Ulasan

Horor Komedi Rasa Tragedi: Sekawan Limo 2 Berani Angkat Isu Sosial yang Sensitif?

Horor Komedi Rasa Tragedi: Sekawan Limo 2 Berani Angkat Isu Sosial yang Sensitif?
Foto Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih (YouTube/ StarvisionPlus)

Gunung dalam film horor Indonesia biasanya cuma dipakai sebagai tempat orang tersesat, diteror hantu, lalu pulang dengan trauma. Namun, film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih mencoba melangkah lebih jauh dari formula pendakian yang isinya jumpscare. Film ini jauh lebih menarik ketika mulai membangun dunia mistisnya sendiri. Yup, dunia demit, ritual pesugihan, hingga lore Gunung Klawih perlahan dibuat semesta yang punya sejarah dan aturan hidup tersendiri.

Disutradarai Bayu Skak, film produksi Starvision bersama Skak Studios ini menjadi sekuel dari film Sekawan Limo yang sebelumnya sukses besar sebagai horor komedi lokal khas Jawa Timuran. Naskah filmnya ditulis Nona Ica dengan deretan pemain yang diisi Bayu Skak, Nadya Arina, Joshua Suherman, Benidictus Siregar, Indra Pramujito, Firza Valaza, Cak Kartolo, hingga Ning Tini yang lagi-lagi menjadi scene stealer paling mencolok sepanjang film berlangsung.

Sekilas Kisah Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih

Scene Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih (Instagram/ sekawanlimo)

Scene Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih (Instagram/ sekawanlimo)

Film berdurasi 122 menit ini kembali mempertemukan Bagas, Lenni, Juna, Andrew, dan Dicky, tiga tahun setelah kejadian mengerikan di film pertama. Awalnya, mereka hanya berkumpul dalam suasana reuni yang hangat. Namun, semuanya berubah ketika keluarga Andrew diketahui sedang berada dalam ancaman kutukan pesugihan dari Gunung Klawih. Kutukan tersebut dipercaya membutuhkan tumbal manusia dan terus menghantui garis keluarganya.

Karena nggak mau kehilangan sahabat mereka, geng Sekawan Limo akhirnya memutuskan mendaki Gunung Klawih. Namun, perjalanan itu berubah makin kacau ketika Juna tiba-tiba menghilang dan terseret ke dunia demit. Dari situlah, film mulai membuka lapisan-lapisan baru tentang ritual mistis, masa lalu kelam, sampai hubungan Gunung Klawih dengan praktik pesugihan yang ternyata jauh lebih besar daripada yang dibayangkan sebelumnya.

Menarik deh kisahnya. Lalu, bagaimana dengan performa filmnya?

Memasuki Semesta Demit Sekawan Limo 2: Gunung Klawih

Foto Para Demit Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (Instagram/ sekawanlimo)
Foto Para Demit Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih (Instagram/ sekawanlimo)

Sebab, kalau bicara horor, Sekawan Limo 2 sebenarnya nggak terlalu menyeramkan. Jumpscare-nya ada, makhluk gaibnya banyak, suasananya juga sesekali mencekam, tapi atmosfer horornya sering pecah karena humor receh yang terus dilempar hampir di setiap situasi. Kadang baru mulai tegang, tiba-tiba ada candaan absurd yang bikin penonton ketawa lagi.

Namun, anehnya, film ini lebih hidup ketika masuk ke bagian dunia demitnya.

Bayu Skak tampaknya sadar kalau kekuatan utama Sekawan Limo bukan berada pada hantunya, melainkan pada semesta chaos yang dibangun di sekitar Gunung Klawih (fiksi). Gunung ini perlahan punya mitologi sendiri. Gunung ini bukanlah sekadar gunung angker random seperti kebanyakan film horor lokal, melainkan ruang mistis yang menyimpan sejarah, ritual, dan struktur dunia gaib yang lebih luas.

Konsep dunia demit dalam film ini, misalnya, menurutku jadi salah satu elemen paling menarik. Visualisasinya memang belum sempurna, tapi cukup berhasil menciptakan rasa aneh yang bikin penasaran. Ada nuansa dunia lain yang nggak sepenuhnya gelap, melainkan terasa absurd, asing, dan nggak nyaman dengan caranya sendiri. Tata artistik dan makeup makhluk gaibnya juga terlihat jauh lebih matang dibanding film pertama.

Beberapa desain hantunya bahkan punya identitas visual yang kuat. Film ini pun membangun makhluk-makhluk gaib yang menjadi bagian dari ekosistem Gunung Klawih dengan begitu meyakinkan.

Hal lain yang cukup menarik adalah bagaimana unsur pesugihan di film ini nggak cuma dijadikan tempelan cerita. Praktik ritual mistisnya perlahan dikaitkan dengan sejarah sosial dan tragedi masa lalu. Film ini bahkan sempat menyinggung diskriminasi etnis Tionghoa dan tragedi 1998 sebagai akar konflik yang melahirkan praktik pesugihan tersebut.

Idenya sebenarnya cukup ambisius. Jarang ada horor komedi lokal yang mencoba menghubungkan dunia mistis dengan luka sosial nyata. Masalahnya, film ini kadang terlalu semangat memasukkan banyak hal sekaligus.

Di satu sisi, film ini ingin menjadi horor komedi tongkrongan khas Jawa Timuran, tapi di sisi lain juga ingin membangun lore mistis yang serius dan kompleks. Akibatnya, beberapa bagian worldbuilding terasa setengah matang karena film terlalu sering kembali ke humor absurd.

Padahal, kalau dipikir-pikir, semesta Gunung Klawih sebenarnya punya potensi besar untuk digali lebih dalam. Ritualnya bisa diperluas, sejarah gunungnya bisa dibuat lebih detail, bahkan dunia demitnya sendiri seperti tempat yang masih menyimpan banyak misteri.

Aku malah merasa bagian paling seru dari film ini bukan ketika para karakter diteror hantu, melainkan saat film mulai membuka lapisan demi lapisan tentang apa sebenarnya Gunung Klawih itu.

Siapa sebenarnya penguasa dunia demit? Kenapa Gunung Klawih bisa terhubung dengan pesugihan? Apa hubungan tragedi sosial masa lalu dengan ritual mistis tersebut? Apakah dunia demit ini memang sudah ada sejak lama atau tercipta karena dosa manusia? Sayangnya, film ini belum berani menyelam terlalu dalam ke sana.

Sebab, setiap mulai menarik, filmnya kembali sibuk melucu. Memang begitulah Sekawan Limo. Humor chaos tongkrongan tetap menjadi nyawa utamanya. Chemistry para pemain juga masih sangat kuat dan natural. Interaksi mereka bak tongkrongan asli yang isinya saling ejek tanpa henti.

Namun, sebagai worldbuilding, aku merasa Sekawan Limo 2 membuka potensi yang lebih besar daripada sekadar horor komedi receh. Film ini kayak awal dari semesta mistis yang lebih luas. Bahkan nggak menutup kemungkinan kalau Gunung Klawih nantinya bisa berkembang menjadi franchise dengan cerita berbeda, ritual berbeda, atau karakter baru yang terhubung dengan dunia demit tersebut.

Dan jujur saja, dunia demitnya lebih menarik daripada horornya sendiri. Ups.

Sobat Yoursay yakin nggak mau nonton? Buat yang sudah nonton, yuk, share pendapatmu di sini!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda