma tubuh Luh.

Luh mempelajari teknik kedokteran, namun alih-alih bersekolah formal, ia justru terobsesi dengan jalannya sendiri. Ia kabur, membawa seperangkat alat kesehatan, membeli meja ginekologi bekas, dan mulai mencari pelanggan. Praktiknya laris manis, menggantikan Mak Tin yang dulu gagal menggugurkan dirinya.

Lalu bertemulah Luh dengan Lara, gadis manis yang begitu mencintainya. Karena kepolosan dan ketidaktahuan soal seks dari orang tuanya, Lara pun "mempersembahkan" rahimnya. Bukan dalam artian melakukan hubungan seksual diluar nikah. Melainkan rahimnya benar benar diambil Luh setelah Lara meninggal. Disimpan dalam stoples formalin, dijaga dan dibawa kemana mana. Setelah itu, Luh menghilang dan menjadi buruan polisi serta kakak Lara, Luri, seorang wartawan.

Di sisi lain, ada gadis SD korban pemerkosaan guru yang hamil. Saat melapor, Danang—polisi yang merasa suci namun impoten dalam birokrasi—mempersulit segalanya. Bahkan ketika aborsi legal sudah diperbolehkan, polisi enggan memberi izin. Berkat bantuan bidan Siti, Luh berhasil menyelamatkan janin-janin yang belum berusia 4 bulan.

Luh merasa menjadi pahlawan. Ia tidak ingin ada janin lain yang lahir dengan nasib seperti dirinya. Sudah 5.000-an janin yang diselamatkannya. Namun, polisi yang merasa dilangkahi menangkapnya.

Kesempatan ini dipakai Danang untuk menangkap Maryam (anak SD korban perkosaan) karena aborsi ilegal. Betapa mirisnya, anak kecil dan neneknya itu justru dipenjara alih-alih dilindungi. Pengacara yang membela mereka pun kalah.

Organisasi perlindungan perempuan yang dipimpin oleh Ibu Lima juga membantu kasus Siti, namun tetap kalah di persidangan. Luh mudah sekali kabur dan kembali bertemu Nur. Kini, Nur telah sukses dengan rumah singgah "Lusira" yang menghidupi wanita malang korban perkosaan hingga anaknya lahir. Setelah bertemu Nur, Luh merasa hampa. Kesenangannya sebagai pahlawan hilang seketika. Ia menjadi seperti hewan yang terluka dan ingin pulang ke pelukan rahim ibunya.

Alur ceritanya bagus sekali. Setiap potongan kisah layak diangkat menjadi novel yang lebih panjang karena setiap tokoh wanitanya punya kisah besar sendiri.

Banyak nilai yang diangkat, seperti kritik terhadap patriarki menjengkelkan sekali melihat laki-laki yang melampiaskan hasrat di mana-mana tapi tidak mau bertanggung jawab.

Laki-laki seolah bisa berhubungan sesuka hati, sementara perempuan masih harus menghadapi stigma, bahkan ada yang harus dicek selaput daranya sebelum menikah dengan polisi.

Corpus Uterus bukan hanya menengok sejarah kelam, tetapi juga membongkar bagaimana tubuh perempuan dijadikan arena kekerasan.

Sastri menegaskan bahwa hak reproduksi perempuan kerap diabaikan, dan beban terberatnya selalu ditanggung perempuan itu sendiri. Novel ini adalah pengingat akan keagungan Tuhan yang menciptakan rahim dan betapa pentingnya menjaga rahim tersebut.

Identitas Buku

Judul: Corpus Uterus
Penulis: Sastri Gotama
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Januari 2026
ISBN: 97860206883776

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda