Ulasan

Memaknai Lagu Selesai: Saat Cinta dalam Diam Harus Belajar Melepaskan

Memaknai Lagu Selesai: Saat Cinta dalam Diam Harus Belajar Melepaskan
Selesai, Official Lyric Video (YouTube/Shabrina Leanor)

Mencintai seseorang dalam diam mungkin terlihat sebagai pilihan yang paling aman. Kita tidak perlu takut ditolak, tidak perlu cemas kehilangan karena memang belum pernah memiliki. Namun, justru di sanalah letak luka yang paling sulit dijelaskan lahir. Dan bagi orang yang mengalaminya, memendam perasaan terhadap orang lain nggak semudah yang terlihat dari luar. Apalagi jika dia adalah sosok yang selama ini selalu kita dengarkan cerita dan keluh kesahnya setiap hari. Lebih sakitnya lagi, ketika kita menjadi pendengar setia saat dia bercerita tentang seseorang yang begitu dicintainya.

Mungkin yang paling melelahkan dari mencintai dalam diam bukan karena perasaannya tidak terbalas. Melainkan karena kita harus terus berpura-pura baik-baik saja. Tetap menjadi teman yang mendengarkan ceritanya, ikut tertawa saat ia bahagia bersama orang lain, bahkan menjadi orang pertama yang memberi selamat atas kebahagiaan yang diam-diam menghancurkan hati kita sendiri. Di saat yang sama, kita juga harus menyembunyikan kenyataan bahwa orang yang sedang kita hibur justru menjadi sumber luka terbesar yang kita rasakan.

Belum lama ini, Shabrina Leanor merilis sebuah single berjudul Selesai. Lagu yang bercerita tentang seseorang yang mencintai dalam diam dan menjadi pendengar setia dari orang yang dicintainya. Namun, di satu titik, ia terluka karena perasaannya yang ternyata tak terbalas dan orang itu menemukan kebahagiannya bersama yang lain. Akhirnya ia pun memilih menutup halaman teakhir kisah mereka.

“Niatnya meringankanmu dengarkan cerita tentang dia, malah cemburu jadinya.

Selesai dibuka bait lirik yang terasa relate. Terkadang seseorang memilih menjadi pendengar yang baik dengan tujuan untuk meringankan beban orang lain. Namun, bagaimana jika orang yang didengar itu adalah sosok yang diam-diam kita cintai? Berkali-kali kita harus mendengarkan dia bercerita tentang seseorang yang dia cintai dan itu bukan kita. Tanpa pernah sekalipun mengungkapkan perasaan, wajarkah jika kita merasa cemburu ketika mendengarnya bercerita tentang orang lain?

Apalagi saat mendengar kabar bahagia tentang mereka berdua. Sebagai teman yang baik, kita tetap mencoba ikut terlihat senang, walaupun hati rasanya seperti tercabik-cabik. Memaksa tersenyum, meski mata terasa perih. Sebab setiap kebahagiaan yang ia ceritakan, diam-diam berubah menjadi luka yang harus kita simpan sendiri. Maka ada kalanya, kita bertanya: haruskah bertahan dan tetap menjadi pendengarnya yang setia?

“Selesai, sampai akhir halaman terakhir. Buku cerita kita tutup sampai di sini.”

Terkadang, kita berpikir bahwa mungkin lebih baik jika kita tutup saja cerita sampai di sini. Bukan hanya menutup hubungan yang tidak pernah terjadi, tetapi juga seluruh kemungkinan yang selama ini diam-diam kita rawat dalam kepala. Merelakan tentu bukan hal yang mudah dilakukan, apalagi jika perasaan yang kita miliki telanjur dalam. Namun, bisakah kita bertahan sementara dia sudah menemukan kebahagiannya sendiri? Rasanya, terlalu menyakitkan jika tetap berada di sisinya, sedangkan dia sudah bersama yang lain.

“Selesai, bukan berarti kau tak ber-arti. Bila usai kujahit lukaku, mungkin aku masih di sini menunggu. Tapi ku tak berani sumpah, setidaknya sekarang kulelah. Mungkin lusa berubah.”

Ketika kita memilih untuk merelakannya, bukan berarti perasaan yang kita miliki lantas hilang begitu saja. Ia tak bisa dipaksa hilang hanya karena kita memutuskan untuk merelakan. Hati sering kali membutuhkan waktu lebih lama daripada logika untuk benar-benar melepaskan seseorang. Entah berapa lama waktu yang kita butuhkan, tapi setidaknya sekarang kita masih perlu jeda dan memberi jarak barang sejenak.

“Apa kau pikir ini mudah? Kadang mengalah tak selalu berarti kalah.”

Tentu, bukan hal yang mudah untuk merelakan dan melupakan seseorang yang pernah kita cintai. Namun, merelakan seseorang yang bahkan tidak pernah menjadi milik kita bukan berarti kita kalah. Bahkan terkadang, itu menjadi bentuk paling tulus dari mencintai. Membiarkan dia berbahagia dengan pilihannya sendiri, meski yang dia pilih bukan diri kita.

Setelah mengulang bagian reff, lagu ditutup dengan satu kalimat yang masih terasa menyayat hati. “Ku tak janji masih di sini untukmu.” Kita mungkin mencoba merelakan, tetapi untuk tetap berada di sisinya dan menjadi pendengarnya yang paling setia, kita tak bisa menjanjikan itu. Karena kini, sudah ada hati lain yang harus ia jaga. Sementara kita, masih harus belajar menjahit luka yang tertinggal sebab perasaan yang tak pernah sempat terucap.

Secara keseluruhan, Selesai menggambarkan bahwa mungkin ada cinta yang memang tidak ditakdirkan untuk dimiliki. Namun, bukan berarti ia sia-sia. Sebab dari cinta yang tak pernah terucap itulah kita belajar tentang mengikhlaskan, menjaga jarak, dan perlahan menyembuhkan diri. Terkadang, mengakhiri sebuah cerita bukan berarti berhenti mencintai, melainkan mulai memilih mencintai diri sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda