Ulasan
Realita Perpisahan dalam Lagu Rutinitas yang Nggak Cuma Bikin Patah Hati
Apa yang pertama kali terlintas di pikiran Sobat Yoursay ketika mendengar kata "perpisahan"?
Berpisah dengan seseorang yang sudah lama membersamai kita tentu bukanlah hal yang mudah. Selalu ada rasa sakit yang mengikutinya. Namun, yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan bukan hanya patah hatinya, tetapi menghadapi hari-hari yang terasa berbeda tanpa keberadaan orang yang selalu di sisi kita selama ini. Bahkan tidak jarang, perpisahan bisa membuat kita linglung. Bingung dengan apa yang harus kita lakukan setelahnya. Sebab rutinitas yang sebelumnya biasa dilakukan bersama, kini sepenuhnya menjadi milik kita sendiri. Mungkin karena itulah perpisahan sering kali menjadi hal terakhir yang diinginkan banyak orang.
Melalui lagunya yang berjudul Rutinitas, saya rasa itulah yang ingin disampaikan oleh Brigitta Meliala atau yang kita kenal dengan nama panggung Idgitaf. Di balik liriknya yang sederhana, lagu ini menyimpan makna yang cukup dalam tentang realitas pahit kehidupan setelah berpisah dengan seseorang yang berharga bagi kita atau bahasa gaulnya biasa disebut life after break up.
"Jika kita berpisah, rutinitasku apa? Cara hidupku yang dulu, waktu itu apa?"
Bait pertama dengan dua pertanyaan emosional yang menyiratkan kebingungan seseorang di fase awal perpisahan. Ketika selama ini ia sudah terbiasa berbagi kehidupan dengan pasangan, perpisahan membuat semuanya terasa jauh berbeda.
Rutinitas yang sebelumnya teratur, kini runtuh begitu saja. Muncul perasaan canggung, linglung, dan bingung ketika harus kembali mengingat cara untuk hidup sendiri seperti sebelum mengenalnya. Bagi banyak orang, masa ini mungkin menjadi masa yang paling sulit untuk dilalui. Namun, ia tetap harus melanjutkan hidup. Meski entah apa yang akan dilakukan ke depannya.
"Mencari normal baruku, yang di situ hanya aku. Dan pura-pura tak sadar segalanya mengingatkanku padamu."
Setelah menghadapi fase awal perpisahan yang cukup berat, selanjutnya adalah masa-masa untuk beradaptasi dengan kesendirian. Kembali dengan rutinitas baru yang terasa asing sebab hanya dirinya sendirilah yang ada di sana. Dalam prosesnya, tentu tidaklah mudah. Bayang-bayang kenangan itu masih ada di benda-benda sekitar.
Meski demikian, tidak ada yang bisa ia lakukan, selain berusaha untuk pura-pura tidak menyadari bahwa semua itu masih mengingatkannya pada seseorang yang telah pergi. Kesedihan mungkin masih tersisa, tapi ia memilih untuk menutupinya agar tidak berlarut-larut memikirkan masa lalu.
"Oh, nanti terbiasa. Deras hujan pun reda."
Di bait ini, Idgitaf menggunakan analogi "hujan reda" yang menggambarkan rasa sakit akibat perpisahan ini perlahan akan sembuh. Artinya, perlahan ia mulai berusaha menerima semuanya. Sembari terus meyakinkan diri bahwa seiring waktu ia pasti bisa terbiasa dengan semua ini.
"Oh, begitu pun aku. Kan terbit masaku dengan cinta baru. Rutinitas baru."
Selain yakin jika rasa sakit yang ia derita sekarang hanya sementara, ia juga yakin bahwa harapan itu masih ada. Suatu saat nanti, ia akan mampu kembali membuka hati untuk cinta yang baru, dengan orang baru juga rutinitas baru. Perpisahan yang sebelumnya terasa begitu menyakitkan dan kesendirian yang awalnya terasa berat, kini mulai ia terima. Hari-hari kembali ia jalani dengan ringan dan penuh harapan tentang masa depan. Sesekali, kenangan mungkin masih terlintas, tapi rasanya tak lagi sesakit dulu.
"Di dalam hati kecilku sebaiknya begitu. Kita masing-masing dulu. Jalani hari dengan sendi mengilu."
Saya rasa, inilah puncak dari lagu ini. Hari-hari yang ia jalani setelah perpisahan kala itu memang tak lagi sama. Masih ada hati yang patah dan entah kapan akan kembali seperti semula. Masih ada sakit yang tersisa. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa memang inilah keputusan terbaik untuk kedua belah pihak. Ketika bertahan malah membuat keduanya semakin terluka, mungkin perpisahan adalah jalan terbaiknya.
Pengulangan bait kedua terasa seperti upaya dia untuk menguatkan hatinya untuk terus bertahan. Setelah itu, Idgitaf juga mengulangi bagian reff beberapa kali. Repetisi pada lirik "Oh, nanti terbiasa. Deras hujan pun reda. Oh, begitu pun aku. Kan terbit masaku dengan cinta baru. Rutinitas baru." di lagu ini seolah seperti mantra yang terus diucapkan demi menanamkan keyakinan bahwa semua yang ia rasakan hari ini hanyalah proses sebelum menuju fase baru dalam hidup yang mungkin akan jauh lebih menyenangkan.
Begitulah Idgitaf menggambarkan realitas pahit yang dihadapi seseorang setelah perpisahan. Awalnya, mungkin terasa berat dan menyakitkan, tapi seiring waktu keadaan perlahan bisa membaik. Rasa sakit perlahan akan mereda, dan kita akan mulai terbiasa dengan hari-hari baru yang kita jalani tanpanya.