Ulasan

Review Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan: Tujuh Kisah Tentang Sepi dan Kehilangan

Review Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan: Tujuh Kisah Tentang Sepi dan Kehilangan
Lelaki-lelaki tanpa Perempuan (Gramedia)

Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan merupakan kumpulan tujuh cerita pendek (cerpen) karya Haruki Murakami yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Berbeda dengan novel panjang yang memiliki satu alur utama, buku ini menghadirkan tujuh kisah yang berdiri sendiri, tetapi saling terhubung melalui benang merah berupa kesepian, kehilangan, dan kerinduan. Seluruh cerita menyoroti kehidupan para pria yang harus melanjutkan hidup setelah perempuan-perempuan penting dalam hidup mereka menghilang, baik karena kematian, perpisahan, maupun alasan yang tak pernah benar-benar mereka pahami.

Murakami kembali mempertahankan gaya penulisannya yang khas. Ia memadukan percakapan yang tenang, musik jazz, kenangan masa lalu, serta sentuhan realisme magis yang membuat batas antara kenyataan dan imajinasi terasa samar. Suasana yang dibangun cenderung melankolis, namun justru itulah yang membuat setiap cerita meninggalkan kesan mendalam.

Cerita pembuka, Drive My Car, mengisahkan seorang aktor teater yang telah kehilangan istrinya. Ia kemudian mempekerjakan seorang sopir perempuan untuk mengantarnya ke berbagai tempat. Perjalanan-perjalanan tersebut perlahan berubah menjadi ruang untuk mengenang, berbagi cerita, dan menerima kenyataan bahwa rasa kehilangan tidak pernah benar-benar hilang.

Dalam Yesterday, Murakami membawa pembaca kembali ke masa muda melalui kisah seorang mahasiswa yang secara tidak biasa meminta sahabatnya berkencan dengan kekasihnya sendiri. Permintaan aneh itu memunculkan pertanyaan tentang identitas, rasa percaya diri, dan hubungan antarmanusia yang sering kali sulit dijelaskan secara logis.

Cerita Organ menghadirkan sosok dokter bedah yang dikenal gemar berganti pasangan tanpa pernah benar-benar jatuh cinta. Namun ketika akhirnya ia menemukan seseorang yang mampu mengubah hidupnya, kebahagiaan tersebut justru berakhir dengan kehilangan yang menghancurkan seluruh pandangannya tentang cinta.

Nuansa berbeda hadir dalam Keluarga Samsa, sebuah cerita yang terasa seperti penghormatan terhadap karya Franz Kafka. Tokoh utamanya terbangun dalam dunia yang asing dan dingin, lalu berusaha memahami lingkungan yang terasa tidak lagi masuk akal. Cerita ini dipenuhi simbol-simbol yang membuka ruang interpretasi bagi pembacanya.

Selanjutnya, Shahrzad menyajikan kisah seorang pria paruh baya yang rutin dikunjungi perempuan misterius. Seusai hubungan intim mereka, perempuan itu selalu menceritakan pengalaman hidupnya yang ganjil. Kisah-kisah tersebut menjadi daya tarik utama sekaligus menghadirkan nuansa surealis yang identik dengan Murakami.

Pada Kino, pembaca mengikuti perjalanan seorang pria yang membuka kedai kopi kecil setelah istrinya memilih meninggalkannya demi laki-laki lain. Di tengah rutinitas sederhana mengelola kedai, ia berusaha menyusun kembali hidupnya sambil berdamai dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Cerita penutup yang juga berjudul Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan menjadi simpulan emosional dari keseluruhan buku. Murakami menggambarkan bagaimana seseorang dapat merasa benar-benar sendiri ketika seluruh perempuan yang pernah mengisi hidupnya telah pergi, menyisakan ruang kosong yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Judul buku ini langsung menarik perhatian saya sejak pertama kali melihatnya. Ada sesuatu yang membuat saya penasaran sehingga rasanya sulit untuk melewatkannya. Dengan ketebalan sekitar 268 halaman, proses membacanya terasa ringan dan tidak menguras tenaga. Meski demikian, saya mengakui ada beberapa cerita yang sempat membuat saya kebingungan karena simbolisme yang digunakan, bahkan sesekali terasa berjalan lambat sehingga memunculkan rasa bosan.

Di balik kebingungan tersebut, saya justru menemukan pemahaman yang berharga. Buku ini menyadarkan saya bahwa mustahil mengenal seseorang secara utuh, bahkan orang yang paling kita cintai sekalipun. Selalu ada bagian dari pikiran, perasaan, dan rahasia yang tetap menjadi wilayah pribadi dan tidak pernah sepenuhnya dapat dipahami oleh orang lain.

Hal lain yang paling membekas adalah cara Murakami memotret laki-laki. Buku ini meruntuhkan anggapan bahwa pria harus selalu tampak tegar. Melalui ketujuh cerpennya, pembaca diperlihatkan bahwa laki-laki juga dapat rapuh, terluka, menangis dalam diam, dan merasakan kehilangan sedalam siapa pun.

Itulah yang membuat Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan bukan sekadar kumpulan cerita pendek, melainkan refleksi emosional tentang cinta, kesendirian, dan proses menerima kehilangan yang akan tetap relevan bagi banyak pembaca.

Identitas Buku

Judul: Lelaki-lelaki tanpa Perempuan
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786024817664

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda