Ulasan
Film Nobody Loves Kay dan Sisi Gelap yang Jarang Dibahas dari Dunia Esports
Gemerlap panggung esports sering terlihat begitu memikat. Ribuan penonton bersorak, hadiah turnamen mencapai miliaran rupiah, dan para pemain profesional dipuja layaknya selebritas. Dari luar, profesi atlet esports tampaknya pekerjaan impian generasi digital. Bermain game setiap hari, mendapat penghasilan besar, lalu dikenal banyak orang.
Namun di balik semua kemewahan itu, tersimpan harga yang sering kali nggak terlihat publik. Film Nobody Loves Kay yang rilis sejak 4 Juni 2026 mengajak penonton melihat sisi tersebut.
Diproduksi Visinema, Qun Films, Folago Pictures, dan Migunani Cinema Cult bekerja sama dengan ONIC Esports, film ini menjadi debut film panjang sutradara Bernardus Raka. Naskahnya ditulis Bernardus Raka bersama Johanna Wattimena. Deretan pemain yang terlibat pun cukup menarik, mulai dari Bima Azriel sebagai Kay, Rey Bong, Aurora Ribero, Joshia Frederico, Ariyo Wahab, hingga Mian Tiara.
Mengambil inspirasi dari perjalanan atlet esports profesional, film berdurasi 117 menit ini nggak hanya berbicara tentang Mobile Legends atau kompetisi game semata. Di balik semua pertandingan yang ditampilkan, tersimpan cerita yang jauh lebih manusiawi tentang ambisi, pengorbanan, dan kesepian.
Kay adalah remaja yang tumbuh dalam kondisi ekonomi sederhana. Kedua orang tuanya bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia, sementara dirinya tinggal bersama sang eyang. Kehidupan sehari-harinya diisi dengan sekolah, membantu berjualan, dan berbagai keterbatasan yang membuat masa depannya tampak nggak semudah anak-anak seusianya.
Di tengah kehidupan yang keras tersebut, Kay menemukan tempat di mana dirinya merasa memiliki kendali atas hidupnya: Mobile Legends.
Kemampuannya sebagai Jungler membuat dirinya cepat berkembang. Perlahan, dia mulai dikenal sebagai pemain berbakat yang memiliki peluang menembus dunia esports profesional.
Masalah muncul ketika mimpinya mulai berbenturan dengan kenyataan. Prestasi di dunia game nggak sejalan dengan kehidupan akademiknya. Sang ibu menjadi orang yang paling keras menentang pilihan tersebut karena menganggap bermain game bukan jalan hidup yang menjanjikan. Di saat yang sama, hubungan Kay dengan teman-temannya mulai mengalami keretakan, konflik dalam tim bermunculan, dan tekanan untuk terus menang semakin besar.
Perjalanan yang awalnya menyenangkan perlahan berubah menjadi medan yang menguras tenaga dan emosi.
Juara Selalu Ada yang Hilang dan Dikorbankan

Film ini nggak menjual mimpi secara membabi buta kok. Banyak film olahraga atau kisah perjuangan biasanya berakhir jadi dongeng motivasi. Tokoh utama bekerja keras, lalu sukses. Penonton pulang dengan keyakinan semua mimpi pasti akan terwujud selama kita cukup gigih.
Nobody Loves Kay mengambil pendekatan cerita yang agak berbeda. Film ini memperlihatkan menjadi juara selalu ada harga dan yang hilang. Dan harga itu terkadang sangat mahal.
Salah satu pengorbanan terbesar yang ditampilkan adalah hubungan keluarga. Kay nggak lagi melawan orang tua yang jahat. Dia berhadapan dengan orang tua yang takut.
Ketakutan tersebut sangat akrab dalam kehidupan banyak anak muda Indonesia. Orang tua sering kali memandang masa depan dari sudut pandang pengalaman mereka sendiri. Ketika melihat anaknya memilih jalur yang belum mereka pahami, respons pertama yang muncul biasanya bukan dukungan, melainkan kekhawatiran.
Masalahnya, kekhawatiran yang terus menerus disampaikan sering berubah menjadi tekanan. Film ini menunjukkan bagaimana seseorang bisa merasa sendirian bahkan ketika masih memiliki keluarga yang lengkap.
Selain keluarga, persahabatan juga menjadi korban. Hal yang sering dilupakan banyak orang adalah kompetisi profesional selalu menciptakan jarak. Ketika target semakin tinggi, hubungan personal perlahan berubah menjadi hubungan yang dipenuhi persaingan.
Nggak semua teman mampu berjalan dengan kecepatan yang sama, pun dengan persahabatan yang belum tentu mampu bertahan ketika ambisi mulai mengambil alih.
Konflik semacam ini relevan bukan hanya untuk esports, tapi hampir semua bidang kompetitif. Atlet, musisi, aktor, bahkan penulis pun sering mengalami dilema yang sama. Ketika seseorang mulai fokus mengejar mimpinya, selalu ada hubungan yang berisiko tertinggal di belakang.
Bagian lain yang menurutku cukup kuat adalah tekanan mental yang harus dihadapi atlet esports. Masyarakat sering menganggap bermain game sebagai aktivitas santai. Padahal pada level profesional, tekanan yang muncul nggak kalah berat dibanding cabang olahraga lain.
Kesalahan kecil bisa membuat satu tim kalah. Satu pertandingan buruk bisa mengundang kritik dari ribuan orang di media sosial. Satu keputusan yang salah dapat menghancurkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun.
Film ini secara nggak langsung mengingatkan, kesehatan mental atlet esports sering luput dari perhatian. Publik hanya melihat kemenangan, tapi jarang membicarakan kecemasan, rasa takut gagal, atau beban ekspektasi yang terus menumpuk setiap hari.
Yang membuat film ini semakin relevan juga terkait kenyataan dunia esport esports saat ini berkembang sangat cepat. Profesi yang dulu dianggap sekadar hobi kini berubah menjadi industri bernilai miliaran dolar. Namun cara pandang masyarakat belum sepenuhnya berubah.
Banyak orang masih menganggap atlet esports nggak bekerja sungguh-sungguh karena aktivitas mereka berlangsung di depan layar. Padahal film ini memperlihatkan perjuangan mereka nggak jauh berbeda dengan atlet pada umumnya. Latihan panjang, disiplin tinggi, tekanan mental, dan pengorbanan hubungan personal menjadi bagian dari perjalanan menuju puncak.
Karena itulah aku anggap Film Nobody Loves Kay keren banget. Dan Sobat Yoursay wajib nonton di bioskop. Selamat menonton.