Ulasan
Ulasan Propeller One-Way Night Coach: Film yang Asyik Curhat Sendiri
Film paling jujur lahir dari kenangan yang sangat pribadi. Begitulah, ada sutradara membuat film bagaikan membuka buku harian yang memperlihatkan masa kecil, keluarga, trauma, atau bahkan momen kecil yang membentuk hidup mereka. Anehnya, meski cerita itu sangat spesifik, penonton tetap bisa ikut menangis, ikut rindu, bahkan merasa sedang melihat potongan hidup mereka sendiri.
Namun di sisi lain, ada juga film personal yang rasanya inklusif banget. Bukan karena buruk, tapi karena terlalu sibuk berbicara kepada dirinya sendiri sampai lupa mengajak penonton masuk.
Hal itulah yang begitu kentara saat aku melihat perbandingan antara Propeller One-Way Night Coach besutan John Travolta dengan film-film personal lainnya: ‘Roma, The Fabelmans, dan Aftersun’.
Film terbaru John Travolta ini menjadi debut penyutradaraannya setelah puluhan tahun jadi aktor besar Hollywood. Tayang di Apple TV mulai 29 Mei 2026, dan film berdurasi ±61 menit ini pun ditulis oleh dirinya berdasarkan buku yang dia tulis pada tahun 1997.
Cast filmnya ada Clark Shotwell sebagai Jeff, Kelly Eviston-Quinnett sebagai Helen, Ella Bleu Travolta sebagai Doris, Olga Hoffmann sebagai Liz, serta Travolta sendiri sebagai narator.
Sekilas Kisah Film Propeller One-Way Night Coach
Dikisahkan, Jeff adalah anak kecil yang sangat mencintai dunia penerbangan. Dia terobsesi suara pengumuman bandara, jadwal penerbangan, makanan di pesawat, sampai nuansa terminal yang menurutnya ajaib. Ketika ibunya memutuskan pindah ke Los Angeles, mereka menaiki pesawat baling-baling tua yang berhenti di banyak kota, alih-alih menggunakan penerbangan jet yang jauh lebih cepat.
Kisahnya mereka bak petualangan nostalgia yang hangat. Perjalanan lintas kota, suasana bandara era lama, dan rasa kagum anak terhadap ‘dunia baru’ yang seharusnya bisa menjadi pengalaman emosional yang menyenangkan.
Lalu, bagaimana dengan perjalanan mereka? Sobat Yoursay tentu akan lebih menikmatinya bila langsung nonton di Apple TV.
Film yang Lebih Banyak Curhat Ketimbang Menggaet Emosi Penonton
Itulah yang kurasakan. Film ini terlalu dekat dengan nostalgia pribadi Travolta sendiri. Jadi wajar bila aku bertanya, “Kenapa beberapa film personal rasanya universal, sementara film satu ini kayak dikunci dari dalam? Jawabannya mungkin ada pada cara film membiarkan penonton ikut merasakan emosi, bukan sekadar diberi tahu. Maka dari itu, film ini rasanya hanya bermain-main dengan diri sendiri ketimbang melibatkan penonton.
Dalam Film Roma misalnya, Alfonso Cuaron sebenarnya sedang mengenang masa kecilnya sendiri di Meksiko tahun 1970-an. Film itu sangat personal. Bahkan karakter utamanya terinspirasi dari pengasuh yang membesarkannya. Namun, Film Roma nggak kayak album keluarga eksklusif. Karena Cuaron memahami satu hal penting: detail yang spesifik bisa menjadi universal jika emosinya manusiawi. Kita mungkin nggak pernah hidup di Mexico City tahun 70-an, tapi rasa kehilangan, perubahan keluarga, dan hubungan emosional di dalam rumah bisa kita rasakan begitu dekatnya.
Hal serupa terjadi pada Film The Fabelmans buatan Steven Spielberg. Filmnya jelas merupakan refleksi hidup Spielberg sendiri. Ada anak kecil yang jatuh cinta pada kamera, konflik keluarga, sampai proses bagaimana sinema menjadi pelarian emosional baginya. Dia mengubah pengalaman pribadinya menjadi sesuatu yang bisa dipahami semua orang. Ketakutan melihat orang tua bertengkar, rasa bingung saat tumbuh dewasa, sampai keinginan melarikan diri lewat imajinasi, semuanya terasa universal.
Begitu juga dengan Film Aftersun besutan Charlotte Wells. Film ini bahkan sangat sunyi dan minimalis. Nggak banyak ledakan drama besar. Hanya liburan ayah dan anak di sebuah resort sederhana. Namun, lewat keheningan itu, penonton perlahan ikut tenggelam dalam rasa kehilangan dan nostalgia yang disuguhkan. ‘Aftersun’ nggak memaksa penonton memahami memori Charlotte Wells, melainkan memberi ruang agar penonton menghubungkan memori mereka sendiri.
Sementara Film Propeller One-Way Night Coach terasa berbeda. Film ini berkali-kali menjelaskan perjalanan Jeff sangat ajaib. Narasi Travolta terus menekankan betapa spesial pengalaman tersebut. Namun. keajaiban itu jarang hidup lewat interaksi atau emosi karakter. Aku hanya melihat nostalgia Travolta pada dunia penerbangan, tapi nggak selalu diajak ikut jatuh cinta.
Padahal visual filmnya sebenarnya mendukung. Desain bandara klasik, interior pesawat tua, dan nuansa penerbangan era lampau terlihat dibuat dengan detail dan cinta yang besar. Atmosfernya nyaman dipandang. Namun setelah visual itu lewat, emosinya nggak tertinggal di benakku.
Jeff sebagai karakter utama juga terasa kurang berkembang. Aku tahu dia mencintai pesawat, tapi aku jarang melihat sisi lain dirinya. Perjalanan lintas kota yang seharusnya membuka banyak kemungkinan cerita malah kayak serangkaian memori pendek yang datang lalu menghilang begitu saja.
Dan mungkin di situlah perbedaan terbesar antara film personal yang berhasil dengan yang nggak sepenuhnya berhasil.
Film personal yang kuat biasanya tetap menyediakan ruang kosong bagi penonton untuk masuk. Sedangkan film yang terlalu personal ibarat seseorang terus menunjuk foto-foto lama sambil berkata, “Ini penting buatku!” Tapi lupa menjelaskan kenapa orang lain juga perlu peduli.
Bukan berarti Film Propeller One-Way Night Coach adalah film tanpa hati. Hanya saja, ketulusan saja kadang belum cukup.Karena dalam sinema, kenangan pribadi baru benar-benar hidup ketika penonton bisa menemukan sedikit bagian dari diri mereka sendiri di dalamnya.
Sekian impresi dariku. Bila Sobat Yoursay penasaran bisa cek Apple TV ya. Yuk, bagikan pengalaman nontonmu. Selamat nonton ya.