Ulasan

Review Bumi Manusia Extended: Versi yang Akhirnya Lebih Utuh dan Emosional

Review Bumi Manusia Extended: Versi yang Akhirnya Lebih Utuh dan Emosional
Foto Bumi Manusia Extended (KlikFilm)

Bumi Manusia sebenarnya nggak kekurangan cerita. Masalahnya adalah cerita yang terlalu besar itu, dulu dipaksa jadi film berdurasi sekitar tiga jam. Hasilnya, kita mendapatkan film yang secara visual megah, pemainnya kuat, kisah cintanya emosional, tapi beberapa bagian penting dari dunia Pramoedya Ananta Toer cuma lewat sekilas.

Tujuh tahun setelah versi bioskopnya tayang, Falcon Pictures akhirnya menghadirkan kembali Bumi Manusia Extended dalam format enam episode eksklusif di KlikFilm pada 5 Maret 2026. Versi ini masih disutradarai Hanung Bramantyo dan diproduseri Frederica, dengan Falcon Pictures sebagai rumah produksinya. Enam bagiannya diberi judul Minke & Annelies, Nyai Ontosoroh, Keluarga Minke, Kematian Herman Mellema, Hari Pernikahan, dan Perjuangan Minke.

Pemain utamanya tetap Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, Mawar Eva de Jongh sebagai Annelies, dan Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh. Di sekeliling mereka ada Giorgino Abraham sebagai Robert Mellema, Bryan Domani sebagai Jan Dapperste, Jerome Kurnia sebagai Suurhoof, Donny Damara sebagai ayah Minke, Ayu Laksmi sebagai ibu Minke, Dewi Irawan sebagai Mevrouw Telinga, Chew Kin Wah sebagai Babah Ah Tjong, Kelly Tandiono sebagai Maiko, Christian Sugiono sebagai Kommers, serta Hans de Kraker sebagai Jean Marais.

Cerita dasarnya tentu masih sama. Minke adalah pemuda pribumi Jawa yang mendapat pendidikan Eropa dan mulai mempertanyakan posisi dirinya dalam masyarakat kolonial. Hidupnya berubah ketika bertemu Annelies Mellema, perempuan Indo-Belanda yang tinggal bersama ibunya, Nyai Ontosoroh.

Hubungan Minke dan Annelies kemudian membawa Minke masuk ke dunia yang jauh lebih rumit dari kisah cinta biasa. Minke bertemu keluarga Mellema, melihat bagaimana perempuan pribumi bisa bertahan dalam sistem yang merendahkannya, dan mulai memahami pendidikan yang dia dapatkan ternyata juga membawa tanggung jawab.

Nyai Ontosoroh menjadi salah satu sosok terpenting dalam perjalanan tersebut. Sebagai perempuan yang sejak muda dijadikan nyai oleh Herman Mellema, dia hidup dalam posisi yang secara hukum dan sosial sangat lemah. Dan pengalaman itu, membentuknya menjadi perempuan mandiri, cerdas, dan berani mengambil keputusan.

Sementara itu, konflik keluarga Mellema semakin rumit. Kematian Herman Mellema membuka persoalan warisan dan hukum kolonial. Annelies yang secara biologis memiliki hubungan dengan Herman ternyata nggak otomatis memiliki kekuasaan atas hidupnya sendiri. Ketika hukum kolonial masuk, cinta Minke dan Annelies berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar: sistem yang sejak awal memang nggak dirancang untuk memperlakukan mereka sebagai manusia yang setara.

Dan di sinilah Bumi Manusia Extended lebih menarik ketimbang cuma dipanjang-panjangkan durasinya. Kok, bisa?

Versi Extended Menampilkan Cerita yang Lebih Utuh dan Lengkap

Adegan dalam Bumi Manusia Extended (KlikFilm)
Adegan dalam Bumi Manusia Extended (KlikFilm)

Karakter Jean Marais, misalnya, mendapat perhatian lebih besar. Hubungannya dengan Minke yang sebelumnya banyak terpangkas kini dikembalikan. Padahal Jean bukan sekadar karakter tambahan. Kehadirannya membantu memperlihatkan bahwa dunia Minke sebenarnya jauh lebih luas ketimbang sebatas berhubungan dengan Annelies. Ada percakapan mengenai pengalaman, identitas, kolonialisme, dan cara seseorang memandang dunia dari posisi yang berbeda.

Begitu pula persoalan kelas sosial. Bumi Manusia bukan cuma cerita tentang Belanda melawan pribumi. Struktur sosialnya jauh lebih berlapis. Ada Belanda totok, Indo, bangsawan pribumi, priyayi, rakyat biasa, hingga kelompok pekerja yang berada di posisi paling bawah. Hanung sendiri menyebut persoalan ras, kultur, geopolitik, dan hubungan antar kelas sebagai bagian yang sebenarnya kuat dalam novel tetapi dulu harus dipadatkan.

Format enam episode akhirnya memberikan keuntungan yang nggak bisa didapat film bioskop. Ketika bagian pertama hanya fokus pada Minke dan Annelies, kita punya kesempatan mengenal hubungan mereka tanpa harus buru-buru mengejar konflik berikutnya. Ketika masuk ke Nyai Ontosoroh, cerita mulai bergeser dari romansa menuju sejarah seorang perempuan yang membentuk dirinya sendiri. Lalu Keluarga Minke membawa kita masuk ke persoalan keluarga, pendidikan, bangsawan, dan posisi Minke sebagai pribumi terpelajar.

Setelah itu cerita semakin gelap lewat kematian Herman Mellema. Konflik yang awalnya personal berubah menjadi persoalan hukum. Pernikahan Minke dan Annelies kemudian bukan menjadi akhir bahagia, melainkan pintu menuju tragedi yang lebih besar. Dan bagian terakhir, Perjuangan Minke, akhirnya menempatkan Minke pada posisi yang sejak awal perlahan dibangun: manusia yang mulai sadar cinta saja nggak cukup untuk melawan sistem yang nggak adil.

Menurutku, inilah alasan Bumi Manusia Extended begitu penting. Bukan karena film lamanya jelek. Sebaliknya, visualnya megah, produksinya serius, dan Sha Ine Febriyanti memberikan salah satu penampilan paling kuat sebagai Nyai Ontosoroh. Versi bioskop juga berhasil membawa Bumi Manusia ke penonton yang mungkin sebelumnya nggak pernah membaca novelnya. Sayangnya, film itu seperti sedang berlari mengejar terlalu banyak hal sekaligus.

Nah, versi Extended akhirnya memberi cerita ini sesuatu yang dulu nggak dimilikinya. Yakni waktu dalam bentuk durasi yang lebih panjang. 

Dan untuk cerita sebesar Bumi Manusia, waktu bukan kemewahan. Waktu adalah kebutuhan. Karena Pramoedya sebenarnya nggak cuma sedang menulis kisah dua orang yang jatuh cinta. Dia sedang bicara tentang manusia yang hidup dalam sistem yang menentukan siapa yang boleh dihormati, siapa yang boleh memiliki, siapa yang dianggap beradab, dan siapa yang sejak lahir sudah ditempatkan lebih rendah.

Minke dan Annelies memang pusat emosinya. Namun, Nyai Ontosoroh adalah jantungnya. Dan kolonialisme adalah tembok besar yang membuat keduanya nggak pernah bebas.

Kalau versi yang tayang di bioskop pada 2019 kayak novel besar yang diringkas menjadi film, versi Extended ibarat cerita yang akhirnya diberi waktu lebih panjang untuk menarik napas, lalu menjelaskan dirinya sendiri. Dan bila Sobat Yoursay penasaran karena belum pernah menontonnya, kamu bisa langsung cek KlikFilm, ya. Selamat menonton. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda