Ulasan
Review The War of the Worlds: Kisah Invasi Alien yang Sarat Kritik Sosial
Awalnya saya sama sekali tidak berniat membeli The War of the Worlds karya H. G. Wells. Alasannya sederhana, novel ini menggunakan bahasa Inggris sehingga saya ragu bisa menikmati isinya. Namun ketika melihat harganya sedang turun menjadi hanya Rp20.000, bahkan lebih murah daripada segelas kopi kekinian, saya berubah pikiran. Saya menganggapnya sebagai kesempatan bagus untuk menambah kosakata bahasa Inggris sekaligus mencoba membaca karya sastra klasik yang selama ini sering disebut sebagai pelopor fiksi ilmiah.
Di luar dugaan, pengalaman membacanya justru sangat menyenangkan. Saya tidak menyangka cerita tentang invasi makhluk luar angkasa bisa dikemas sedemikian menegangkan. Dengan ketebalan sekitar 312 halaman, alur yang disajikan terasa padat dan membuat saya terus ingin mengetahui kelanjutan ceritanya. Kendala terbesar memang terletak pada penggunaan bahasa Inggris yang cukup klasik sehingga beberapa kosakata harus saya cari artinya terlebih dahulu. Meskipun demikian, kesulitan tersebut tidak mengurangi kenikmatan mengikuti kisah yang disuguhkan.
Cerita bermula ketika sebuah benda berbentuk silinder misterius jatuh di kawasan Horsell Common, dekat Woking, Inggris. Penduduk yang penasaran segera mendatangi lokasi tersebut tanpa mengetahui bahwa benda itu berasal dari Mars. Tidak lama kemudian, makhluk-makhluk asing keluar dari dalam silinder. Penampilan mereka jauh dari bayangan manusia tentang alien; tubuh mereka menyerupai gurita raksasa dengan kepala besar, tanpa struktur tulang yang kuat sehingga sulit bergerak di bawah gravitasi Bumi.
Harapan masyarakat untuk melakukan kontak secara damai sirna dalam sekejap. Alih-alih menunjukkan niat bersahabat, para penghuni Mars langsung menyerang menggunakan senjata mematikan berupa sinar panas yang mampu membakar siapa pun dalam hitungan detik. Sejak saat itu, kepanikan meluas dan Inggris berubah menjadi wilayah yang dipenuhi ketakutan.
Situasi semakin mengerikan ketika para alien mengoperasikan mesin perang berkaki tiga atau Tripod. Kendaraan raksasa tersebut mampu bergerak bebas menghancurkan kota-kota, sementara gas hitam beracun yang mereka lepaskan membuat siapa pun yang menghirupnya kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup. Teknologi manusia saat itu terlihat sangat tertinggal sehingga pasukan militer tidak mampu memberikan perlawanan yang berarti.
Di tengah kekacauan tersebut, narator utama berusaha membawa istrinya menuju tempat yang lebih aman. Pada saat yang sama, saudaranya menghadapi kepanikan besar di London sebelum akhirnya berhasil melarikan diri ke luar negeri. Berbagai kisah penyintas memperlihatkan bagaimana masyarakat kehilangan harapan ketika menyaksikan peradaban yang selama ini mereka banggakan runtuh begitu cepat di hadapan kekuatan yang jauh lebih maju.
Menariknya, penyelesaian cerita tidak mengandalkan kemenangan heroik manusia melalui peperangan besar. Justru ketika semua orang mulai menerima kemungkinan bahwa umat manusia akan punah, para makhluk Mars mendadak berguguran. Penyebabnya bukan senjata canggih ataupun strategi militer, melainkan bakteri dan mikroorganisme yang telah lama hidup di Bumi. Karena tidak memiliki kekebalan terhadap organisme tersebut, para penjajah dari Mars akhirnya tewas satu per satu.
Bagi saya, bagian inilah yang membuat novel ini terasa jauh lebih bermakna daripada sekadar kisah peperangan melawan alien. Setelah selesai membaca, saya menyadari bahwa H. G. Wells sedang menyampaikan kritik yang sangat tajam terhadap kesombongan manusia, praktik imperialisme, sekaligus anggapan bahwa manusia merupakan penguasa mutlak di alam semesta.
Bangsa Mars dapat dipahami sebagai simbol negara-negara imperialis, termasuk Inggris pada masanya, yang merasa memiliki hak untuk menaklukkan bangsa lain yang dianggap lebih lemah. Ironisnya, ketika manusia berhadapan dengan peradaban yang memiliki teknologi jauh lebih unggul, posisi mereka berubah menjadi pihak yang tertindas dan tidak berdaya. Melalui sudut pandang tersebut, Wells seolah mengajak pembaca merasakan bagaimana rasanya menjadi korban penjajahan.
Selain itu, novel ini juga mengingatkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari alam semesta. Dominasi teknologi ternyata tidak selalu menentukan kemenangan. Kehancuran bangsa Mars justru disebabkan oleh makhluk hidup mikroskopis yang selama ini dianggap remeh. Pesan tersebut menunjukkan bahwa alam memiliki keseimbangannya sendiri dan sering kali bekerja dengan cara yang tidak pernah diperkirakan manusia.
The War of the Worlds bukan hanya sebuah novel fiksi ilmiah yang penuh ketegangan, tetapi juga karya sastra yang menawarkan refleksi mendalam mengenai kekuasaan, kesombongan, dan rapuhnya posisi manusia di tengah luasnya alam semesta. Meski bahasa Inggrisnya cukup menantang, saya merasa pengalaman membaca novel ini sangat memuaskan dan layak direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin menikmati cerita klasik dengan makna yang tetap relevan hingga sekarang.
Identitas Buku
Judul: The War of The Worlds
Penulis: H.G. Wells
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Inggris
ISBN: 9786020386621