Ulasan

Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya: Perjalanan Berdamai dengan Luka Masa Lalu

Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya: Perjalanan Berdamai dengan Luka Masa Lalu
Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya (Dok Pribadi/Tarassa Q)

Haruki Murakami dikenal sebagai penulis yang kerap menghadirkan kisah penuh perenungan tentang kesepian, kehilangan, dan pencarian jati diri. Salah satu novelnya yang mengangkat tema tersebut adalah Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya. Lewat tokoh utama bernama Tsukuru Tazaki, Murakami mengajak pembaca menyelami perjalanan batin seseorang yang dihantui masa lalu selama bertahun-tahun hingga akhirnya memberanikan diri mencari jawaban atas luka yang belum pernah sembuh.

Tokoh utama, Tsukuru Tazaki, bekerja sebagai insinyur yang merancang stasiun kereta api di Tokyo. Di balik kehidupannya yang tampak tenang, ia menyimpan luka mendalam sejak masa kuliah. Ketika masih duduk di bangku SMA di Nagoya, Tsukuru memiliki empat sahabat yang sangat dekat. Persahabatan mereka begitu erat hingga terasa mustahil untuk dipisahkan.

Keunikan kelompok tersebut terletak pada nama para anggotanya. Empat sahabat Tsukuru memiliki nama keluarga yang berkaitan dengan warna dalam bahasa Jepang, yakni Akamatsu yang berarti merah, Oumi yang melambangkan biru, Shirane yang berarti putih, dan Kurono yang berarti hitam. Berbeda dengan mereka, nama keluarga Tsukuru tidak memiliki makna warna. Perbedaan kecil itu perlahan membuatnya merasa sebagai sosok yang kosong dan tidak memiliki identitas khusus.

Perubahan besar datang ketika Tsukuru memasuki tahun kedua kuliah di Tokyo. Tanpa penjelasan apa pun, keempat sahabatnya memutuskan hubungan dengannya dan menolak segala bentuk komunikasi. Penolakan mendadak tersebut menghancurkan mental Tsukuru hingga ia sempat kehilangan semangat hidup. Selama bertahun-tahun, ia memilih menutup diri dan memendam pertanyaan yang tak pernah memperoleh jawaban.

Enam belas tahun kemudian, Sara, perempuan yang mulai mengisi hidupnya, mendorong Tsukuru untuk menghadapi masa lalu. Ia pun melakukan sebuah "ziarah", bukan dalam arti perjalanan spiritual, melainkan upaya menelusuri kembali orang-orang yang pernah meninggalkannya demi mengetahui penyebab sebenarnya.

Pencarian tersebut membuka fakta yang selama ini tersembunyi. Akamatsu dan Oumi ternyata menjauhinya karena mempercayai tuduhan yang disampaikan Shirane. Tragisnya, Shirane telah meninggal enam tahun sebelumnya akibat menjadi korban pembunuhan. Sementara itu, Kurono yang kini tinggal di Finlandia mengungkapkan kenyataan bahwa tuduhan terhadap Tsukuru sama sekali tidak benar. Dari sanalah seluruh kesalahpahaman yang menghancurkan hidup Tsukuru mulai terurai.

Setelah memahami apa yang sebenarnya terjadi, Tsukuru akhirnya mampu menerima dirinya sendiri. Ia tidak lagi menganggap dirinya sebagai sosok "tanpa warna". Sebaliknya, ia menyadari bahwa setiap orang memiliki nilai dan keunikan masing-masing, sekalipun tidak selalu tampak menonjol. Kesadaran itu juga memberinya keberanian untuk melangkah ke masa depan serta mempertahankan hubungannya dengan Sara.

Sebagai novel kedua Haruki Murakami yang saya baca, pengalaman membacanya justru menguatkan kesan bahwa gaya penulisan Murakami bukanlah favorit saya. Meski begitu, saya tetap menuntaskan bacaan ini karena sudah terlanjur membeli bukunya dan penasaran dengan karya seorang penulis yang begitu terkenal di dunia.

Menurut saya, alur ceritanya berkembang sangat perlahan. Banyak bagian yang terasa bertele-tele sehingga membuat saya beberapa kali bosan, bahkan mengantuk. Dengan ketebalan sekitar 352 halaman, ritme cerita yang lambat menjadi tantangan tersendiri untuk diselesaikan.

Di balik kekurangan tersebut, novel ini tetap menyimpan banyak pelajaran berharga. Konflik utama berawal dari prasangka dan minimnya komunikasi. Seandainya semua pihak bersedia berbicara secara terbuka sejak awal, penderitaan Tsukuru mungkin tidak akan berlangsung begitu lama. Pesan ini mengingatkan saya agar tidak mudah berasumsi dan memilih berdialog ketika menghadapi persoalan.

Saya juga menyukai makna di balik judul novel ini. Dibutuhkan waktu enam belas tahun bagi Tsukuru untuk mengumpulkan keberanian menghadapi masa lalunya. "Ziarah" yang dimaksud ternyata merupakan metafora perjalanan emosional untuk menemukan kebenaran dan berdamai dengan luka. Murakami menunjukkan bahwa proses menjadi dewasa menuntut keberanian menggali diri sendiri, sekaligus menerima bahwa menjadi berbeda atau tampak "biasa" bukanlah sebuah kekurangan, melainkan identitas yang patut dirangkul.

Identitas Buku

Judul: Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786024248369

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda