Ulasan
Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna: Teman Teduh Memeluk Kerapuhan
Sosok Najelaa Shihab selama ini telah terpatri kuat dalam benak publik sebagai seorang tokoh yang berdedikasi tinggi di dunia pendidikan. Mayoritas karya literasi yang ia lahirkan hampir selalu berkelindan erat dengan diskursus proses belajar-mengajar dan dunia anak-anak.
Namun, melalui buku bertajuk Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna (CUPYTS), perempuan yang akrab disapa Elaa ini hadir menyapa pembaca dengan ranah tema yang agak berbeda. Kendati isu ini sesekali kerap ia gaungkan melalui kanal YouTube personal maupun media sosial lainnya, dalam buku ini ia merajutnya secara lebih intim, terfokus, dan mendalam: yakni seputar dinamika dan kompleksitas permasalahan perempuan.
Buku CUPYTS merangkum 17 esai kontemplatif yang berusaha mengulik sekaligus menguliti berbagai spektrum pengalaman riil dalam garis kehidupan kaum hawa. Elaa membedah ragam bentuk stigmatisasi sosial hingga jebakan pilihan hidup yang selama ini sering kali dikategorikan secara dikotomi atau biner oleh masyarakat: seperti bekerja atau menjadi ibu rumah tangga, serta menikah atau tetap melajang.
Lebih jauh, esai-esai di dalamnya juga memotret bagaimana relasi perempuan dengan diri mereka sendiri maupun dengan lingkungan sekitarnya, mulai dari hubungan perempuan dengan tubuhnya, solidaritas antarsesama perempuan, hingga jalinan emosional yang subtil antara sosok ibu dan anak perempuannya. Dalam setiap jengkal pembahasan, Elaa secara konsisten memosisikan dirinya secara bijaksana; ia meneropong isu dari berbagai sudut pandang tanpa ada intensi sedikit pun untuk menambah beban moral baru bagi pundak perempuan.
Secara garis besar, argumentasi yang dibangun Elaa bermuara pada satu tujuan luhur: mempertegas kedaulatan dan peran esensial perempuan di semua lini kehidupan, yang diwujudkan melalui rekonsiliasi serta kerja sama yang sehat, baik antara perempuan dan laki-laki, maupun antarsesama kaum perempuan itu sendiri. Pesan utamanya sangat menyentuh: bahwa setiap perempuan berharga, terlepas dari apa pun pilihan hidup yang mereka ambil, dan terlepas dari segala bentuk ketidaksempurnaan yang mereka miliki.
Refleksi Jujur Tanpa Jargon yang Menjauhkan
Buku CUPYTS pada hakikatnya merupakan sebentuk kristalisasi dari hasil refleksi personal Elaa sepanjang hayatnya sebagai seorang perempuan, sekaligus buah dari pengamatan tajamnya terhadap realitas kehidupan kaum hawa di sekelilingnya.
Oleh sebab itu, buku ini hadir bukan sebagai sebuah teks akademis yang berjarak, melainkan sebagai seorang kawan bual untuk merenung di kala sepi. Diksi yang digunakan pun terasa sangat adaptif; mudah dipahami, mengalir liris, namun tetap memiliki daya magis yang kuat dan cenderung puitis.
Keunggulan metodologis dari buku ini terletak pada keberaniannya untuk menjadikan narasi pengalaman kolektif yang dialami banyak perempuan sebagai fondasi analisis utama. Penulis merasa tidak perlu menjejalkan tumpukan data statistik yang kaku atau deretan kutipan teori rumit sekadar agar tulisannya terlihat ilmiah atau elite. CUPYTS melangkah dengan misi yang lebih murni dan esensial, yakni menyalurkan energi cinta dalam spektrumnya yang paling luas bagi perempuan, lengkap dengan segala sifat dan keunikan yang melekat pada eksistensi mereka.
Lembar awal buku ini dibuka secara berani dengan membedah isu persaingan di antara sesama perempuan (female rivalry). Isu yang kerap kali direduksi secara sepele oleh publik ini, dalam pandangan Elaa, sejatinya merupakan manifestasi dari bentuk kekerasaan psikologis laten yang mewujud lewat komentar negatif yang destruktif atau pujian manipulatif yang berbalut sindiran (backhanded compliments).
Siklus perundungan terselubung ini ironisnya muncul di hampir setiap fase kronologis usia perempuan: dimulai dari masa remaja di mana indikator popularitas sering kali dicapai lewat eksploitasi fisik, hingga bermutasi ke periode menjadi seorang ibu (motherhood) yang sarat akan penghakiman atas setiap keputusan domestik yang diambil.
Elaa mengidentifikasi bahwa rasa cemas dan kekhawatiran akut terhadap berbagai tekanan sosial di sekeliling adalah hulu dari lahirnya problem sosial ini. Sering kali, oknum perempuan yang gemar melayangkan kritik tajam dan menghakimi perempuan lainnya adalah mereka yang sejatinya sedang didera rasa bosan terhadap hidupnya sendiri, sehingga mereka mencari kompensasi hiburan dari kehidupan orang lain (hlm. 17). Kunci utama untuk memutus rantai toksik ini adalah dengan mentransformasikan sikap konfrontatif menjadi tindakan suportif, serta menumbuhkan lebih banyak ruang empati untuk saling menguatkan.
Gugatan Stigma dan Tantangan Ibu Bekerja
Narasi krusial lain yang diangkat dalam CUPYTS adalah resistensi terhadap stigma sosial yang kerap dilekatkan pada perempuan dewasa yang menyandang predikat "sendiri" dan "cerdas". Perempuan yang memilih melajang atau terpaksa menjadi ibu tunggal (single mother) sering kali dicap secara peyoratif sebagai sosok yang tidak bahagia, mengingat indikator kebahagiaan dalam konstruksi sosial patriarki acap kali dinilai secara dangkal berdasarkan status pernikahan belaka.
Melalui buku ini, Elaa menegaskan dengan lantang bahwa poros kebahagiaan yang sejati bersumber dari kemampuan mencintai diri sendiri (self-love) serta kepemilikan ekosistem lingkungan yang suportif. Selain itu, dalam konteks membangun relasi romansa antara perempuan dan laki-laki, fondasi yang diletakkan seharusnya bukanlah hierarki kemampuan atau dominasi kuasa, melainkan sikap saling menghormati (mutual respect), di mana masing-masing individu tetap memiliki ruang kedaulatan yang luas untuk bertumbuh tanpa harus dikebiri oleh label "cerdas" yang mengancam ego pasangan.
Sebagai seorang ibu bekerja (working mom), pengalaman empiris Elaa mendapatkan porsi pembahasan yang cukup signifikan dan emosional dalam CUPYTS; setidaknya ada tiga esai khusus yang menguliti topik ini secara mendalam. Menjalani peran ganda sebagai ibu bekerja selalu berkelindan dengan tantangan psikologis yang berat, karena sering kali dipertentangkan secara vis-à-vis dengan tanggung jawab domestik pengasuhan anak.
Elaa mengingatkan pembaca dengan bijak bahwa urusan pengasuhan sejatinya adalah tanggung jawab kolektif yang setara antara ayah dan ibu. Langkah seorang perempuan untuk berkarya dan mengaktualisasikan potensi dirinya di ranah publik justru hadir untuk melengkapi kapabilitas peran seorang ibu, bukan untuk menegasikan atau menghilangkannya. Bagaimanapun, setiap perempuan mengemban banyak peran (multi-role) dalam hidupnya, dan hal yang mereka butuhkan saat ini adalah uluran dukungan, bukan tambahan beban moral yang menghakimi.
Dialektika Generasi, Tubuh, dan Kesehatan Mental
Di sisi lain, potret dinamika hubungan antara ibu dan anak perempuan juga menguras perhatian yang cukup dalam. Pertalian darah ini sering kali dipenuhi oleh ketegangan psikologis yang subtil, di mana relasi yang bermasalah dan tidak selesai di masa lalu berpotensi besar diwariskan menjadi trauma antargenerasi (intergenerational trauma) kepada anak cucu berikutnya. Perbedaan paradigma dan cara pandang antar-zaman kerap kali bertindak sebagai pemantik sumbu konflik.
Untuk merekonstruksi jalinan relasi yang hangat, Elaa menawarkan solusi bahwa pemaknaan cinta antara ibu dan anak perempuan harus senantiasa dinamis dan adaptif mengikuti perkembangan zaman. Kuncinya terletak pada kemauan kedua belah pihak untuk berani bertukar perspektif dan saling memahami batas kedewasaan masing-masing.
Dua tema besar penutup yang menjadi mahkota dalam buku CUPYTS ini adalah seputar rekonsiliasi hubungan perempuan dengan tubuh mereka sendiri serta urgensi kesehatan mental (mental health). Terkait isu tubuh, sejak menginjak usia remaja, konstruksi sosial masyarakat secara kejam kerap menilai harga diri seorang perempuan berdasarkan aspek penampilan fisik semata (physical appearance), alih-alih mengapresiasi capaian prestasi, minat, ataupun hobi mereka. Hal ini memicu kecemasan massal untuk mencapai standar bentuk tubuh ideal yang artifisial.
Pada fase rentan inilah, remaja sangat membutuhkan sistem pendukung yang kokoh, di mana peran aktif orang tua menjadi sangat vital untuk memfasilitasi diskusi-diskusi emosional mengenai nilai-nilai kehidupan yang lebih substansial dan mendasar.
Di sisi lain, akumulasi beban ganda yang terus-menerus dihantamkan pada pundak perempuan secara perlahan dapat mengancam stabilitas kesehatan mental mereka. Dalam bab ini, Elaa membagikan banyak sekali intisari pengalamannya yang berharga sebagai seorang psikolog profesional dalam mengurai kasus-kasus depresi dan kecemasan tersebut.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna adalah sebuah buku yang teramat pas dan wajib dikonsumsi oleh setiap perempuan yang saat ini sedang didera banyak kekhawatiran tentang identitas dirinya, mereka yang sedang berjuang menemukan kembali arti kebahagiaan dan makna hidup, mereka yang membutuhkan suntikan keberanian untuk menatap dunia yang keras, serta bagi siapa saja yang ingin berhenti melayangkan kritik destruktif demi memperkuat solidaritas perempuan di sekelilingnya.
Nilai estetika lebih dari buku terbitan ini juga didukung oleh desain visualnya yang sangat memanjakan mata; kaya akan ilustrasi grafis yang menawan dan permainan warna yang variatif, yang seolah-olah memanifestasikan beragam warna pengalaman hidup perempuan.
Jika ada satu aspek minor yang agak disayangkan, hal itu hanyalah absennya lembar daftar isi yang padahal cukup krusial untuk membantu pembaca melacak kembali esai-esai favorit tertentu secara cepat. Namun, kekurangan teknis tersebut sama sekali tidak mengurangi nilai kemanusiaan dan kehangatan yang dialirkan oleh buku ini.
Identitas Buku:
- Judul Buku: Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna
- Penulis: Najelaa Shihab
- Penerbit: Literati (terkadang juga diterbitkan di bawah naungan Lentera Hati)
- Tahun Terbit: Juli 2020 (Cetakan Pertama)
- Jumlah Halaman: ≈ 155 - 162 halaman
- Bahasa: Indonesia
- Nomor ISBN: 9786028740760