Ulasan

Socrates di Meja Tongkrongan, Mengapa Banyak Belajar Bikin Pendiam?

Socrates di Meja Tongkrongan, Mengapa Banyak Belajar Bikin Pendiam?
Dunning-Kruger Effect. (Gemini Ai)

Gerbang dunia perkuliahan sering kali bertindak sebagai katalisator yang mengubah lanskap berpikir seorang manusia secara signifikan. Kita tentu sering menyaksikan bagaimana seorang mahasiswa baru, yang ketika masih duduk di bangku sekolah tergolong sebagai individu yang apatis, tiba-tiba bertransformasi menjadi sosok yang teramat sibuk pasca-mengenakan jaket almamater. Mereka mendadak mengasingkan diri ke dalam riuhnya organisasi internal, menguras energi dalam Latihan Kepemimpinan (LK), hingga mengonsumsi rentetan forum diskusi ilmiah tanpa ada satu pun yang terlewatkan. Ada letup semangat yang meluap-luap; sebuah rasa ingin tahu khas anak muda yang merasa baru saja menemukan kunci rahasia dari dunia akademisnya.

Namun, sebuah fenomena psikologis yang menarik sekaligus menggelitik kerap kali muncul ke permukaan setelah serangkaian doktrinasi pelatihan itu selesai dieksekusi. Begitu melangkah keluar dari ruang forum diskusi, banyak mahasiswa merasa isi kepala mereka mendadak penuh sesak oleh tumpukan pengetahuan elitis yang tidak dimiliki oleh masyarakat awam. Di titik inilah, rasa percaya diri intelektual (intellectual confidence) mereka melonjak drastis ke tingkat yang paling ekstrem. Mereka merasa telah menggenggam sebuah pengalaman eksklusif yang secara kasta memisahkan derajat berpikir mereka dari teman-teman sebaya di luar pagar kampus.

Dampak sosiologis yang paling kentara dari sindrom ini biasanya akan teruji di ruang publik paling komunal: yakni meja tongkrongan warung kopi (warkop). Di bawah pendaran lampu warkop, mahasiswa dengan tipikal seperti ini hampir selalu mengambil peran sebagai dirigen yang memantik sumbu perdebatan. Mereka dengan penuh percaya diri siap membedah topik apa saja tanpa kenal ampun; mulai dari konstelasi politik kontemporer, sengkarut isu sosial, doktrin ajaran agama, hingga diskursus metafisika mengenai eksistensi Tuhan. Setiap argumen dilontarkan dengan intonasi suara yang menggelegar dan penuh ambisi teoritis, semata-mata demi mendemonstrasikan superioritas pemikiran kepada orang-orang di sekitarnya yang mereka beri label sepihak sebagai kaum yang berpikir "sederhana".

Ironisnya, di tengah pusaran debat kusir yang melelahkan tersebut, substansi kebenaran objektif dari argumen yang disampaikan sering kali bukan lagi menjadi menu utama. Indikator keberhasilan yang paling sakral bagi mereka hanyalah seputar bagaimana cara memenangkan perdebatan, mematikan logika lawan bicara, dan tampil sebagai sosok yang paling berpengetahuan di hadapan lingkaran pertemanan.

Anatomi Dunning-Kruger Effect dan Puncak Gunung Kebodohan

Dalam khazanah psikologi kognitif, fase pubertas intelektual yang penuh gejolak ini diidentifikasi sebagai Dunning-Kruger Effect. Fenomena ini merupakan sebuah bias meta-kognitif atau galat berpikir, di mana seseorang yang baru saja mempelajari permukaan dasar dari suatu bidang ilmu justru merasa telah menguasai seluruh hakikat pengetahuan tersebut secara paripurna. Dalam representasi grafik teorinya, titik awal yang berbahaya ini secara satir dijuluki sebagai Peak of Mount Stupid (Puncak Gunung Kebodohan).

Ketika seorang manusia berada di fase ekstrim Mount Stupid, keterbatasan dan kedangkalan ilmu yang dimilikinya sama sekali belum tertangkap oleh radar kesadarannya sendiri. Akibatnya, ia memelihara delusi bahwa realitas dunia ini bekerja secara sangat sederhana, sesederhana satu-dua lembar buku yang baru selesai dibacanya, atau sewarna dengan beberapa gagasan tokoh yang baru didengarnya dalam seminar kemarin sore. Mahasiswa dalam fase ini menjelma sebagai "singa panggung" di meja tongkrongan; mengaum dengan sangat keras untuk menutupi fakta logis bahwa ruang dalam kepala mereka sebenarnya masih kosong melompong.

Beruntung, bergulirnya waktu dan proses pendewasaan dalam berpikir adalah sepasang guru yang paling sabar dalam mendidik manusia. Seiring dengan bertambahnya angka semester, ketika lembar buku yang dilahap kian menumpuk dan ragam paradigma berpikir dari berbagai mazhab mulai dijumpai di ruang kelas, api semangat yang semula berkobar destruktif itu secara perlahan akan mereda dengan sendirinya. Fase agitasi yang penuh letupan ego sektoral itu biasanya akan bertransisi menuju sebuah fase baru yang teramat tenang, datar, komparatif, dan cenderung pendiam.

Perubahan drastis ini sama sekali bukan menandakan bahwa sang mahasiswa sedang kehilangan identitas dirinya, apalagi mengalami kemerosotan inteligensi hingga dianggap bodoh. Sebaliknya, sikap diam yang dipilih oleh seseorang di tengah hiruk-pikuk kelompok pasca-banyak belajar justru merupakan sebuah sinyal pencerahan spiritual-intelektual. Ia mulai menyadari bahwa apa yang ia pelajari selama ini hanyalah sekerat daun di pucuk pohon pengetahuan, bukan akarnya yang menancap jauh ke dalam bumi. Di balik langit kesombongan yang sempat ia banggakan, ternyata terhampar ruang langit lain yang tak terbatas luasnya.

Pendekatan Maieutika: Menjadi Socrates di Sisi Meja Warkop

Fase mendatar dan kontemplatif ini menjadi penanda sahih bahwa seseorang sedang meniti anak tangga menuju Lereng Pencerahan (Slope of Enlightenment) dan mulai mempraktikkan kerendahan hati intelektual (intellectual humility). Mereka bermutasi menjadi sosok "Socrates di tempat nongkrong".

Filsuf agung dari Athena, Socrates, pernah menorehkan maksim legendaris berbahasa Latin: "Scio me nihil scire" yang memuat arti mendalam, "Aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa." Ketika seorang manusia bersedia menyelami samudra ilmu secara lebih fundamental, ia akan dihadapkan pada kenyataan linier bahwa wilayah ketidaktahuannya justru kian membentang luas tanpa tepi. Pengetahuan tidak lagi dipandang secara sempit sebagai sebuah perkakas atau palu hakim untuk menghukum dan menghancurkan pemikiran orang lain, melainkan sebagai sebuah ruang komunal yang maha besar, kompleks, dan penuh dengan rahasia yang musti dihormati.

Pada momentum kematangan inilah, metodologi merespons lingkungan sekitar juga mengalami revolusi total. Ketika duduk di meja tongkrongan, mereka hanya akan angkat bicara untuk menjawab hal-hal yang sesuai dengan koridor pengetahuan objektif yang valid, dilepaskan dari jerat ego pribadi atau hasrat primitif untuk menghakimi. Mereka bahkan mampu menatap orang-orang yang sedang bertengkar urat leher berebut kebenaran di depannya dengan tatapan penuh pengertian dan empati. Mengapa? Karena mereka sadar bahwa setiap manusia memiliki arloji waktunya masing-masing dalam menempuh perjalanan menuju puncak keangkuhannya sebelum nantinya jatuh terhempas.

Lantas, bagaimanakah cara paling elegan untuk berhadapan dengan rekan tongkrongan yang saat ini masih terjebak di Puncak Gunung Kebodohan tersebut? Daripada kita meresponsnya dengan luapan emosi egoistik yang hanya akan menyeret diskusi ke dalam labirin tanpa ujung, penggunaan metode bertanya ala Socrates—atau yang dikenal sebagai metode Maieutika—bisa menjadi opsi yang teramat jitu.

Kita cukup mengajukan rentetan pertanyaan klarifikatif dengan nada suara yang tenang dan wajah yang teduh, seperti, "Pandangan yang menarik, bolehkah saya dibantu untuk memahami lebih lanjut mengenai bagaimana kronologi hal tersebut bisa terjadi?" atau "Data atau premis apa yang mendasari lahirnya kesimpulan tersebut?" Seseorang yang kapasitas ilmunya baru menyentuh kulit luar dipastikan akan langsung gagap dan menemui jalan buntu saat dipaksa membedah detail anatomi masalah. Melalui siasat ini, mereka akan disadarkan mengenai batas mutakhir pengetahuan mereka sendiri secara organik tanpa harus merasa dipojokkan atau dipermalukan di depan publik.

Kesimpulan

Pada akhirnya, proses pencarian jati diri intelektual di dunia akademik bukanlah perihal seberapa sering kita berhasil memenangkan debat kusir tak berujung di warkop sekitar kampus. Indikator absolut dari kedewasaan berpikir yang hakiki adalah ketika seseorang telah mampu menaklukkan egonya sendiri, memiliki keberanian moral untuk mengakui keterbatasan khazanah ilmunya, serta dengan lapang dada merangkul realitas bahwa belajar adalah sebuah proses sakral yang berlangsung seumur hidup (lifelong learning).

Oleh karena itu, jika belakangan ini Anda merasa bahwa semakin banyak buku yang Anda baca justru membuat Anda menjadi sosok yang semakin pendiam dan hemat bicara di meja tongkrongan, buang jauh-jauh prasangka bahwa Anda sedang kehilangan arah. Anda tidak sedang mundur. Anda hanya sedang bertumbuh menjadi seorang manusia yang bijaksana.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda