Ulasan
Film I Am Frankelda, Masih Bisakah Kita Berimajinasi di Era Serba Instan?
Dunia animasi kembali menghadirkan kejutan menarik lewat I Am Frankelda yang tayang di Netflix sejak 12 Juni 2026. Film stop-motion asal Meksiko yang disutradarai Roy Ambriz dan Arturo Ambriz ini diproduksi Cinema Fantasma dan menjadi salah satu animasi paling unik tahun ini karena memadukan fantasi gelap, horor, petualangan, dan musikal dalam satu cerita yang kaya imajinasi. Film berdurasi sekitar 103 menit tersebut menghadirkan pengisi suara kece, di antaranya: Mireya Mendoza, Arturo Mercado Jr., dan Luis Leonardo Suarez.
Kisahnya mengikuti Francisca Imelda, penulis muda berbakat yang hidup di Meksiko abad ke-19. Berbeda dengan kebanyakan penulis perempuan pada masanya, Francisca lebih tertarik menciptakan cerita tentang monster, makhluk aneh, dan dunia-dunia misterius yang lahir dari imajinasinya. Namun, lingkungan di sekitarnya nggak melihat bakat itu sebagai sesuatu yang berharga. Tulisannya dianggap terlalu gelap, aneh, bahkan nggak pantas.
Penolakan demi penolakan membuat Francisca perlahan membentuk identitas baru yang dikenal sebagai Frankelda. Hidupnya berubah ketika dia terhubung dengan Topus Terrentus, dunia fantastis yang isinya makhluk-makhluk yang selama ini hanya hidup dalam cerita. Perjalanan bergulir membawa Frankelda pada petualangan besar yang bukan hanya menentukan nasib dunia fantasi, tapi juga membuktikan imajinasi memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan banyak orang.
Film yang Lebih Cocok Disebut Surat Cinta untuk Kamu yang Suka Berimajinasi

Setelah menonton film I Am Frankelda, ada satu hal yang terus terlintas di pikiranku. Film ini sebenarnya bukan hanya tentang monster, dunia gaib, atau petualangan fantasi. Di balik semua visual stop-motion yang memukau, film ini bak surat cinta untuk imajinasi manusia.
Dulu, cerita memiliki peran yang sangat berbeda dibanding hari ini. Ketika seseorang membaca dongeng, novel, atau mendengarkan cerita dari orang tua, sebagian besar gambar dalam kepala harus dibangun sendiri. Saat membaca kisah tentang kastil tua, hutan berhantu, atau naga raksasa, nggak ada visual yang langsung muncul di layar. Otak bekerja keras menciptakan semuanya dari nol.
Proses sederhana itu sebenarnya adalah latihan imajinasi. Setiap orang bisa membayangkan tokoh yang sama dengan cara berbeda. Setiap pembaca memiliki versi dunianya sendiri. Itulah salah satu keajaiban bercerita yang selama berabad-abad menjadi bagian penting dari perkembangan manusia.
Namun, situasinya mulai berubah. Saat ini hampir semua hal sudah disediakan dalam bentuk visual. Ketika sebuah novel populer terbit, nggak butuh waktu lama sampai muncul ilustrasi, fan art, trailer, atau bahkan adaptasi filmnya. Media sosial dihujani gambar dan video yang terus bergerak tanpa henti. Kita nggak lagi diminta membayangkan sesuatu karena gambarnya sudah tersedia di depan mata.
Teknologi memang memberikan banyak kemudahan. Nggak ada yang salah dengan itu. Masalahnya muncul ketika kemudahan tersebut perlahan membuat kita jarang menggunakan kemampuan berimajinasi.
Fenomena ini menjadi semakin menarik ketika kecerdasan buatan mulai berkembang pesat. Hari ini seseorang cukup mengetik beberapa kalimat dan dalam hitungan detik sebuah gambar fantasi yang rumit bisa langsung tercipta. Pemandangan yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam untuk digambar kini dapat muncul hampir seketika. Sekilas hal itu luar biasa.
Namun, aku juga mulai bertanya-tanya, “Apakah kemudahan tersebut membuat manusia semakin kreatif, atau membuat kita semakin jarang melatih kreativitas itu sendiri?”
Pertanyaan tersebut sangat relevan dengan perjalanan Frankelda dalam film ini. Dia adalah penulis yang hidup dari imajinasinya. Dunia-dunia fantastis yang dia ciptakan lahir dari proses berpikir, membayangkan, dan merangkai ide secara perlahan. Nggak ada jalan pintas. Semua berasal dari keberanian untuk membiarkan pikirannya menjelajah tempat-tempat yang belum pernah dilihat orang lain.
Sementara itu, dunia digital saat ini sering mendorong kita untuk bergerak semakin cepat. Konten dikonsumsi dalam hitungan detik. Video berdurasi beberapa menit dianggap terlalu panjang. Bahkan perhatian manusia kini menjadi komoditas yang diperebutkan berbagai platform.
Akibatnya, ruang untuk berimajinasi semakin sempit. Kita lebih sering menerima gambar daripada menciptakan gambar dalam kepala sendiri. Kita lebih sering menonton ketimbang membayangkan. Bahkan lebih sering menggulir layar ketimbang tenggelam dalam cerita.
Bukan berarti teknologi adalah musuh imajinasi. Sebaliknya, teknologi bisa menjadi alat yang luar biasa untuk mendukung kreativitas. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana kita menggunakannya. Jika semua proses kreatif digantikan kecepatan dan kemudahan, ada risiko kemampuan dasar manusia untuk berkhayal, membangun dunia, dan menciptakan cerita perlahan akan melemah.
Di sinilah film I Am Frankelda begitu penting. Film ini kayak ngasih pesan berupa surat cinta yang isinya: imajinasi bukan sekadar hiburan. Imajinasi adalah kemampuan yang memungkinkan manusia menciptakan karya seni, menemukan solusi, melahirkan inovasi, bahkan membangun masa depan.
Tanpa imajinasi, cerita nggak akan pernah lahir. Tanpa cerita, banyak ide besar mungkin nggak pernah ditemukan.
Melalui perjalanan Frankelda, aku merasa film ini sedang mengajak diriku untuk kembali menghargai proses membayangkan sesuatu. Untuk sesekali berhenti dari banjir visual yang datang setiap detik dan memberi ruang pada pikiranku untuk menciptakan dunia sendiri. Senang banget deh bisa nonton film I Am Frankelda di Netflix!