Ulasan
Makin Brutal, Film Evil Dead Burn Makin Kehilangan Jiwa Horornya?
Sejak pertama kali lahir pada 1981 melalui kreativitas Sam Raimi, franchise Evil Dead kini menjadi ikon horor yang berhasil memadukan teror dan adegan berdarah dengan cara yang kreatif. Darah selalu menjadi bagian paling dominan, pun dengan kekerasan dan sadisnya yang menyatu dengan karakter dan cerita yang membuat penonton tetap menikmati setiap kegilaannya.
Empat puluh lima tahun kemudian, ‘Evil Dead Burn’ mencoba ke arah yang lebih gila. Film produksi New Line Cinema, Ghost House Pictures, dan Warner Bros. Pictures ini disutradarai Sebastien Vanicek, yang juga menulis naskah bersama Florent Bernard. Deretan pemainnya diisi Souheila Yacoub sebagai Alice, Hunter Doohan, George Pullar, Tandi Wright, Luciane Buchanan, Erroll Shand, dan Maude Davey.
Berdurasi sekitar ±111 menit dan rilis bioskop Indonesia pada 17 Juli 2026, film ini sejak awal sudah menunjukkan tujuannya bukan membuat penonton nyaman duduk di kursi bioskop. Teror datang tanpa basa-basi, darah mengucur hampir di setiap babak, sementara tubuh manusia berubah menjadi kanvas bagi berbagai bentuk body horror yang ngeri banget.
Ceritanya kali ini berkaitan dengan Alice, yang datang ke rumah keluarga mendiang suaminya. Di rumah itu tinggal keluarga yang menyimpan banyak luka lama, hubungan yang renggang, dan konflik yang belum selesai. Situasi berubah menjadi mimpi buruk ketika belati kuno yang berkaitan dengan para Deadite kembali ditemukan. Kehadiran benda tersebut membangunkan kutukan lama, membuat anggota keluarga satu per satu kerasukan hingga berubah menjadi makhluk mengerikan yang haus darah.
Di tengah kekacauan itu, Alice bukan hanya harus bertahan hidup dari serangan para Deadite, tapi juga menghadapi kenyataan keluarga yang dia masuki ternyata sudah retak jauh sebelum iblis datang. Trauma, manipulasi, dan kebencian yang selama ini dipendam perlahan ikut meledak bersamaan dengan penyebaran kutukan.
Ngeri banget, ya?
Kekerasan yang Kini Lebih Dominan Ketimbang Horor Sejatinya

Begitulah. Kekerasan di film ini bukan lagi alat untuk membangun rasa takut. Kekerasan berubah menjadi tontonan utama.
Horor sejatinya bukan soal seberapa banyak darah yang memenuhi layar. Ketakutan lahir ketika penonton peduli terhadap karakter yang sedang berjuang. Ketika kita takut mereka mati, setiap ancaman jauh lebih mengerikan. Namun, jika hampir setiap beberapa menit film hanya berlomba menghadirkan tubuh yang tercabik, kepala yang hancur, atau tulang yang patah dengan cara semakin kreatif, rasa takut perlahan berganti menjadi kehambaran bukan?
Bisa jadi, Film Evil Dead Burn terjebak dalam tren yang belakangan semakin sering muncul di dunia horor, yaitu gore escalation. Setiap filmnya seolah-olah dituntut tampil lebih brutal dari pendahulunya. Jika film sebelumnya menampilkan satu adegan mengerikan, maka film berikutnya harus menghadirkan lima adegan yang lebih sadis. Jika dulu darah satu ember sudah dianggap mengejutkan, sekarang rasanya harus satu ruangan penuh agar dianggap layak dibicarakan.
Masalahnya, kejutan memiliki batas. Semakin sering penonton dipaksa melihat kekerasan super gila. makin cepat pula penonton ‘terbiasa’. Yang awalnya mengganggu pikiran lama-kelamaan berubah menjadi rutinitas visual. Akibatnya, film harus terus menaikkan level kekejamannya demi mendapatkan reaksi yang sama. Siklus ini nggak pernah selesai.
Padahal, ‘Evil Dead’ dulu dicintai bukan semata karena gore. Franchise ini punya keunikan yang sulit ditiru. Ada humor gelap yang muncul di tengah situasi mengerikan. Ada kreativitas dalam membangun ketegangan. Bahkan Ash Williams menjadi karakter ikonik bukan karena ia hidup di dunia paling berdarah, melainkan karena kepribadiannya mampu membuat penonton tertawa sekaligus tegang dalam waktu bersamaan.
Film Evil Dead Burn memang masih menyimpan kreativitas itu dalam beberapa adegan aksi. Salah satu yang paling berkesan adalah sequence pertarungan di dalam mobil yang memanfaatkan ruang sempit menjadi arena pembantaian yang fresh. Sebastian Vanicek menunjukkan dirinya punya kemampuan menyusun adegan aksi horor dengan ritme yang intens dan banyak ide.
Sayangnya, momen seperti itu kalah banyak dibanding parade kekerasan yang terus datang tanpa jeda. Film lebih sibuk mencari cara membunuh karakter dibanding memberi kesempatan penonton mengenal mereka lebih dalam.
Termasuk dengan konflik emosional yang tersimpan di balik rumah itu, sebenarnya bisa jadi fondasi horor psikologis yang kuat. Deadite bahkan bisa dibaca sebagai gambaran luka lama yang akhirnya meledak ketika terus dipendam. Namun, gagasan itu nggak pernah berkembang maksimal karena perhatian film lebih sering tersedot pada tubuh yang dihancurkan daripada emosi yang sedang dihancurkan.
Terlepas dari itu. Film Evil Dead Burn tetap menawarkan hiburan bagi Sobat Yoursay yang menyukai body horor dan visual pembantaian. Gimana menurut Sobat Yoursay yang sudah nonton di hari pertama rilis di jam pertama penayangan? Bagikan impresi nontonmu, yuk!