Ulasan
Ulasan Toy Story 5: Ketika Gadget Perlahan Mengambil Alih Masa Kecil Anak
Ada satu hal yang membuat Toy Story 5 terasa berbeda dari film-film sebelumnya. Kali ini, musuh yang harus dihadapi Woody, Buzz, Jessie, dan kawan-kawan bukan sekadar mainan yang bermasalah atau perpisahan dengan pemiliknya.
Musuh mereka adalah sesuatu yang mungkin justru ada di tangan kita saat membaca tulisan ini, gadget.
Setelah bertahun-tahun membawa cerita tentang persahabatan, kehilangan, perpisahan, dan arti menjadi sebuah mainan, Pixar akhirnya membawa Toy Story ke persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak hari ini.
Dalam film kelima ini, teknologi mulai mengambil alih waktu bermain Bonnie. Kehadiran Lilypad, sebuah tablet yang dibuat untuk menjadi teman bermain anak, membuat mainan-mainan tradisional mulai kehilangan tempatnya.
Dan jujur saja, menonton premis tersebut membuat saya berpikir, bukankah ini memang yang sedang terjadi saat ini?
Dulu, anak-anak mungkin akan meminta dibelikan boneka, mobil-mobilan, puzzle, atau seperangkat alat menggambar. Sekarang, tidak sedikit anak yang justru lebih mudah tenang ketika sebuah layar diberikan kepada mereka.
Menangis? Berikan gadget. Bosan? Berikan gadget. Tidak mau makan? Putarkan video. Orang tua sedang sibuk? Berikan tablet. Awalnya mungkin terlihat seperti solusi sederhana.
Tetapi Toy Story 5 seolah mengajak kita berhenti sebentar dan bertanya, kalau gadget terus menjadi teman utama anak, lalu apa yang perlahan-lahan hilang dari masa kecil mereka? Bonnie menjadi gambaran kecil dari persoalan tersebut.
Ketika teknologi hadir dengan warna-warni, suara, permainan, dan berbagai hal yang dirancang untuk menarik perhatian, mainan tradisional tentu terlihat kalah menarik. Gadget bisa memberikan sesuatu yang terus bergerak dan berubah.
Sementara boneka hanya diam. Mobil-mobilan tidak bisa mengeluarkan suara sendiri. Balok tidak akan menyusun dirinya sendiri menjadi sebuah bangunan. Tetapi justru di situlah letak persoalannya.
Mainan membutuhkan imajinasi anak untuk menjadi berarti. Sebuah boneka tidak akan berbicara kalau anak tidak mengajaknya berbicara. Sebuah kardus bisa berubah menjadi rumah, mobil, kapal, bahkan pesawat jika seorang anak membiarkan imajinasinya bekerja.
Berbeda dengan gadget yang sebagian besar pengalaman bermainnya sudah disediakan. Anak tinggal menonton. Tinggal menekan. Tinggal menggeser layar. Mungkin karena itu Toy Story 5 terasa cukup relevan untuk orang dewasa. Film ini sebenarnya tidak sedang mengatakan bahwa teknologi adalah sesuatu yang jahat.
Bahkan para pembuat filmnya sendiri menjelaskan bahwa teknologi tidak mungkin begitu saja dihilangkan dari kehidupan manusia. Persoalannya adalah bagaimana teknologi dan permainan bisa hidup berdampingan tanpa membuat salah satunya benar-benar kehilangan tempat.
Dan menurut saya, ini adalah bagian paling menarik dari filmnya. Anak-anak tidak pernah tiba-tiba memutuskan bahwa layar adalah teman terbaik mereka. Mereka diperkenalkan kepada layar, dibiasakan dengannya, kemudian perlahan merasa nyaman berada di dalamnya.
Karena itu, Toy Story 5 menurut saya bukan hanya film tentang anak dan gadget. Film ini juga menjadi pengingat bagi orang tua tentang bagaimana teknologi diperkenalkan kepada anak. Sebab kita perlu khawatir akan adanya kemungkinan gadget menjadi satu-satunya sumber hiburan, ketenangan, dan perhatian bagi seorang anak.
Ada perbedaan besar antara menggunakan teknologi dan bergantung kepada teknologi. Mereka perlu merasakan bagaimana serunya berlari sampai kelelahan, bermain bersama teman, menggambar sesuatu yang bentuknya tidak sempurna, atau menyusun balok tanpa tahu akan menjadi apa.
Di balik pertarungan antara mainan klasik dan teknologi modern, film ini tetap berbicara tentang satu hal yang sejak dulu menjadi jantung waralaba ini, arti kehadiran seseorang dalam kehidupan kita. Teknologi bisa memberikan banyak hal kepada anak. Tetapi ada hal-hal yang tidak bisa diberikan oleh sebuah layar.
Dan mungkin, seperti yang selalu diajarkan Toy Story, yang paling berharga dari masa kecil bukanlah benda yang kita miliki. Melainkan kenangan yang kita buat bersamanya.