Ulasan

Review The Shrine: Teror Okultisme Jepang dan Korea yang Bikin Merinding!

Review The Shrine: Teror Okultisme Jepang dan Korea yang Bikin Merinding!
Poster film The Shrine (IMDb)

The Shrine (judul asli Korea: Sin-sa: Ak-gwi-ui Soksagim atau The Shrine: Whisper of the Demon) merupakan film horor occult yang memadukan elemen J-horror dan K-horror secara unik. Disutradarai oleh pembuat film Jepang Kazuyoshi Kumakiri, film ini menandai kembalinya aktor dan penyanyi Kim Jae-joong ke layar lebar setelah absen selama 14 tahun. Dengan durasi sekitar 96 menit, film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 10 Juli 2026, tepat di tengah musim horor musim panas, dan tersedia di jaringan seperti CGV, Cinépolis, serta bioskop lainnya.

Rahasia Kelam di Balik Gerbang Kuil Terbengkalai

Salah satu adegan di film The Shrine (IMDb)
Salah satu adegan di film The Shrine (IMDb)

Sinopsis film berpusat pada misteri hilangnya tiga mahasiswa Korea-Jepang yang mengikuti program pertukaran budaya di Kobe, Jepang. Ketiga mahasiswa tersebut menghilang secara misterius setelah menjelajahi sebuah kuil (shrine) terbengkalai di pegunungan yang dianggap terlarang. Satu-satunya petunjuk adalah lokasi kuil tersebut. Yoo Mi (diperankan oleh Kong Seong-ha), yang bertanggung jawab atas kelompok mahasiswa, meminta bantuan kepada seniornya, Myung-jin (Kim Jae-joong), seorang dukun shaman (baksu) yang memiliki kemampuan spiritual namun sedang bergulat dengan trauma masa lalu dan mimpi buruk yang tak terjelaskan.

Myung-jin pergi ke Kobe dan bergabung dengan Yoo Mi serta Pastor Han-ju, seorang pemimpin spiritual setempat. Mereka menghadapi roh jahat yang aneh, melibatkan elemen shamanisme Korea, horor Jepang klasik, serta pengaruh dewa jahat Hindu (Rakshasa). Kuil terbengkalai itu menjadi pusat kekuatan gaib yang memanfaatkan kelemahan manusia, kesepian, dan isolasi emosional. Film ini bukan sekadar cerita hantu biasa; ia mengeksplorasi tema bahwa manusia sering kali lebih menakutkan daripada setan itu sendiri, karena roh jahat memasuki celah-celah kelemahan batin manusia.

Review Film The Shrine

Salah satu adegan di film The Shrine (IMDb)
Salah satu adegan di film The Shrine (IMDb)

Secara sinematik, The Shrine unggul dalam membangun atmosfer. Lokasi syuting di Kobe yang indah namun mencekam, dengan kuil tua yang gelap dan berkabut, menciptakan rasa ketidaknyamanan yang konstan. Pengarahan Kumakiri membawa estetika J-horror yang lambat dan psikologis—seperti ketegangan diam-diam, suara angin, bisikan, serta visual suram—dibaurkan dengan ritual shamanisme Korea yang lebih energik dan emosional. Kim Jae-joong memberikan penampilan kuat sebagai dukun karismatik namun dingin, dengan ekspresi minimalis yang sangat cocok untuk genre horor. Kong Seong-ha mendukung dengan baik sebagai karakter yang gigih dan penuh emosi.

Kekuatan film ini terletak pada perpaduan budaya dan agama yang berani: shamanisme Korea, elemen Buddha atau Hindu, serta pengaruh Kristen melalui pastor. Hal ini menciptakan lapisan mistis yang kaya dan tidak klise. Efek visual dan suara mendukung ketegangan, dengan beberapa set piece yang jolting dan mencekam. Akan tetapi, film ini juga memiliki kelemahan. Beberapa transisi antar elemen budaya terasa kurang kohesif, dan pacing di bagian tengah bisa terasa lambat buat kamu yang menyukai horor cepat dan penuh aksi. Meski demikian, twist dan klimaksnya berhasil memberikan kepuasan, terutama dalam merefleksikan ketakutan manusiawi.

Salah satu adegan paling menyeramkan adalah ketika kelompok mahasiswa menjelajahi kuil terbengkalai. Kabut tebal, suara bisikan samar, dan penemuan artefak aneh (seperti patung yang tampak hidup atau berdarah) menciptakan rasa paranoia yang intens. Adegan ini dikombinasikan dengan serangan gaib yang tiba-tiba, termasuk cedera misterius dan hilangnya kesadaran, membuatku merasa sesak napas. Adegan ritual dan pergulatan melawan roh jahat disajikan dengan sangat brutal. Visual gore yang efektif serta audio yang mengganggu ingatan kita pada horor klasik Jepang seperti Ring atau Ju-on, namun kali ini dibalut dengan sentuhan rona shamanisme yang terasa lebih personal.

Adegan klimaks yang melibatkan Myung-jin dan pengungkapan identitas roh jahat adalah bagian paling memorable, sih. Penampilan Kim Jae-joong di sini sangat kuat—dingin, intens, dan penuh emosi tertahan—yang membuatku merenung lama setelah film berakhir. Adegan final yang merefleksikan tema manusia lebih menakutkan daripada iblis meninggalkan kesan mendalam, karena ia menyoroti kesepian dan kelemahan batin sebagai pintu masuk setan. Adegan ini, dengan visual eerie dan dialognya filosofis, terus menghantui pikiranku karena relevansinya dengan kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, The Shrine adalah film horor yang ambisius dan menyegarkan di tengah banjir film genre serupa. Ia tidak sempurna, tapi perpaduan budayanya, atmosfer mencekam, dan penampilan Kim Jae-joong membuatnya layak ditonton bagi penggemar occult horror. Rating IMDb dan ulasan awal menunjukkan respons positif terhadap keunikan pendekatannya, meski box office awal di Korea sedang sekitar 46.000 penonton di minggu pertama.

Bagi penonton Indonesia yang menyukai horor Asia, film ini menawarkan pengalaman berbeda yang menggabungkan ketegangan psikologis dengan ritual autentik. Kalau kamu berani menghadapi kuil terkutuk ini, siapkan mental—karena setelah menonton, bayangan kuil itu mungkin takkan mudah hilang. Rating pribadi: 8/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda