Ulasan

Bukan Dongeng Biasa: Sisi Gelap dan Brutal di Balik Keimutan Dongeng Kucing

Bukan Dongeng Biasa: Sisi Gelap dan Brutal di Balik Keimutan Dongeng Kucing
Dongeng Kucing (Dok. pribadi/Chairun Nisa)

Dongeng Kucing adalah karya Boy Candra yang sudah lama saya nantikan. Selain karena daya tarik ceritanya, pembatas buku berbentuk kucing yang lucu menjadi nilai tambah tersendiri. Meski dikemas dalam bentuk fabel fantasi, buku ini menuntut kedewasaan pembaca. Saya menyarankan agar anak-anak tetap didampingi orang tua saat membacanya, mengingat adanya beberapa adegan yang cukup sadis dan brutal.

Buku ini menjadi ruang bagi saya untuk belajar tentang makna kesederhanaan. Awalnya, saya sempat berpikir bahwa sebuah novel haruslah rumit, megah, dan sangat sastrawi. Namun, Boy Candra membuktikan bahwa cerita yang sederhana pun bisa menjadi karya besar jika ditulis dengan sungguh-sungguh. Melalui novel setebal 208 halaman ini, Boy mencoba keluar dari zona nyaman setelah 10 tahun dikenal lewat karya-karya romance dan melankolis.

Sinopsis 

Cerita berlatar di kolong jembatan tol, tempat di mana berbagai hewan seperti kucing, landak tua, tikus tua, berang-berang, hingga biawak hidup dalam koloni rumah kardus. Mereka membangun sistem sosial yang unik, di mana tikus dan kucing hidup berdampingan tanpa saling memangsa.

Konflik bermula dari hilangnya orang tua kucing bernama Gaura, yaitu Pak Ghost dan Bu Merti. Untuk menghiburnya, para hewan mengundang The Fish, band punk rock kucing yang dipimpin oleh Pablo (kucing hitam dengan luka di jidat). The Fish sendiri merupakan sindiran atau pelesetan dari band nyata, .Feast, yang memperjuangkan hak kucing atas ikan. Keakraban Gaura dan Pablo pun tumbuh menjadi asmara.

Namun, duka menyelimuti saat Gaura meninggal dunia setelah melahirkan dua anak: si Putih (dengan tanda bulan sabit di kening) dan si Hitam (dengan tanda bintang di kening). Perjuangan Tikus Tua dalam merawat anak-anak kucing tersebut sangat mengharukan, bahkan ia rela kehilangan ekornya demi mencuri susu formula.

Tragedi memuncak saat tempat tinggal mereka digusur oleh manusia. Kucing-kucing tersebut dijual ke "Manusia Ruko" untuk mendapatkan kenyamanan, sebelum akhirnya dipisahkan. Salah satu anak Gaura, Robin (si Hitam), jatuh ke tangan "Manusia Asing" yang membawanya ke hutan. Di sana, Robin menyaksikan kekejaman yang tak terbayangkan: penyiksaan, penyembelihan, hingga pengawetan mayat kucing. Peristiwa ini terinspirasi dari keresahan penulis mengenai maraknya tren memelihara kucing di media sosial yang sering kali hanya dijadikan "badut" tanpa pemahaman bahwa memelihara kucing berarti menambah anggota keluarga.

Robin akhirnya berhasil melarikan diri dengan bantuan kucing tua, melewati berbagai rintangan monster ular dan ikan, hingga kembali ke kota untuk menyelamatkan saudaranya, Pengkor. Pada akhirnya, terungkap bahwa Pak Tua Kucing adalah Pak Ghost, kakek dari kedua kucing kembar tersebut. Kisah ini akan berlanjut ke sekuel berjudul Perang Kucing yang fokus pada aksi balas dendam terhadap manusia.

Refleksi dan Pesan Moral

Novel ini menyoroti ironi tajam hubungan manusia dan hewan. Di satu sisi, ada manusia yang sangat memuja kucing, namun di sisi lain, ada manusia yang kejam memperlakukan mereka sebagai pajangan. Boy Candra secara berani memasukkan adegan brutal bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai cerminan bahwa dunia nyata sering kali jauh lebih kejam. Tujuannya adalah agar pembaca, terutama anak muda, lebih kritis dalam membedakan mana perilaku yang baik dan buruk terhadap hewan.

Nilai moral yang bisa dipetik adalah pentingnya menanamkan rasa sayang kepada sesama makhluk hidup sejak dini. Kita diingatkan bahwa hewan memiliki ikatan keluarga yang emosional. Namun, buku ini juga memantik pertanyaan reflektif tentang populasi kucing yang terus bertambah dan tanggung jawab kita sebagai manusia dalam merawat atau mensterilkan mereka. Bagi sesama pecinta kucing, bersiaplah untuk meneteskan air mata karena kedalaman emosi yang dihadirkan dalam buku ini.

Identitas Buku

Judul: Dongeng Kucing
Penulis: Boy Candra
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: Juli 2025
ISBN: 9786020530826

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda