Ulasan
Ulasan Film Office Romance: Romansa Kantor dari Netflix yang Kurang Legit
Film komedi romantis selalu punya tempat tersendiri di hati penonton. Formula dua orang yang saling tertarik, berbagai rintangan yang memisahkan mereka, lalu perjalanan menuju kebahagiaan bersama adalah resep yang sudah dipakai berkali-kali selama puluhan tahun. Menariknya, meski formula itu terbilang klise, banyak film masih berhasil membuatnya begitu segar dan menghibur.
Namun, Film Office Romance menunjukkan formula yang sama nggak selalu menjamin hasil yang memuaskan.
Film garapan Ol Parker ini tayang di Netflix sejak 5 Juni 2026 dan mempertemukan Jennifer Lopez bersama Brett Goldstein sebagai pasangan utama. Dari atas kertas, kombinasi tersebut terdengar menjanjikan. Jennifer Lopez biasa tampil di berbagai film romantis, sementara Brett Goldstein menonjol melalui Series Ted Lasso. Dengan latar dunia korporat dan hubungan yang harus dirahasiakan, Film Office Romance sebenarnya memiliki bahan yang cukup menarik untuk menjadi tontonan ringan yang menyenangkan. Sayangnya memang masih jauh dari kata sempurna. Kok bisa?
Sinopsis Film Office Romance
Jadi begini. Kisahnya mengenali Jackie Cruz, CEO maskapai penerbangan yang sukses dan memiliki aturan ketat mengenai hubungan asmara di lingkungan kerja. Aturan tersebut dibuat demi menjaga profesionalisme perusahaan. Namun, masalah muncul ketika dia mulai dekat dengan Daniel Blanchflower, pengacara baru yang bekerja untuk perusahaan tersebut.
Kurang Legit dan Kurang Menggali Potensi
Terbayang seklise apa, kan? Konfliknya sangat biasa. Jackie harus memilih antara mempertahankan prinsip yang selama ini dipegang atau mengikuti perasaannya sendiri. Dari premis seperti ini, penonton tentu berharap akan muncul berbagai situasi lucu, romantis, sekaligus menggemaskan. Sayangnya, film ini nggak memanfaatkan potensinya.
Sejak awal, Film Office Romance berusaha terlalu keras untuk membuat penonton percaya Jackie dan Daniel ditakdirkan bersama. Banyak momen yang seharusnya natural malah terlihat dibuat-buat. Beberapa peristiwa penting muncul hanya karena naskah membutuhkannya terjadi, bukan karena berkembang secara organik dari karakter maupun cerita.
Akibatnya, hubungan Jackie dan Daniel seringkali kayak rangkaian adegan yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu ketimbang perjalanan emosional yang hidup. Aku memang bisa memahami keduanya (protagonis) saling tertarik, tapi film ini nggak selalu berhasil membuat aku ikut merasakan ketertarikan tersebut.
Masalah lain yang cukup mengganggu adalah konflik hukum dan korporat yang menjadi bagian besar cerita. Film ini berkali-kali mencoba menciptakan ketegangan melalui berbagai persoalan perusahaan, investigasi, hingga ancaman posisi Jackie sebagai CEO. Namun, sebagian besar konflik rasa-rasanya kok berlebihan dan kurang meyakinkan.
Dalam banyak rom-com, logika memang sering dikorbankan demi hiburan. Penonton biasanya bisa memaklumi hal itu selama hasil akhirnya menghibur. Namun di sini, beberapa perkembangan cerita terlalu dipaksakan sehingga mengurangi keterlibatan emosional pada kisah yang lagi berlangsung.
Yang cukup mengejutkan terkait bagaimana film ini kesulitan menentukan genrenya sendiri. Di satu sisi, Film Office Romance ingin tampil jadi romansa hangat dengan visual glamor, lokasi eksotis, dan nuansa dongeng kekinian. Namun di sisi lain, film ini juga diisi banyak humor dewasa yang cukup vulgar.
Perpaduan dua pendekatan tersebut sebenarnya bukan hal yang mustahil. Banyak film berhasil melakukannya. Namun, Film Office Romance seringkali berpindah nada secara mendadak sehingga suasana yang sudah terbangun menjadi janggal. Misalnya, kala film mulai mengarah pada momen romantis yang manis, tiba-tiba muncul humor yang nggak sejalan dengan emosi yang sedang dibangun.
Meski demikian, bukan berarti film ini gagal dalam semua aspek. Secara visual, Film Office Romance terlihat rapi. Dunia yang ditampilkan terkesan mewah, bersih, dan menyenangkan untuk dipandang. Lokasi-lokasi yang digunakan berhasil ngasih nuansa romansa kekinian.
Masalahnya, visual yang menarik dan pemain yang kharismatik nggak cukup menutupi kelemahan terbesar film ini, yaitu naskahnya. Banyak dialog datar dan kurang berkesan. Beberapa percakapan yang seharusnya menjadi momen emosional malah lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam.
Aku menonton film ini dengan harapan menemukan romansa kantor yang manis dan menghibur. Eh, yang aku temukan malah film yang hanya sesekali menyenangkan, tapi terlalu sering kehilangan arah.
Sobat Yoursay nggak yakin dengan kesan-kesan dariku? Coba deh cek Netflix dan selamat menonton, ya.