Cerita Fiksi
Tragedi Seribu Perak: Saat Mahasiswa Menggugat Harga Kopi
Di Universitas Tata Surya, ada dua pilar sakral yang memayungi kehidupan para mahasiswanya: jadwal kuliah yang sering berubah-ubah tanpa pemberitahuan dan harga secangkir Americano di Warkop "Marilah Cerita".
Warkop ini bukan tempat bagi mereka yang puas dengan kopi saset murahan. Sebuah mesin espreso standar yang bertengger di atas meja bar kayu adalah detak jantung dari tempat ini. Tidak megah, tidak pula besar, tetapi cukup untuk menyeduh aroma kopi yang sanggup meruntuhkan kelelahan mahasiswa yang sedang sekarat karena tugas. Mas Rio, sang pemilik, selalu menjaga kualitas house blend pilihannya dengan religius. Namun, pagi itu, ketenangan yang biasanya terjaga mendadak pecah oleh selembar kertas yang ditempelkan Mas Rio tepat di dekat mesin espreso: "Mohon maaf, dikarenakan harga biji kopi naik dan biaya operasional membengkak, harga menu kopi disesuaikan."
Fajar, Pane, dan Dahlan yang baru saja duduk langsung mematung. Bagi mereka, kenaikan harga seribu perak adalah tragedi nasional yang dampaknya terasa lebih nyata daripada krisis moneter mana pun dalam buku teks ekonomi yang sering mereka abaikan.
"Seribu perak? Mas Rio, ini sudah keterlaluan!" seru Fajar, menggebrak meja dengan intensitas yang biasanya hanya ia keluarkan saat rapat organisasi atau ketika tim push rank-nya kalah konyol. "Kita ini mahasiswa, Mas. Uang bulanan kita sudah dihitung sampai ke biaya parkir terakhir. Mengapa harus menaikkan harga double shot espreso tanpa ada negosiasi dialogis dua arah?"
Mas Rio yang sedang membersihkan portafilter hanya mendengus, tenang sekali, seolah sudah kebal dengan drama-drama mahasiswa. "Jangan cuma pintar berorasi di depan rektorat saja, Jar. Harga green bean sedang tidak ramah, biaya listrik mesin ini juga makin mencekik. Kalau kalian keberatan, silakan cari air keran kampus lalu seduh sendiri pakai kertas koran. Itu murah, dan mungkin lebih menantang untuk kesehatan kalian."
Pane, yang biasanya menjadi otak di balik diskusi-diskusi kritis, ikut tersulut. "Masalahnya bukan soal nominal seribu peraknya, Mas. Tapi ini soal sensitivitas terhadap kantong mahasiswa. Kita ini konsumen, dan di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit ini, kenaikan harga sekecil apa pun adalah bentuk pengabaian terhadap realitas sosial. Kami merasa terasing di tempat kami sendiri!"
Dahlan, yang duduk di sudut sambil sibuk dengan ponselnya, mendadak ikut bersuara dengan nada nelangsa. "Saya setuju dengan Fajar. Kalau harga kopi di sini naik, saya terpaksa harus memangkas jatah makan siang demi bisa tetap berpikir kritis tentang kebijakan kampus sambil menyeruput espreso. Tanpa asupan kafein, otak saya tidak bisa bekerja untuk mengkritik birokrasi, Mas. Ini adalah bentuk penindasan intelektual secara tidak langsung!"
Pak Hendra, yang duduk tenang sambil membaca koran digital, hanya bisa tertawa melihat aksi protes kecil-kecilan itu. "Kalian ini lucu sekali. Mengkritik kenaikan harga kopi dengan gaya seolah sedang menggulingkan rezim. Padahal, jika dihitung berapa banyak waktu yang kalian habiskan di sini hanya untuk main game dan mengobrol tanpa hasil, harga kopi seharusnya menjadi urusan yang paling terakhir kalian pikirkan. Kalian seperti orang yang berteriak soal keadilan, tapi lupa membayar parkir."
"Tapi, Pak, ini masalah prinsip!" sahut Fajar berapi-api. "Ini soal daya beli kelas menengah yang makin tergerus. Jika harga kopi di warkop saja naik, artinya inflasi sudah sampai ke meja kita. Bagaimana kita bisa bergerak melawan ketidakadilan jika untuk minum kopi saja kita harus berhitung dengan air mata?"
Mas Rio meletakkan portafilter dengan bunyi dentuman yang cukup keras ke atas mesin. "Kalian bilang kalian 'Agen Perubahan'? Perubahan macam apa yang kalian bawa jika memahami realitas pedagang kecil saja tidak bisa? Saya tidak menaikkan harga untuk jadi kaya, saya hanya tidak ingin warkop ini gulung tikar. Kalau tempat ini tutup, kalian mau pindah ke mana? Ke kantin kampus yang kopinya hanya air hangat diberi pewarna itu? Di sana harga murah, tapi harga diri kalian sebagai penikmat kopi akan hilang."
Suasana hening sejenak. Argumen Mas Rio memang telak dan tak terbantahkan. Fajar tertunduk, Pane memutar-mutar korek apinya, sementara Dahlan tampak sedang menghitung sisa saldo di aplikasi bank digitalnya dengan wajah masam.
Pane menarik napas panjang, mencoba memutar otak. "Tapi, Mas, setidaknya beri kami kompensasi. Mungkin kuota internet tambahan, atau perpanjang durasi pinjam colokan listrik sampai tiga jam lagi untuk menunjang produktivitas kami."
"Itu namanya pemerasan, bukan negosiasi," potong Pak Hendra sambil tersenyum sinis. "Dengar, kalian sebenarnya hanya takut kehilangan 'negara' kalian. Kalian marah bukan karena harga kopi, tapi karena kalian sadar bahwa kehidupan mahasiswa yang nyaman, di mana kalian bisa nongkrong berjam-jam dengan harga murah, itu sudah berakhir. Dunia luar sedang tidak ramah, dan kenaikan harga kopi ini adalah pengingat bahwa masa 'enak' kalian sedang diinterupsi oleh realita yang kejam."
Dahlan yang tadi protes keras mendadak diam. Ia memikirkan dompetnya. Ia sadar, mungkin ia harus berhenti membeli buku-buku taktik asmara yang tidak berguna agar tetap bisa menikmati latte di tempat ini. Ia mulai memikirkan kembali apakah cinta sehidup semati dengan gadis Neptunus itu sebanding dengan harga segelas espreso di pagi hari.
"Yah," Fajar akhirnya bersandar di kursi dengan lesu. "Pada akhirnya, kita tetap akan memesan kopi ini, kan? Kita protes keras sekarang, tetapi nanti sore saat tenggorokan kering, kita pasti tetap kembali ke mesin espreso itu. Kita ini memang mahasiswanya Mas Rio yang paling setia sekaligus yang paling cerewet."
"Itulah indahnya jadi mahasiswa," sindir Mas Rio sambil mulai menggiling biji kopi dengan santai. "Sangat vokal memprotes kebijakan, tapi pada akhirnya tetap menjadi konsumen yang patuh karena tidak ada pilihan lain."
Tawa Pak Hendra pecah, menggema di sudut warkop. "Selamat datang di realitas dewasa, anak-anak. Di mana harga diri kalian sering kali diukur dari apakah kalian mampu membayar secangkir kopi atau tidak. Dan percayalah, kalian akan lebih sering dipukul oleh realita dibandingkan oleh harga kopi ini."
Sore itu, Warkop "Marilah Cerita" tetap ramai. Kopi espreso tetap terjual dengan harga baru. Dan seperti biasa, Fajar, Pane, dan Dahlan tetap duduk di sana, mengeluhkan nasib negara sambil menyeruput kopi hingga tetes terakhir. Mereka tidak sadar bahwa di tengah debat kusir tersebut, mereka sedang mempertegas status mereka sebagai bagian dari kelas yang akan selalu protes, tetapi tak akan pernah mampu beranjak dari kenyamanan yang mereka kritik sendiri. Di luar sana, dunia terus berputar seolah tidak peduli dengan kenaikan seribu perak yang sempat memicu perdebatan epik di meja sudut itu, sementara mereka tetap terjebak dalam siklus idealisme yang dibayar dengan kafein.