Ulasan

Seni Menganyam Horor Gotik: Menyelami Jiwa Kreatif di Film I Am Frankelda

Seni Menganyam Horor Gotik: Menyelami Jiwa Kreatif di Film I Am Frankelda
Poster film I Am Frankelda (IMDb)

I Am Frankelda merupakan film animasi stop-motion musikal fantasi gelap pertama yang diproduksi di Meksiko, disutradarai dan ditulis oleh saudara kembar Arturo Ambriz dan Roy Ambriz melalui studio Cinema Fantasma. Dirilis di festival pada 2025 sebelum debut global di Netflix pada 12 Juni 2026, film ini berfungsi sebagai prekuel dari serial Frankelda’s Book of Spooks. Dengan durasi sekitar 113 menit, karya ini menggabungkan elemen horor, drama, dan musik yang memukau, terinspirasi longgar dari Mary Shelley serta pengaruh visual Guillermo del Toro.

Tragedi Francisca Imelda Melawan Dunia Patriarki

Salah satu adegan di film I Am Frankelda (IMDb)
Salah satu adegan di film I Am Frankelda (IMDb)

Cerita berlatar Meksiko abad ke-19, mengikuti Francisca Imelda (disuarakan oleh Habana Zoé sebagai anak dan Mireya Mendoza sebagai dewasa), seorang penulis berbakat yang menyukai cerita horor gelap. Bakatnya terus diremehkan oleh masyarakat patriarkal, penerbit, dan neneknya yang otoriter, terutama setelah kehilangan ibunya.

Francisca menciptakan dunia imajinasi sebagai pelarian, tanpa menyadari bahwa ceritanya memberi kehidupan pada kerajaan Topus Terrenus (Realm of the Terrors atau Kerajaan Ketakutan), tempat makhluk-makhluk horor (Spooks) bergantung pada ketakutan manusia untuk bertahan hidup—mirip konsep Monsters, Inc. namun dengan nuansa gothic yang lebih dalam.

Pangeran Herneval (Arturo Mercado Jr.), makhluk burung hantu yang tersiksa dan terjebak antara mimpi serta mimpi buruk, membawa Francisca ke dunia bawah sadarnya. Di sana, ia bereinkarnasi sebagai Frankelda, penulis hantu yang kuat. Bersama Herneval, ia harus mengembalikan keseimbangan antara dunia fiksi dan realitas sebelum keduanya runtuh.

Sementara itu, antagonis Procustes (Luis Leonardo Suárez), penulis jahat yang haus kekuasaan, berusaha merebut kendali dengan mencuri cerita Frankelda. Hubungan romantis antara Frankelda dan Herneval menjadi kekuatan sekaligus kutukan, menambah lapisan emosional yang kuat.

Review Film I Am Frankelda

Salah satu adegan di film I Am Frankelda (IMDb)
Salah satu adegan di film I Am Frankelda (IMDb)

Secara visual, I Am Frankelda adalah mahakarya stop-motion. Dengan ratusan boneka yang dibuat dalam skala berbeda, film ini menampilkan detail rumit pada makhluk-makhluk fantasi, seperti mermaid axolotl dari Xochimilco dan penyihir yang berubah bentuk.

Adegan musikal memadukan teknik campuran media, termasuk lukisan minyak dan elemen kertas, menciptakan transisi yang mulus dan memukau. Skor musik Kevin Smithers kaya dengan nomor-nomor opera-like yang catchy, terutama lagu villain El Príncipe de los Sustos (The Prince of Terrors), Kurasa ini layak disebut sebagai highlight dan dibandingkan dengan Be Prepared dari The Lion King.

Tema utama film ini adalah ketahanan seni, identitas, dan kekuatan imajinasi di tengah penindasan. Frankelda mewakili perjuangan perempuan kreatif yang suaranya dibungkam, tapi ia menolak menyerah. Film ini menyampaikan pesan empowering: cerita yang kita ciptakan dapat membentuk realitas, dan keberanian menghadapi monster ciptaan sendiri adalah kunci pembebasan.

Film ini telah tersedia untuk ditonton di Netflix Indonesia sejak tanggal rilis globalnya, yaitu 12 Juni 2026. Saat ini, kamu dapat langsung streaming I Am Frankelda di platform tersebut tanpa batasan wilayah tambahan untuk konten Netflix global.

Salah satu adegan paling dramatis adalah benturan klimaks ketika batas antara kenyataan dan rekaan hampir sirna sepenuhnya. Frankelda menghadapi Procustes yang mengkhianati dan mencoba menguasai ceritanya, sementara Topus Terrenus berada di ambang kehancuran. Adegan ini penuh ketegangan emosional, dengan animasi yang semakin chaotic—tubuh karakter berubah menjadi boneka kertas, dunia runtuh secara visual, dan lagu El Príncipe de los Sustos meledak sebagai nomor musikal epik.

Para monster bernyanyi dalam harmoni yang berbeda, berganti gaya animasi dari stop-motion ke lukisan minyak, menciptakan sensasi overwhelming yang mencerminkan kekacauan batin Frankelda. Adegan ini tidak hanya memamerkan keahlian teknis Ambriz bersaudara, tetapi juga puncak perjuangan identitas sang protagonis.

Nah, adegan yang paling kuingat saat nonton film ini adalah momen Frankelda pertama kali memasuki Topus Terrenus dan bertemu kembali dengan Herneval. Transformasi dari gadis biasa menjadi hantu penulis yang percaya diri, diiringi lagu reunion yang indah, menyentuh hati.

Visual kerajaan gothic yang hidup, dipenuhi makhluk-makhluk aneh tapi memesona, disertai rasa wonder dan sedikit melankolis karena latar belakang kesedihan Frankelda, membuatku terpukau. Adegan ini menangkap esensi film: imajinasi sebagai tempat perlindungan dan pemberdayaan. Kalau aku sih menyebutnya sebagai phantasmagorical feast yang sulit dilupakan, menggabungkan keindahan, horor ringan, dan kedalaman emosi.

Secara keseluruhan, I Am Frankelda adalah pencapaian luar biasa bagi sinema animasi Meksiko. Meski narasinya kadang terasa padat dan ambisius, kelebihan visual serta pesan emosionalnya mendominasi. Film ini cocok untuk penonton yang menyukai fantasi dewasa seperti karya del Toro, dengan pesan universal tentang keberanian berkarya. Direkomendasikan sebagai tontonan yang memikat indra dan hati, terutama bagi mereka yang pernah merasa suaranya terabaikan. Dengan kualitas produksi indie yang tinggi dan dukungan del Toro, film ini berpotensi menjadi film klasik yang modern. Rating pribadi: 8/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda