Ulasan

Mencintai dan Melarikan Diri: Pergulatan Batin dalam Cerita Cinta Enrico

Mencintai dan Melarikan Diri: Pergulatan Batin dalam Cerita Cinta Enrico
Buku Cerita Cinta Enrico karya Ayu Utami (Gramedia Digital)

”Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.” (Cerita Cinta Enrico, halaman 135).

Cinta dan sejarah yang tidak biasa berkumpul menjadi satu kesatuan dalam novel Cerita Cinta Enrico karya Ayu Utami ini. Kisah cinta yang tumbuh dari luka, pergulatan batin, dan peristiwa-peristiwa besar yang membentuk Indonesia menjadikan novel ini bukan sekadar roman, melainkan sebuah penelusuran mendalam tentang bagaimana seorang laki-laki membangun dirinya di tengah bayang-bayang ibu yang sangat dicintai sekaligus ingin dijauhi.

Membaca sejak halaman pertama, Ayu Utami membawa saya ke masa ketika Indonesia sedang bergolak. Seorang anak bernama Enrico lahir pada tahun 1958, bertepatan dengan pemberontakan PRRI di Sumatera Barat. Ia bahkan digambarkan sebagai "bayi gerilya", bayi yang harus bertahan hidup di tengah situasi perang dan ketidakpastian. Dari sini, Ayu menegaskan bahwa kehidupan Enrico tidak akan pernah bisa dipisahkan dari sejarah bangsa.

Tetapi sesungguhnya, sejarah terbesar dalam hidup Enrico bukanlah PRRI, bukan pula Orde Baru atau Reformasi. Sejarah terpenting itu adalah ibunya.

Syrnie, atau May, adalah sosok perempuan yang luar biasa. Ia cerdas, tangguh, berani, dan mencintai anaknya dengan cara yang kadang terasa berlebihan. Setelah kehilangan anak pertamanya, Sanda, May hidup dalam trauma yang mendalam. Ketakutan kehilangan kembali membuatnya menjadi ibu yang protektif, bahkan mengekang. Enrico tumbuh dalam cinta yang begitu besar, tetapi sekaligus merasakan sesak yang luar biasa.

Di sinilah kekuatan novel ini. Ayu Utami tidak menghadirkan hubungan ibu dan anak secara hitam putih. Tidak ada ibu yang sepenuhnya benar, dan tidak ada anak yang sepenuhnya salah. Enrico mencintai ibunya dengan sepenuh hati, tetapi ia juga ingin bebas darinya. Ia ingin merdeka, ingin menjadi dirinya sendiri, ingin mengambil keputusan tanpa diatur oleh rasa takut yang diwariskan ibunya.

"Orang yang tidak pernah merasa tertekan tak akan bisa menginginkan kebebasan." Kalimat yang paling menggambarkan jiwa Enrico.

Kalimat itu bukan hanya menggambarkan Enrico, tetapi juga menggambarkan banyak orang hari ini. Banyak anak yang mencintai keluarganya, tetapi pada saat yang sama ingin menentukan jalan hidupnya sendiri. Banyak orang yang ingin dekat, tetapi juga membutuhkan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Karena itulah saya merasa Cerita Cinta Enrico sangat relevan dengan zaman sekarang.

Perjalanan Enrico menuju kebebasan membawanya ke Bandung dan menjadi mahasiswa ITB. Di sana, ia menemukan dunia baru. Ia mengenal aktivisme, perlawanan terhadap rezim Orde Baru, dan mulai mempertanyakan banyak hal, tentang agama, kekuasaan, moralitas, hingga seksualitas.

Ayu Utami menuliskan semuanya dengan jujur dan berani. Ia tidak menempatkan Enrico sebagai tokoh yang sempurna. Enrico adalah laki-laki yang penuh kontradiksi. Ia menginginkan cinta tetapi takut terikat. Ia mencari kebebasan tetapi diam-diam merindukan kehangatan. Ia berusaha melupakan ibunya, namun justru mencari sosok perempuan yang mirip dengannya. Dan pencarian itu berakhir ketika ia bertemu A.

A adalah perempuan yang tidak percaya pada lembaga pernikahan, kritis terhadap budaya patriarki, dan menjunjung tinggi kebebasan individu. Hubungan mereka tidak dibangun di atas tuntutan, melainkan penerimaan. Namun, justru dalam kebebasan itulah Enrico menemukan sesuatu yang selama ini hilang, yaitu rumah.

Perlahan ia menyadari bahwa cinta bukanlah penjara. Cinta bukan pula dominasi. Namun cinta adalah ruang untuk bertumbuh, saling memahami, dan menerima luka masing-masing.

Sebagai pembaca, saya menganggap bagian inilah yang menjadi puncak novel. Di awal, novel memang berjalan cukup lambat. Bahkan ada saat ketika saya merasa kisah Enrico seperti berjalan tanpa arah yang jelas. Tetapi semakin jauh membaca, saya semakin memahami bahwa Ayu sedang membangun fondasi psikologis yang kuat.

Setiap kenangan masa kecil, setiap trauma, setiap kemarahan kepada ibunya ternyata menjadi jawaban atas sikap Enrico ketika dewasa.

Novel ini juga kaya dengan refleksi filosofis. Ayu mempertanyakan banyak hal, tentang dosa, agama, pernikahan, feminisme, dan makna menjadi manusia.

Ada satu kutipan yang menurut saya sangat kuat, "Pada akhirnya ada tiga hal ini: iman, harapan, dan kasih. Dan yang paling besar di antaranya adalah kasih."

Kalimat ini seperti menjadi ruh dari seluruh cerita. Sebab pada akhirnya, Enrico bukan sedang mencari kebebasan semata. Ia sedang mencari kasih yang mampu menerima dirinya secara utuh.

Dari sisi penulisan, Cerita Cinta Enrico merupakan salah satu karya Ayu Utami yang paling mudah dinikmati. Bahasanya puitis, tetapi tidak rumit. Narasinya mengalir dan terasa intim, seolah pembaca sedang mendengarkan pengakuan seorang sahabat dekat.

Namun, novel ini bukan tanpa kelemahan. Pada bagian akhir, pembahasan mengenai feminisme, seksualitas, dan pernikahan terasa cukup dominan sehingga sedikit mengurangi kekuatan alur cerita. Beberapa dialog juga terasa panjang dan lebih menyerupai diskusi gagasan dibanding percakapan alami.

Meski demikian, kelemahan tersebut tidak mengurangi kedalaman isi novel secara keseluruhan.

Yang paling membekas bagi saya dari Cerita Cinta Enrico bukanlah kisah cintanya, melainkan kenyataan bahwa manusia sering kali menghabiskan hidup untuk menjauh dari sesuatu, lalu menghabiskan sisa hidupnya untuk kembali kepada hal yang sama.

Enrico menjauh dari ibunya. Tetapi pada akhirnya, ia mencari cinta yang menyerupai ibunya. Ia ingin bebas. Namun ia kemudian memahami bahwa kebebasan sejati bukanlah hidup tanpa ikatan, melainkan hidup bersama seseorang yang menerima seluruh luka dan ketidaksempurnaan kita. Dan mungkin, itulah makna cinta yang sesungguhnya.

Secara keseluruhan, kelebihan terbesar novel ini terletak pada kedalaman psikologis tokohnya, perpaduan sejarah Indonesia dengan kisah personal, gaya bahasa Ayu Utami yang puitis namun mudah dipahami, serta keberaniannya membahas isu cinta, agama, feminisme, dan kebebasan secara terbuka.

Di sisi lain, beberapa bagian awal terasa lambat dan kurang menggigit. Pada bagian akhir, dominasi dialog filosofis terkadang membuat alur cerita kehilangan ritmenya dan terasa lebih seperti esai pemikiran dibanding novel.

Cerita Cinta Enrico ini tetap relevan hingga kini karena mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan modern, yakni hubungan orang tua dan anak, trauma keluarga, pencarian jati diri, kebebasan individu, kesetaraan gender, hingga pencarian makna cinta di tengah masyarakat yang terus berubah.

Identitas Buku

  • Judul: Cerita Cinta Enrico
  • Penulis: Ayu Utami
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
  • Cetakan: I, Februari 2012
  • Tebal: 256 Halaman
  • ISBN: 978-979-91-0413-7
  • Genre: Fiksi/Novel

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda