Ulasan

Guru Juga Bisa Kecewa: Membaca Aib dan Martabat Karya Dag Solstad

Guru Juga Bisa Kecewa: Membaca Aib dan Martabat Karya Dag Solstad
Aib dan Martabat (Dok.Pribadi/Oktavia)

Sebuah payung yang tidak bisa dibuka mungkin terdengar sebagai masalah sepele. Namun, di tangan sastrawan Norwegia Dag Solstad, peristiwa sederhana tersebut berubah menjadi pintu masuk menuju perenungan mendalam tentang martabat, kegagalan, keterasingan, dan krisis eksistensial manusia modern.

Itulah yang ditawarkan dalam novel Aib dan Martabat (Genanse og verdighet), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Irwan Syahrir dan diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Meski hanya setebal 138 halaman, novel ini menyimpan lapisan pemikiran yang jauh lebih besar daripada ukuran fisiknya. Dag Solstad, yang dikenal sebagai salah satu sastrawan paling penting di Norwegia dan telah menerima berbagai penghargaan sastra bergengsi.

Sinopsis Novel

Elias Rukla adalah seorang guru bahasa dan sastra Norwegia berusia lima puluhan yang telah mengajar selama sekitar dua puluh lima tahun di SMA Fagerborg, Oslo. Kehidupannya tampak biasa-biasa saja. Ia memiliki seorang istri bernama Eva Linden, menjalani rutinitas harian yang teratur, dan setiap pagi berangkat mengajar seperti biasa.

Namun, di balik kehidupan yang tampak stabil tersebut, Elias menyimpan kelelahan batin yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.

Novel dibuka pada suatu Senin pagi yang mendung. Di kelas, Elias kembali mengajarkan Itik Liar (The Wild Duck), drama klasik karya sastrawan besar Norwegia, Henrik Ibsen. Seperti yang sudah sering ia alami, para murid tampak tidak tertarik. Mereka mendengarkan dengan setengah hati, sekadar menjalani kewajiban sebagai pelajar. Bahkan siswa-siswa terbaik pun tampak tidak benar-benar memahami atau menghargai karya sastra yang ia ajarkan.

Bagi Elias, pengalaman tersebut bukan hal baru. Selama bertahun-tahun ia berusaha memperkenalkan sastra dan bahasa Norwegia kepada generasi muda, tetapi ia semakin merasa pekerjaannya kehilangan makna. Di tengah masyarakat modern yang lebih menghargai hal-hal praktis dan populer, sastra klasik seolah tidak lagi memiliki tempat yang penting.

Ketika jam pelajaran berakhir dan hujan turun deras di luar sekolah, Elias hendak pulang menggunakan payung yang dibawanya. Namun, payung itu tidak mau terbuka. Ia mencoba berulang kali, tetapi gagal. Kemarahan yang selama ini terpendam akhirnya meledak. Di depan para murid dan orang-orang yang melihatnya, Elias menghancurkan payung tersebut hingga tangannya terluka dan berdarah.

Peristiwa itulah yang menjadi titik balik cerita.

Setelah meninggalkan sekolah dalam keadaan basah kuyup dan emosional, Elias tidak langsung pulang. Ia berjalan tanpa tujuan sambil merenungkan kehidupannya. Dari sinilah novel bergerak melalui berbagai kilas balik yang memperlihatkan perjalanan hidupnya sejak masa muda.

Pembaca diajak mengenal Johan Corneliussen, sahabat dekat Elias semasa kuliah di Universitas Oslo. Johan adalah sosok yang cerdas, karismatik, dan penuh ambisi intelektual. Ia menulis tesis tentang filsuf Immanuel Kant, dikenal sebagai seorang Marxis, dan diprediksi memiliki masa depan akademik yang cemerlang.

Di sisi lain, Elias selalu berada di bawah bayang-bayang sahabatnya itu. Ia memilih jalur yang lebih sederhana sebagai guru bahasa Norwegia. Meskipun pekerjaannya mulia, ia perlahan merasa hidupnya tidak berkembang seperti yang pernah ia bayangkan saat muda.

Kelebihan dan Kekurangan

Novel ini juga mengeksplorasi hubungan Elias dengan Eva Linden, perempuan yang dahulu begitu ia kagumi hingga merasa tidak mampu menggambarkan kecantikannya dengan kata-kata. Namun, seperti banyak hubungan yang telah berjalan puluhan tahun, pernikahan mereka juga mengalami perubahan. Kekaguman, harapan, dan idealisme masa muda perlahan digantikan oleh rutinitas dan jarak emosional.

Salah satu keunikan Aib dan Martabat adalah gaya penceritaannya. Hampir tidak ada dialog langsung antar tokoh. Sebaliknya, Dag Solstad memilih menjelaskan pikiran, kenangan, dan refleksi Elias secara panjang dan mendalam. Hasilnya adalah sebuah narasi yang terasa serius, tetapi juga mengandung ironi dan humor halus yang khas.

Pada akhirnya, Aib dan Martabat bukan sekadar cerita tentang seorang guru yang marah karena payung rusak. Novel ini adalah refleksi tentang manusia yang merasa kehilangan tempatnya di dunia. Tentang seseorang yang mulai mempertanyakan nilai pekerjaannya, hubungan-hubungannya, dan seluruh pilihan hidup yang pernah diambilnya.

Bagi pembaca yang menyukai karya-karya eksistensial ala Albert Camus, Thomas Bernhard, atau Milan Kundera, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang kaya dan menggugah pikiran.

Melalui kisah Elias Rukla, Dag Solstad mengingatkan bahwa terkadang krisis terbesar dalam hidup tidak datang dari peristiwa besar, melainkan dari akumulasi kekecewaan kecil yang selama bertahun-tahun dibiarkan mengendap dalam diri seseorang.

Identitas Buku

  • Judul: Aib dan Martabat 
  • Penulis: Dag Solstad
  • Penerjemah: Irwan Syahrir
  • Penerbit: Marjin Kiri
  • ISBN: 987-979-1260-57-2
  • Tahun Terbit: April 2016
  • Tebal: 138 halaman

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda