Ulasan
Mengapa The Yellow Wallpaper Dianggap Karya Sastra dengan Kritik Feminisme?
Cerita pendek klasik The Yellow Walpaper ini identik dengan kisah horor psikologisnya yang 'dark'. Di sisi lain, banyak kritikus sastra juga menganggapnya sebagai salah satu karya feminis paling berpengaruh.
Cerpen ini mengangkat isu kesetaraan gender yang dipadukan dengan kesehatan mental. Inilah mengapa cerita klasik ini tak hanya menghadirkan rasa takut dan cemas yang intens, tapi juga mengkritik peran dan posisi perempuan, terutama dalam hal kebebasan, kesehatan mental, dan hak untuk menyuarakan pendapat.
Lantas, apa yang membuat The Yellow Wallpaper begitu identik dengan feminisme? Simak penjelasannya di bawah!
Kesehatan Mental Perempuan yang Dianggap Remeh

Salah satu pesan paling kuat dalam cerita pendek ini adalah isu kesehatan mental yang sering disalah artikan. Apalagi ini dialami oleh seorang wanita yang pada zaman itu perannya sering dikesampingkan. Saat sang tokoh utama mulai menunjukkan gejala depresi pasca melahirkan, bukannya didengarkan apa kemauannya tapi malah disuruh diam dengan dalih beristirahat.
Metode pengobatan yang digunakan saat itu pun belum memadai. Rest cure contohnya yang dipakai dalam The Yellow Wallpaper ini, yang mengharuskan si pasien istirahat total dengan isolasi dari berbagai macam kegiatan, termasuk membaca dan menulis. Nyatanya, dalam cerpen ini, metode rest cure justru menekan kondisi psikologis pasien yang membuatnya berhalusinasi serta sulit membedakan dunia nyata dan khayalannya.
Suara Perempuan yang Tak Pernah Didengar

Di abad 19, saat karya sastra ini terbit, sosok perempuan masih dipandang sebelah mata, termasuk suaranya yang tak pernah diangap. Sejak awal cerita, tokoh utama digambarkan hampir tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Berbagai keputusan penting, mulai dari tempat tinggal, aktivitas sehari-hari, hingga metode pengobatan yang harus dijalani, sepenuhnya ditentukan oleh sang suami.
Dalam cerpen ini, tokoh utama tidak memiliki pilihan lain selain keputusan suaminya untuk ia melakukan rest cure di sebuah rumah terpencil.
Selain itu, ia juga dilarang melakukan apapun, termasuk membaca dan menulis, yang mana itu adalah kegiatan favoritnya. Ia pun tak punya pilihan lain karena itu adalah perintah sang suami.
Hal ini rupanya sebagai penggambaran dari penekanan dan pembungkaman perempuan untuk menyuarakan kebebasan. Perempuan tak punya cukup ruang untuk merasakan kebebasan dan merasakan dipercaya.
Wallpaper Kuning sebagai Simbol Pengekangan

Wallpaper kuning yang muncul pada judul ternyata bukan sebagai latar belaka. Wallpaper ini menggambarkan perjalanan psikologis si tokoh utama dari awal hingga berakhirnya cerita.
Seiring berkembangnya cerita, kita bisa melihat bagaimana kondisi psikologis tokoh utama dari bagaimana caranya memandang wallpaper kuning tersebut.
Awalnya, ia hanya merasa melihat ada seorang wanita yang terperangkap memandang lurus ke arahnya. Ternyata, semakin lama, hal ini membuatnya terobsesi. Setiap malam ia selalu memperhatikan hingga akhirnya ia merasa terganggu dan punya dorongan kuat untuk melepaskannya.
Di akhir cerita, akhirnya ia dengan 'brutal'nya memilih untuk membebaskan wanita di balik wallpaper kuning itu. Scene ini menunjukkan emosinya yang memuncak dan sudah tak terbendung lagi. Ending ini menjadi bagian paling ikonik dari The Yellow Wallpaper.
Selain cerita horor psikologisnya yang mencekam, cerita pendek klasik ini rupanya juga membawa pesan feminisme yang cukup kuat. Gilman menggambarkan dengan apik bagaimana lemahnya peran perempuan di abad itu. Tak punya kendali atas pilihannya, suaranya dibungkam, hingga kondisi kesehatan yang diremehkan. Tak heran jika cerpen klasik ini terus dikenang sebagai salah satu karya sastra feminis paling berpengaruh sepanjang masa.