Ulasan
Melihat Pengarang Tidak Bekerja: Ketika Musuh Terbesar Penulis Adalah Dirinya Sendiri
Sebagai seseorang yang cukup akrab dengan dunia kepenulisan, saya selalu tertarik membaca buku-buku yang membicarakan proses kreatif seorang penulis. Ada rasa penasaran untuk mengetahui bagaimana pengarang yang karya-karyanya kita nikmati sesungguhnya bergulat dengan ide, kemalasan, tenggat waktu, hingga keraguan terhadap dirinya sendiri.
Buku Melihat Pengarang Tidak Bekerja yang diterbitkan Diva Press pada 2022 ini berisi dua belas esai yang lahir dari pengalaman pribadi Mahfud Ikhwan sebagai novelis dan penulis esai.
Bagi saya, buku ini bukan sekadar kumpulan catatan tentang dunia kepenulisan. Ia lebih menyerupai ruang pengakuan yang jujur, tempat seorang pengarang menceritakan kegelisahan, kegagalan, kebiasaan, hingga hal-hal remeh yang ternyata sangat menentukan lahirnya sebuah karya.
Yang paling menarik adalah cara Mahfud memperkenalkan dirinya. Ia tidak tampil sebagai penulis besar yang serba tahu. Sebaliknya, ia mengakui bahwa dirinya pernah menjadi "pecundang" dalam banyak hal sebelum akhirnya menemukan jalan hidup melalui menulis. Kejujuran seperti ini membuat saya merasa dekat dengannya. Tidak ada kesan menggurui. Yang ada justru perasaan seolah seorang kakak sedang bercerita kepada adiknya tentang perjalanan panjang yang penuh jatuh bangun.
Sejak esai pertama berjudul Hanya Penulis, saya merasa sedang diajak bercermin. Saya menyadari bahwa selama ini saya mungkin belum benar-benar menjadi penulis. Saya baru sebatas orang yang bisa menulis. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Penulis bukan sekadar menghasilkan tulisan, tetapi juga memiliki kesetiaan untuk terus kembali kepada proses, bahkan ketika tidak ada yang memuji ataupun menghargainya.
"Serupa perbuatan baik lain, menulis itu selalu sulit ditunaikan." (Halaman 38).
Kalimat sederhana itu terasa begitu kuat. Saya mengangguk setuju karena pengalaman pribadi saya pun tidak jauh berbeda. Berkali-kali saya berniat menulis setelah pulang mengajar, tetapi selalu ada saja alasan yang tampak masuk akal. Kadang merasa lelah, membuka media sosial sebentar, menonton video pendek, membuat kopi, atau sekadar ingin rebahan lima menit yang akhirnya berubah menjadi satu jam. Dari kutipan tersebut saya belajar bahwa kesulitan menulis bukan berarti saya tidak berbakat, melainkan memang begitulah watak menulis. Ia selalu menuntut perjuangan.
Mahfud juga menulis, "...selalu ada setan untuk setiap langkah menuju menulis." (Halaman 38).
Kalimat tersebut terasa lucu, tetapi sekaligus menyentil. Gangguan terbesar ternyata bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri. Godaan membuka ponsel, menunda pekerjaan, atau mencari alasan agar tidak segera menulis merupakan "setan-setan kecil" yang setiap hari menghampiri siapa pun yang ingin berkarya.
Hal lain yang sangat saya sukai adalah motto kepenulisan Mahfud yang diambil dari novel Pather Panchali karya Bibhutibhushan Banerji.
"Api dilahirkan oleh api. Kita tak dapat menyalakan obor dengan menyelupkannya di tumpukan abu yang dingin."
Menurut saya, kutipan ini mengandung makna yang sangat dalam. Penulis akan tumbuh melalui karya-karya penulis lain. Membaca bukanlah aktivitas yang menghambat proses menulis, justru menjadi bahan bakar yang menghidupkan kreativitas. Saya semakin yakin bahwa setiap buku yang selesai dibaca akan meninggalkan percikan api kecil yang suatu hari bisa menjelma menjadi tulisan baru.
Bagian lain yang membuat saya berhenti cukup lama adalah ketika Mahfud mencoba menjawab pertanyaan sederhana, apa itu sastra?
Alih-alih memberikan definisi akademis yang kaku, ia justru mengajak pembaca berkeliling dunia melalui kisah-kisah Wyasa, Walmiki, Sophocles, Grimm Bersaudara, Andersen, legenda Sunda hingga cerita rakyat Madura tentang Sakerah.
Saya menyukai cara ini. Mahfud tidak memaksa pembaca menerima satu definisi tunggal. Ia memberi ruang agar setiap orang menemukan sendiri makna sastra berdasarkan pengalaman membacanya.
Bab favorit saya adalah Pulang, Pola, dan Mood. Di sini Mahfud menjelaskan bahwa pulang bukan hanya soal kembali ke rumah, melainkan cara mengurai kebuntuan berpikir. Ia menulis bahwa pulang dapat menjadi upaya mengebor kebuntuan, menata ulang tujuan, sekaligus mengisi kembali tenaga kreatif.
Pandangan itu terasa dekat dengan pengalaman saya sendiri. Ketika pekerjaan menumpuk dan kepala mulai penuh, saya sering merasa ide justru muncul setelah pulang, beristirahat, atau berjalan santai. Saya juga sepakat dengannya bahwa pola menulis yang terlalu kaku kadang malah melahirkan kebosanan. Saya lebih menikmati proses menulis yang mengalir, tetapi tetap memiliki arah.
Bagian yang paling menghibur tentu saja bab kedelapan, saat Mahfud menceritakan mengapa pengarang sering dianggap tidak bekerja.
Ia menggambarkan satu hari yang dipenuhi aktivitas remeh, seperti menonton YouTube, membuat kopi, pergi ke pasar, memasak, membalas pesan, membaca buku teman, menulis status Facebook, hingga akhirnya waktu habis tanpa menghasilkan tulisan sesuai rencana.
Saya tertawa membacanya karena begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari. Rasanya hampir semua orang pernah mengalami situasi serupa. Bedanya hanya pada jenis pekerjaannya. Menurut saya, fenomena ini bukan hanya dialami pengarang. Guru, editor, pekerja lepas, bahkan pegawai kantoran pun bisa kehilangan satu hari produktif akibat gangguan-gangguan kecil yang tampaknya sepele.
Meski demikian, saya memahami kegelisahan Mahfud. Di mata masyarakat, bekerja sering kali identik dengan berangkat pagi, mengenakan seragam, atau duduk di kantor. Sementara seorang penulis hanya terlihat duduk, membaca, atau mengetik. Aktivitas yang sebenarnya melelahkan secara mental itu sering kali dianggap tidak menghasilkan pekerjaan.
Saya juga menangkap kritik halus terhadap budaya kita yang kurang menghargai aktivitas membaca. Orang yang membaca buku sering dianggap sedang bersantai, padahal mungkin ia sedang bekerja mengumpulkan pengetahuan. Pengalaman itu pun pernah saya rasakan.
Yang membuat buku ini terasa istimewa ialah kejujurannya. Mahfud tidak pernah berkata bahwa menulis itu mudah. Ia justru membongkar mitos yang sering beredar dalam berbagai pelatihan menulis, seperti slogan "menulis itu gampang" atau "menulis buku dalam 24 jam". Baginya, menulis adalah proses panjang yang membutuhkan bacaan, pengalaman, latihan, bahkan kegagalan.
Semakin jauh membaca, saya semakin merasa bahwa buku ini bukan hanya ditujukan bagi penulis profesional. Siapa pun yang sedang berjuang menyelesaikan pekerjaan kreatif akan menemukan dirinya di dalam halaman-halaman buku ini.
Bagi saya, kalimat yang paling layak dibawa pulang setelah menutup buku ini adalah keyakinan Mahfud bahwa nikmat terbesar seorang penulis adalah masih terus bisa menulis. Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan harapan yang besar. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang penulis bukan hanya penghargaan, royalti, atau ketenaran, melainkan kesanggupannya untuk terus kembali ke meja kerja dan menulis lagi.
Melihat Pengarang Tidak Bekerja berhasil membuat saya memahami bahwa tantangan terbesar dalam menulis bukanlah mencari ide, melainkan menaklukkan diri sendiri. Buku ini hangat, jujur, reflektif, sekaligus menghibur. Rasanya seperti mendengarkan seorang sahabat bercerita tentang perjalanan panjangnya di dunia kepenulisan tanpa sedikit pun merasa lebih hebat daripada pendengarnya.
Buku ini saya rekomendasikan kepada siapa saja yang ingin menjadi penulis, sedang kehilangan semangat berkarya, atau sekadar ingin memahami bahwa di balik setiap buku yang selesai kita baca, ada perjuangan panjang yang sering tidak pernah terlihat oleh pembacanya.
Identitas Buku
- Judul: Melihat Pengarang Tidak Bekerja
- Penulis: Mahfud Ikhwan
- Penerbit: DIVA Press
- Cetakan: I, Maret 2022
- Tebal: 128 Halaman
- ISBN: 978-623-293-651-5
- Genre: Nonfiksi/Esai