Ulasan
Review Enola Holmes 3: Lebih Dewasa, Emosional, dan Penuh Misteri
Sebelum kisahnya dimulai, satu hal langsung terasa dari film Enola Holmes 3, yakni masih tahu betul apa yang membuatnya dicintai sejak film pertama. Perpaduan misteri, petualangan, humor, dan semangat perempuan muda yang menolak dibatasi aturan zaman kembali menjadi fondasi utama.
Kali ini, petualangan Enola nggak hanya menguji kecerdasannya sebagai detektif, tapi juga memaksanya menghadapi pertanyaan yang jauh lebih rumit daripada memecahkan sandi atau memburu penjahat. Apakah cinta harus dibayar dengan kehilangan kebebasan?
Film berdurasi ±105 menit ini disutradarai Philip Barantini dengan naskah yang kembali ditulis oleh Jack Thorne. Netflix kembali menjadi rumah bagi petualangan keluarga Holmes dan sudah tayang sejak 1 Juli 2026.
Millie Bobby Brown kembali tampil sebagai Enola Holmes, ditemani Henry Cavill sebagai Sherlock Holmes, Louis Partridge sebagai Lord Tewkesbury, Helena Bonham Carter sebagai Eudoria Holmes, Himesh Patel sebagai Dr. Watson, dan Sharon Duncan-Brewster sebagai Mira Troy.
Sinopsis Film Enola Holmes 3

Cerita dibuka di penjara, ketika pria misterius menawarkan kebebasan kepada seorang tahanan yang identitasnya sengaja dirahasiakan. Tawaran tersebut ternyata berkaitan dengan keluarga Tewkesbury serta hilangnya sejumlah benda berharga yang menyimpan rahasia besar.
Sementara itu, Tewkesbury sudah menunggu calon istrinya di altar katedral di Malta. Ironisnya, Enola masih berada di rumah sambil mengenakan gaun pengantin. Dia bukan ragu karena nggak mencintai Tewkesbury, melainkan karena dia takut kehilangan dirinya sendiri setelah menjadi bagian dari keluarga bangsawan.
Keraguan itu belum sempat menemukan jawaban ketika Dr. Watson datang membawa kabar mengejutkan bahwa Sherlock Holmes menghilang setelah diculik. Pernikahan pun harus tertunda. Enola pun kembali beraksi sebagai detektif dan memulai penyelidikan yang perlahan membuka jaringan konspirasi, kode rahasia, pencurian harta bersejarah, hingga musuh yang jauh lebih berbahaya dari dugaannya. Seru banget, deh!
Review Film Enola Holmes 3

Konfliknya yang lebih personal dibandingkan dua pendahulunya menurutku menarik banget. Misteri memang tetap menjadi penggerak cerita, tapi inti emosinya berasal dari pergulatan batin Enola.
Film ini mempertanyakan apakah perempuan harus memilih antara mencintai seseorang atau mempertahankan kebebasan yang selama ini dia perjuangkan. Pertanyaan tersebut relevan meski latarnya berada di era Victoria. Sampai hari ini, tekanan sosial terhadap perempuan untuk mengikuti peran tertentu masih sering ditemukan, hanya dalam bentuk yang berbeda.
Yang aku sukai, Enola nggak digambarkan membenci pernikahan ataupun cinta. Sebaliknya, dia benar-benar mencintai Tewkesbury. Masalahnya, dia juga mencintai dirinya sendiri, pekerjaannya, dan kebebasan yang selama ini membentuk identitasnya. Konflik semacam ini membuat perjalanan emosional Enola lebih dewasa dari kisah romansa biasa.
Hubungan Enola dan Tewkesbury juga berkembang dengan menyenangkan. Tewkesbury nggak pernah diposisikan sebagai laki-laki yang ingin mengendalikan pasangannya. Dia ada sebagai sosok yang berusaha memahami pilihan Enola. Dinamika mereka membuat kisah cinta dalam film ini terasa hangat tanpa harus mengorbankan karakter utama yang sudah dikenal mandiri sejak awal.
Dari sisi misteri, film ini tetap berhasil menjaga rasa penasaran. Petunjuk-petunjuk kecil disebarkan sepanjang cerita, mengajak penonton ikut menebak siapa dalang di balik seluruh kekacauan. Memang, jika dibandingkan dengan film detektif yang 100% fokus pada teka-teki rumit, kasus kali ini nggak terlalu sulit dipecahkan. Namun, penyusunannya tetap cukup menghibur karena misteri berjalan beriringan dengan aksi dan perkembangan karakter.
Tempo film juga terasa hidup. Adegan kejar-kejaran, baku hantam, penyusupan, hingga ledakan hadir dalam porsi yang pas tanpa menggeser identitas Enola sebagai film misteri. Eudoria Holmes sekali lagi menjadi penyegar suasana. Tingkah lakunya yang eksentrik serta kebiasaannya membawa bom rakitan menghadirkan humor yang membuat ketegangan nggak terlalu berat.
Film ini juga menyisipkan isu sosial yang cukup menarik. Selain mengangkat posisi perempuan dalam masyarakat aristokrat Inggris, cerita turut menyinggung dampak kolonialisme dan diskriminasi rasial sebagai bagian dari konflik yang lebih besar. Untungnya, seluruh tema tersebut dimasukkan secara organik sehingga nggak kayak lagi ceramah.
Dari segi visual, atmosfer era Victoria berhasil dibangun dengan meyakinkan. Kostum, jalanan kota, interior bangunan, hingga detail properti mendukung nuansa petualangan klasik yang menjadi ciri khas film kni. Malta sebagai latar baru juga memberikan warna berbeda dibanding dua film sebelumnya.
Sulit membayangkan film ini tanpa penampilan Millie Bobby Brown. Dua kembali menunjukkan kharisma yang membuat Enola hidup sebagai sosok cerdas, usil, banyak rasa ingin tahu, sekaligus rapuh ketika harus menentukan masa depannya sendiri. Henry Cavill memang nggak memperoleh porsi sebesar film sebelumnya, tapi kehadirannya tetap memberi keseimbangan bagi cerita. Chemistry Millie Bobby Brown dan Louis Partridge pun masih menjadi salah satu alasan mengapa hubungan Enola dan Tewkesbury mudah membuat penonton ikut peduli.
Akhir kata, Enola Holmes 3 keren! Selamat menonton ya.