Ulasan

Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Baghdad Lewat Catatan Hamka

Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Baghdad Lewat Catatan Hamka
Di Tepi Sungai Dajlah (goodreads.com)

Di Tepi Sungai Dajlah: Kembara ke Kota Baghdad, Iraq merupakan salah satu karya perjalanan yang menarik dari Buya Hamka. Buku ini berisi catatan pengembaraan beliau ke Baghdad, Iraq, pada tahun 1950.

Meski sering dikenal sebagai ulama, pemikir, dan novelis besar Indonesia, dalam buku ini Hamka tampil sebagai seorang pengelana yang penuh rasa ingin tahu terhadap sejarah, peradaban, dan kehidupan masyarakat di negeri yang pernah menjadi pusat kejayaan Islam

Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 dan kemudian diterbitkan kembali oleh Jejak Tarbiah pada tahun 2018 sehingga dapat dinikmati oleh generasi pembaca masa kini.

Melalui buku ini, pembaca diajak menyusuri Baghdad dari sudut pandang seorang cendekiawan Melayu yang mengagumi warisan Islam.

Sejak awal perjalanan, Hamka menghubungkan kota yang dikunjunginya dengan berbagai kisah sejarah yang pernah dibacanya. Baghdad bukan hanya sebuah kota modern yang sedang berkembang pada masanya, tetapi juga kota yang menyimpan jejak peradaban besar.

Hamka mengenang kerajaan Babylonia, kisah Iskandar Masedonia, kejayaan Dinasti Abbasiyah, hingga cerita-cerita dalam 1001 Malam.

Semua kenangan sejarah itu berpadu dengan pengalaman nyata yang ia saksikan selama berada di Iraq.

Salah satu kelebihan utama buku ini adalah kekuatan narasinya. Hamka menulis dengan gaya yang hangat dan mengalir sehingga pembaca merasa seolah ikut duduk di sampingnya selama perjalanan.

Deskripsi tentang kota, masyarakat, bangunan, dan suasana Baghdad disampaikan secara hidup tanpa terasa seperti membaca buku sejarah yang berat.

Ia mampu menjembatani fakta sejarah dengan pengalaman pribadi sehingga perjalanan yang diceritakan terasa dekat dan manusiawi.

Kelebihan lain terletak pada wawasan sejarah dan budaya yang sangat kaya. Hamka tidak hanya menceritakan apa yang dilihat, tetapi juga menjelaskan latar belakang sejarah suatu tempat.

Pembaca dapat memahami bagaimana Iraq menjadi salah satu pusat peradaban dunia sejak ribuan tahun lalu. Pengetahuan yang disampaikan tidak terasa menggurui karena dibalut dengan kisah perjalanan yang menarik.

Hal ini membuat buku tersebut memiliki nilai edukatif yang tinggi sekaligus menghibur.

Keunikan buku ini terletak pada sudut pandang penulisnya. Berbeda dengan buku perjalanan modern yang sering berfokus pada destinasi wisata atau pengalaman pribadi semata, Hamka memandang setiap tempat sebagai bagian dari perjalanan panjang sejarah umat manusia dan peradaban Islam.

Ia tidak sekadar berkunjung ke Baghdad, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan hubungan antara masa lalu dan masa kini. Cara pandang seperti ini membuat buku terasa lebih mendalam dibandingkan catatan perjalanan biasa.

Selain itu, buku ini juga menjadi dokumen sejarah yang menarik karena menggambarkan Iraq pada awal dekade 1950-an.

Pembaca dapat melihat bagaimana kondisi Baghdad pada masa tersebut, jauh sebelum berbagai konflik yang kemudian dikenal dunia.

Gambaran itu memberikan perspektif berbeda tentang Iraq sebagai negeri yang kaya budaya, ilmu pengetahuan, dan sejarah.

Meskipun demikian, buku ini memiliki beberapa kekurangan. Sebagian pembaca modern mungkin merasa bahasa yang digunakan cukup klasik karena mengikuti gaya penulisan Melayu-Indonesia pada pertengahan abad ke-20.

Ada pula beberapa bagian yang berisi penjelasan sejarah panjang sehingga ritme cerita menjadi sedikit lambat bagi pembaca yang mengharapkan kisah perjalanan yang lebih dinamis.

Namun, hal tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca yang menyukai sejarah dan refleksi budaya.

Buku ini sangat cocok dibaca oleh pecinta sejarah, mahasiswa, peneliti budaya, pembaca sastra perjalanan, serta siapa saja yang ingin mengenal dunia Islam dari perspektif seorang intelektual Nusantara.

Penggemar karya-karya Hamka juga akan menemukan sisi lain sang penulis yang penuh rasa ingin tahu dan kekaguman terhadap peradaban dunia.

Karya ini membuktikan bahwa perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, melainkan cara memahami manusia, budaya, dan peradaban yang membentuk dunia hingga hari ini.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda