Ulasan
Serdadu dari Neraka: Warga Sipil di Tengah Konflik Pemerintah dan GAM
Konflik bersenjata selalu meninggalkan cerita yang jarang tercatat dalam buku sejarah. Di balik perebutan kekuasaan, ada kehidupan warga biasa yang harus kehilangan keluarga, rumah, bahkan harapan. Gambaran itulah yang diangkat Arafat Nur dalam Serdadu dari Neraka, kumpulan cerpen yang lahir dari pengalamannya menyaksikan masa-masa kelam Aceh. Melalui tujuh belas cerpen, Arafat Nur tidak hanya mengisahkan para pejuang atau tentara sebagai tokoh utama, melainkan masyarakat kecil yang setiap hari hidup di bawah bayang-bayang kekerasan, ketakutan, dan berbagai kepercayaan yang tumbuh di tengah situasi perang.
Ulasan
Cerpen yang paling membekas bagi saya adalah Serdadu dari Neraka. Kampung Lamweng telah berkali-kali dijajah, tetapi nama yang paling ditakuti warganya justru Marco Bolo-Bolo, seorang serdadu yang gemar menjarah rumah, memukul warga, dan memperlakukan perempuan sesuka hati. Hanya ibu tokoh utama yang tak pernah berhasil ia tundukkan. Sosok perempuan sederhana itu menjadi satu-satunya orang yang berani melawan kebiadaban Marco hingga akhir kisahnya.
Cerpen lain yang tak kalah menarik adalah Cara Cepat Membunuh Anak Sekarat. Abidin yang sedang sekarat justru dibawa kepada Teungku Kudus, dukun yang mengaku mampu mengusir jin penyebab penyakit. Di tengah kepercayaan warga terhadap tahayul, Arudin hadir dengan cara pandang yang lebih rasional. Pertentangan keduanya bukan hanya menjadi inti cerpen ini, tetapi juga berlanjut dalam beberapa cerpen lain sehingga membuat kumpulan cerita ini saling terhubung
Dalam Gadis Setan dan Orang Pandai, Halimah mengalami kerasukan hebat hingga para dukun menyerah menghadapinya. Saat Arudin datang, roh yang merasuki Halimah mengaku sebagai Mulu, gadis yang diperkosa beramai-ramai oleh tentara hingga tewas. Cerpen ini masih berkaitan dengan kisah Arudin pada cerita sebelumnya. Sementara itu, Rumah Murah Penuh Masalah berkisah tentang sepasang suami istri yang membeli rumah dengan harga sangat murah. Baru beberapa hari menempati rumah itu, mereka sudah dibuat pusing oleh tetangga yang kelewat usil, orang-orang yang gemar berutang, hingga kedatangan mantan pejuang yang membawa masalah baru.
Kisah tersebut berlanjut dalam Perempuan yang Mengencingi Sumur ketika sumur di rumah itu tiba-tiba berbau busuk dan berlendir. Seorang lelaki misterius mengatakan air sumur telah dinajiskan, lalu beberapa hari kemudian seorang janda ditemukan meninggal dalam keadaan yang ganjil. Jika harus memilih satu cerpen paling menguras emosi, Lelaki Ladang layak mendapat tempat itu. Hasan, seorang petani cabai, terus dihimpit kemiskinan, dipalak kelompok bersenjata, lalu dikejar tentara yang tak mampu membedakan petani dan pejuang hingga hidup keluarganya berakhir tragis.
Selain mengangkat tema yang berat, Arafat Nur juga memiliki gaya bercerita yang mudah diikuti. Kalimat-kalimatnya lugas, tidak dipenuhi bahasa puitis yang rumit, tetapi tetap mampu membangun emosi pembaca. Meski setiap cerpen berdiri sendiri, beberapa tokoh dan peristiwa saling berkaitan sehingga buku ini terasa lebih utuh. Keterhubungan itulah yang membuat saya ingin terus membaca hingga cerpen terakhir.
Hampir semua cerpen dalam buku ini berlatar di Aceh, terutama kawasan yang mengingatkan pada Lhokseumawe dan Aceh Utara, dua daerah yang pernah menjadi pusat konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia. Konflik yang berlangsung selama puluhan tahun itu menjadi latar bagi kisah-kisah Arafat Nur. Namun, ia tidak menempatkan tentara maupun pejuang sebagai tokoh utama. Sebaliknya, ia memilih menyoroti nasib warga sipil yang harus hidup di tengah ketakutan, kemiskinan, dan kekerasan yang menjadi bagian dari keseharian mereka.
Identitas Buku
Judul: Serdadu dari Neraka
Penulis: Arafat Nur
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 9786023918157