Ulasan
Belajar dari Iblis dan Maling? Seni Menang di Buku Jadilah yang Terbalik!
Apa yang terlintas di benak kalian ketika membaca judul Jadilah yang Terbalik!? Apakah pembacanya diajak melakukan sesuatu yang nyeleneh? Atau justru berpikir di luar nalar? Rasa penasaran itulah yang menjadi daya tarik utama buku karya Suryana Hasan ini.
Diterbitkan oleh Mumtaz Media pada 2013 dengan ketebalan 160 halaman, buku ini mengusung gagasan jika ingin mendapatkan hasil yang berbeda, jangan terus melakukan hal yang sama.
Isi Buku
"Terbalik" yang dimaksud penulis bukan berarti melawan aturan atau melakukan hal negatif, melainkan berani berpikir kreatif, inovatif, dan keluar dari pola pikir yang sudah terlalu umum.
Pesan tersebut disampaikan melalui bahasa yang ringan, penuh humor, dan jauh dari kesan menggurui. Alih-alih dipenuhi teori yang rumit, buku ini lebih banyak menggunakan ilustrasi, analogi, dan kisah tokoh-tokoh inspiratif sehingga pembaca diajak merenung tanpa merasa sedang dinasihati.
Salah satu bagian yang paling menarik sekaligus paling kontroversial adalah ketika penulis mengajak pembaca "belajar dari iblis." Kalimat ini tentu membuat banyak orang spontan mengernyitkan dahi. Namun, maksud penulis sama sekali bukan mengajak meniru kejahatan.
Yang ingin dipelajari justru adalah empat karakter yang dimiliki iblis: memiliki visi, berkomitmen, gigih, dan mampu menyusun rencana dengan matang. Bedanya, jika iblis menggunakan semua sifat tersebut untuk tujuan buruk, manusia seharusnya mampu memiliki kualitas yang sama untuk memperjuangkan kebaikan, memberikan manfaat bagi sesama, dan meraih ridha Tuhan.
Cara penyampaian seperti ini menjadi ciri khas buku ini. Penulis sengaja menggunakan contoh-contoh yang tidak biasa agar pembaca berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam.
Contoh lain yang tidak kalah menarik adalah ketika penulis membahas tentang "belajar dari maling." Sekali lagi, bukan mencuri yang diajarkan, melainkan etos kerjanya.
Penulis mengutip prinsip sederhana: "Sedikit bicara, banyak bekerja." Seorang pencuri tidak menghabiskan waktunya untuk mengumbar rencana. Ia bekerja diam-diam. Dari analogi itu, pembaca diajak memahami bahwa kesuksesan lebih banyak lahir dari tindakan nyata daripada sekadar kata-kata. Dalam istilah populer sekarang, prinsip tersebut dikenal sebagai talk less, do more.
Pesan ini terasa sangat relevan di era media sosial. Tidak sedikit orang yang sibuk mengumumkan target, memamerkan rencana, atau mendiskusikan impian tanpa pernah benar-benar memulainya. Buku ini mengingatkan bahwa hasil hanya datang kepada mereka yang bergerak, bukan sekadar berbicara.
Kelebihan dan Kekurangan
Bagian favoritku adalah bab "The Leaders are The Readers." Suryana Hasan meyakini bahwa hampir semua pemimpin besar memiliki satu kebiasaan yang sama, yakni gemar membaca. Penulis kemudian menghadirkan berbagai contoh tokoh dunia yang menjadikan membaca sebagai bagian penting dalam hidup mereka.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dikenal memiliki koleksi buku yang sangat banyak dan membaca literatur dari berbagai bahasa. Bruce Lee, yang lebih dikenal sebagai legenda bela diri, ternyata juga merupakan pembaca filsafat yang tekun.
Bahkan Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai sosok yang mampu "membaca" kehidupan, alam semesta, dan tanda-tanda kebesaran Tuhan meskipun tidak membaca buku dalam pengertian modern.
Melalui contoh-contoh tersebut, penulis ingin menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar menambah informasi, tetapi memperluas cara berpikir dan melahirkan kepemimpinan.
Konsep lain yang menarik adalah permainan kata tentang pemimpin dan pemimpi. Menurut penulis, setiap pemimpin besar selalu diawali oleh mimpi yang besar. Namun mimpi saja tidak cukup. Harus ada tambahan "N", yang dimaknai sebagai nilai. Nilai berupa integritas, kerja keras, disiplin, dan kontribusi yang membuat seseorang layak menjadi pemimpin.
Pesan Moral
Jika banyak orang berpikir harus sukses terlebih dahulu baru bisa berbagi, penulis justru menawarkan perspektif sebaliknya. Bersedekah terlebih dahulu sebagai bagian dari proses menuju kesuksesan. Gagasan ini dipadukan dengan pentingnya membangun kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Menjelang akhir buku, pembaca disuguhkan berbagai contoh usaha dan bisnis yang berhasil karena berani tampil berbeda. Penulis menunjukkan bahwa inovasi sering kali lahir dari keberanian menolak cara-cara lama yang sudah dianggap biasa. Menjadi "terbalik" dalam konteks ini berarti menemukan pendekatan baru yang lebih efektif, kreatif, dan bernilai.
Meski demikian, sebagian gagasan dalam buku ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Beberapa prinsip seperti pentingnya membaca, membangun kebiasaan, atau berpikir kreatif sudah banyak dibahas dalam buku pengembangan diri lainnya. Yang membedakan Jadilah yang Terbalik! adalah cara penyampaiannya. Suryana Hasan mampu mengemas pesan-pesan tersebut dengan analogi yang unik, jenaka, dan mudah diingat.
Pada akhirnya, buku ini mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari keberanian melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Jika selama ini kita terus melakukan hal yang sama tetapi berharap hasil yang berbeda, mungkin memang sudah waktunya menjadi terbalik. Bukanmelawan kebaikan, melainkan berani keluar dari pola pikir yang monoton.
Karena sering kali, jalan menuju kesuksesan bukan ditemukan oleh mereka yang mengikuti arus, tetapi oleh mereka yang berani menciptakan arusnya sendiri.
Identitas Buku
- Judul: Jadilah yang Terbalik!
- Penulis: Suryana Hasan
- Penerbit: Mumtaz Media
- Kota Terbit: Surabaya
- Tahun Terbit: 2013
- Tebal: vi + 160 halaman
- ISBN: 978-602-9293-08-1