Ulasan
Lagu Mungkin di Depan Buram dan Harapan di Tengah Ketidakpastian Masa Depan
Mungkin di Depan Buram merupakan salah satu lagu dari album Berusaha di Bawah Hujan karya Idgitaf. Jika kita dengarkan sekilas, mungkin lagu ini seperti lagu cinta. Tentang seseorang yang menemukan pelukan ternyaman untuk pulang di tengah kegalauan tentang hidup yang penuh ketidakpastian. Namun, lebih dari itu, lagu Mungkin di Depan Buram turut menyimpan makna tentang pemulihan diri dari keputusasaan dan ketakutan melalui kehadiran seseorang yang selalu mendoakan kita. Selain itu lagu ini juga menggambarkan harapan yang muncul ketika masa depan masih terasa abu-abu.
"Aku berduka atas apiku yang lama padam, sampai ku temukanmu."
Idgitaf membuka lagu ini dengan gambaran tentang keputusasaan. Situasi ketika seseorang sedang berada di titik terendahnya, entah itu karena kelelahan mental atau trauma emosional yang masih belum terselesaikan. Ia menggunakan perumpamaan "api yang padam" untuk menunjukkan semangat dan harapan yang sudah pupus akibat situasi sulit yang dia alami. Dalam situasi seperti ini, masa depan tidak hanya terlihat jauh, tetapi juga sepenuhnya gelap.
Namun, rupanya kondisi itu perlahan membaik. Ada kehadiran sosok baru yang menyalakan kembali harapan itu. Seseorang yang ia temukan di tengah keputusasaan hidup, seseorang yang membuka jalan baginya untuk kembali bertemu dengan cahaya. Lalu terungkaplah rasa syukur di bait berikutnya.
"Pintu terbuka, saat ada doamu di sana. Jadi kesempatanku di perjalanan. Kau menemukanku dan selamatkanku."
Ketika sedang menghadapi situasi yang berat, kehadiran seseorang di sisi kita menjadi sesuatu yang sangat berharga. Mungkin, rasanya seperti ada kesempatan kedua yang muncul di tengah rasa putus asa yang menjerat diri kita. Di perjalanan hidup yang terasa membingungkan ini, kehadirannya juga terasa memberikan kompas yang menyelamatkan dan memberi ruang aman sekaligus harapan.
Sebab kita tahu, perjalanan itu tak lagi harus kita lalui seorang diri, ada doa orang lain yang menyertai langkah kita. Bait ini juga menjadi pengakuan bahwa di tengah kondisi yang terasa sulit ini, kita perlu bantuan untuk menghadapinya.
"Mungkin di depan buram, mungkin di depan seram. Tapi tak bisa kubaca mana arahku, yang tak berakhir selain di pelukanmu."
Dari keseluruhan lagu, bait ini menjadi bagian yang paling saya suka. Di sini, kita seolah dibuat mengakui realitas tentang masa depan yang memang dipenuhi ketidakpastian. Sebuah pengakuan yang perlahan mengurangi beban dan ketakutan dalam diri kita.
Bukan karena perasaan takut itu sudah menghilang sepenuhnya, tapi karena kita yang memilih tetap melangkah di tengah rasa gugup, cemas, dan takut yang masih tersisa. Dan keberanian itu muncul sebab kehadiran seseorang yang menemani perjalanan dan membuat api harapan kita kembali menyala dan tumbuh perlahan sebab ada seseorang yang kini menjadi tempat pulang.
"Di kegelapan, kita bertemu di kegelapan. Mencoba bertahan di satu genggaman."
Rupanya di sini pertemuan itu bukan hanya membawa harapan, tapi juga membawanya pada sebuah hubungan yang saling memberi dukungan. Sama-sama mencoba bertahan di satu genggaman tangan. Melangkah bersama demi terbebas dari kegelapan yang menyiksa. Menapaki langkah demi langkah menuju masa depan yang masih dipenuhi ketidakpastian. Namun, sesulit apapun jalan yang dilalui, ia kini tidak berjuang sendirian.
"Dari yang sudah lama mati tumbuh harapan. Seperti Musa yang membelah lautan merah, menembus s'gala kemustahilan."
Situasi yang dihadapi manusia biasa mungkin tidak bisa disandingkan begitu saja dengan mukjizat nabi. Keputusasaan yang dirasakan Nabi Musa saat dikejar pasukan Fir'aun mungkin juga jauh lebih berat dari yang kita rasakan sebagai manusia biasa. Namun, pada intinya, ketika seseorang berada dalam situasi semacam itu, semua terasa mustahil untuk dilakukan.
Dan sebagaimana Tuhan menolong Nabi Musa melalui mukjizat yang diberikan padanya, Tuhan jugalah yang menolong kita melalui perantara seorang hamba. Tuhan berikan harapan dan keberanian bagi kita untuk melangkah dengan kehadiran seseorang yang menemani perjuangan kita. Hingga perasaan yang semula dianggap "mati" kini bangkit dan mengikis keraguan untuk melangkah.
Selanjutnya, ada pengulangan bagian reff. Bait repetisi ini seolah juga menjadi afirmasi dan penguat bagi diri kita bahwa masa depan mungkin masih terasa menakutkan dan penuh ketidakpastian. Namun, di sini kita juga perlu mengingat bahwa rasa takut itu kini tak lagi kita hadapi seorang diri.
"Ku selamatkanmu, kau selamatkanku."
Penutup yang indah dan menghangatkan hati. Lirik yang mengakhiri lagu ini terasa seperti penegasan bahwa hubungan yang sehat adalah ketika dua orang bisa saling mendukung dan menguatkan. Tidak ada yang jadi pahlawan, yang ada hanyalah dua jiwa yang sama-sama lelah, memutuskan untuk saling bertaut di tengah kegelapan.
Melalui lagu Mungkin di Depan Buram, Idgitaf seolah menunjukkan bahwa kita mungkin tidak bisa benar-benar membaca arah masa depan. Namun, saat arah ke depan terasa kabur, yang bisa kita lakukan hanyalah fokus melihat hal-hal yang ada di depan mata sembari mengingat sosok yang terus menggenggam tangan kita selama menempuh perjalanan.