Ulasan

Relate Sama Korban HTS, Ini Makna Nyesek di Balik Lagu 'Tak Sampai Mekar'

Relate Sama Korban HTS, Ini Makna Nyesek di Balik Lagu 'Tak Sampai Mekar'
Thumbnail Video Lirik Lagu "Tak Sampai Mekar" Karya Kurnia Medew (YouTube/Kurnia Medew)

Renggangnya suatu hubungan yang telah dijalin hingga kemudian kandas di tengah jalan tentu menimbulkan rasa sesak dan pilu di lubuk hati, meski setidaknya tambatan hati pernah singgah mengisi kehidupan yang penuh duka lara. Lantas, bagaimana rasanya ketika sosok yang didambakan tak pernah benar-benar menjadi pasangan?

Kondisi patah hati ini ditelusuri secara mendalam melalui lagu berjudul “Tak Sampai Mekar” yang dinyanyikan oleh Kurnia Meishinta Dewi. Dengan lirik yang sederhana dan mudah dipahami ini mampu merangkum kepedihan sebuah harapan cinta yang terpaksa gugur sebelum menjadi tempat bersandar paling nyaman. 

Analogi Kuncup yang Gugur dan Terluka

Untuk memahami lebih dalam bagaimana perasaan tersebut digambarkan menjadi sebuah kata-kata, Kurnia membuka liriknya dengan “Waktu itu kamu bilang, kapan pun ku ingin bercerita kamu siap. Bahkan, kamu menawarkan, apa yang bisa kubantu lagi?” Pada lirik ini dijelaskan tentang fase awal hubungan yang penuh perhatian, kenyamanan, dan harapan. 

Penggalan lirik tersebut menunjukkan inisiatif sang pujaan hati dalam memberikan atensi lebih walau belum menjalin ikatan resmi. Selain itu, dirinya sering kali memposisikan diri secara sukarela untuk menjadi pendengar yang baik dan sigap dalam membantu apa pun.

“Kemarin kamu seolah menjadi tempat untuk aku bersandar. Begitu baik, sangat baik, teramat baik, dan aku terbuai.” Setelah berbagai sikap perhatian itu muncul, hal ini membuat tokoh "aku" mulai menurunkan pertahanan emosionalnya dan menaruh harapan yang terlampau tinggi pada hubungan tersebut biarpun hanya terjebak dalam hubungan tanpa status (HTS).

Hubungan yang mungkin terlihat baik-baik saja sampai waktu yang tidak ditentukan ternyata berakhir sebaliknya. Hal ini diinterpretasikan dalam lirik seterusnya, “Pernah bahagia benar memang iya. Namun seketika asing tanpa kata. Kita gugur sebelum musimnya tiba menjadi kisah yang tak sempurna.” Inilah kondisi di mana ketika sebuah hubungan mendadak berubah menjadi asing akibat tindakan ghosting.

Lalu, lirik berikutnya, “Dan kita hanya tumbuh perlahan di musim yang tak memberi jawaban. Aku kira waktu akan membawamu kembali. Ternyata waktu hanya mengajariku pergi. Kita berakhir bahkan sebelum sempat memulai. Ini kehilangan atau bukan?” Arti dari lirik ini yaitu tokoh “aku” berharap pujaan hati untuk kembali, tetapi karena waktu terus berjalan tanpa ada kepastian akhirnya disadarkan bahwa waktu bukan hadir untuk memulihkan hubungan.

Melalui penggalan lirik ini pula tokoh “aku” harus berdamai dengan keadaan. Ia dipaksa menelan kenyataan pahit bahwa hubungan yang dirawat dengan sepenuh hati telah usai walau belum sempat memiliki. Tokoh “aku” berharap untuk bisa bersama, sebaliknya realitas memaksa untuk melepaskan. 

“Kalau memang bukan aku orangnya. Ku berdoa semoga kau bahagia. Kalau memang bukan aku orangnya. Ku berdoa semoga kau bahagia.” Tokoh “aku” mulai menurunkan ego, alih-alih membenci orang yang seolah memberi harapan, ia justru memilih jalan yang damai dengan merelakan kepergiannya serta melepasnya dengan doa.

Lirik lagu ini kemudian ditutup dengan “Kalau memang bukan kamu orangnya, semoga ku bahagia.” Hari demi hari, tokoh “aku” yang awalnya masih sibuk mendoakan dan merenungi kepergian sang pujaan hati, saat ini telah memikirkan kebahagiaan pribadi yang jauh lebih penting daripada meratapi sebuah kepergian. 

Sisi Estetika di Balik Konklusi Rasa

Untuk mengukur sisi estetika dari lirik lagu berjudul “Tak Sampai Mekar”, kita perlu membedah aspek kelebihan dan kekurangan di dalamnya. Jika menilik dari sisi makna, lirik tersebut sangat relevan di masa kini karena mengangkat realitas dinamika hubungan. Lebih dari itu, penggunaan analogi metafora dalam lirik tersebut seperti kata “gugur”, “musim”, dan “mekar” juga jauh lebih puitis.

Kronologi yang diangkat dari penggalan lirik pertama hingga akhir disajikan secara sistematis dari fase orientasi, komplikasi, dan resolusi. Di samping itu, ada pula pesan self-love yang kuat sebagai penyelesaian emosional dari konflik yang dialami. Diksi yang digunakan juga mudah dipahami oleh siapa saja karena menggunakan bahasa yang sederhana.

Namun, peralihan dari lirik demi lirik terasa lebih cepat karena lonjakan emosi yang drastis tanpa jembatan kontemplasi yang cukup. Struktur cerita dalam lagu ini langsung melompat dari fase dilema menuju fase keikhlasan secara instan. Lagu ini memotong kronologi patah hati yang lazimnya panjang dengan mengabaikan fase amarah. 

Meskipun lagu ini memiliki kelemahan dalam hal peralihan emosi yang terasa terlalu cepat serta struktur yang cenderung prosaik, karya ini tetap memiliki nilai estetika yang kuat berkat penggunaan metafora alam yang relevan bagi pendengar masa kini.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda