Ulasan
Review Film 12.12: The Day, Perebutan Kekuasaan Oleh Ambisi Militer
Sinema Korea Selatan memiliki tradisi panjang dalam membedah panggung politik dan masa-masa tergelap sejarah nasionalnya melalui narasi audio-visual yang menggugah. Dalam lanskap tersebut, film 12.12: The Day yang disutradarai oleh Kim Sung-su hadir sebagai sebuah pencapaian sinematik monumental yang merekonstruksi peristiwa kudeta militer pada 12 Desember 1979.
Berlatar pasca-pembunuhan Presiden Park Chung-hee, karya drama-thriller politik ini berhasil mencatatkan rekor fenomenal di bioskop domestik dengan meraih lebih dari 12 juta penonton serta pendapatan global melampaui 93 juta dolar AS, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu karya terlaris sepanjang masa dalam sejarah perfilman Korea Selatan.
Daya tarik utama dari film ini terletak pada kemampuannya mentransformasikan catatan sejarah yang rumit menjadi ketegangan psikologis yang meluap-luap sepanjang sembilan jam krisis kudeta. Dengan mengadu ambisi politis kelompok militer rahasia Hanahoe di bawah pimpinan Komandan Chun Doo-gwang melawan integritas moral Komandan Pertahanan Ibu Kota Lee Tae-shin, 12.12: The Day menyajikan eksplorasi mendalam mengenai perebutan kekuasaan, pengkhianatan hierarki, dan kerapuhan tatanan demokratis.
Sinopsis Film 12.12: The Day
Kisah bermula pada Oktober 1979 ketika Presiden Park Chung-hee tewas terbunuh, menciptakan kekosongan kekuasaan yang secara mendadak mengguncang stabilitas nasional Korea Selatan. Penjabat Presiden Choi Han-gyu mengumumkan keadaan darurat militer dan menunjuk Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Jeong Sang-ho, sebagai Komandan Darurat Militer.
Dalam situasi krisis ini, Mayor Jenderal Chun Doo-gwang, Komandan Komando Keamanan Pertahanan, ditunjuk untuk memimpin tim investigasi pembunuhan presiden. Namun, Chun Doo-gwang menggunakan wewenang tersebut secara oportunis untuk memperkuat posisinya dan menghimpun kekuatan di dalam Hanahoe, sebuah kelompok rahasia yang terdiri dari para perwira militer ambisius.
Melihat pergerakan Chun Doo-gwang yang kian mengancam netralitas militer, Jenderal Jeong Sang-ho berupaya melakukan reorganisasi dengan melantik Mayor Jenderal Lee Tae-shin sebagai Komandan Pertahanan Ibu Kota. Lee Tae-shin dikenal sebagai perwira yang sangat disiplin, berintegritas tinggi, serta teguh pada prinsip bahwa tentara tidak boleh mencampuri urusan politik.
Menyadari ancaman pemindahan tugas dari Jenderal Jeong, Chun Doo-gwang melancarkan rencana kudeta kilat pada malam 12 Desember 1979. Tanpa persetujuan resmi dari Penjabat Presiden, faksi Hanahoe menculik dan menangkap Jenderal Jeong Sang-ho atas tuduhan palsu keterlibatan dalam konspirasi pembunuhan presiden.
Tindakan sewenang-wenang tersebut menyulut pertarungan taktis yang berlangsung selama sembilan jam di pusat kota Seoul. Lee Tae-shin secara gigih memobilisasi unit-unit yang masih setia kepada komando resmi untuk mengepung para pembelot dan mempertahankan kedaulatan hukum.
Di sisi lain, Chun Doo-gwang menggunakan jaringan komunikasi rahasia, taktik manipulasi psikologis, serta intimidasi terhadap para pejabat kementerian yang ragu-ragu guna merebut kendali atas unit-unit tempur strategis. Ketegangan memuncak dalam perebutan gerbang komando dan konvoi tank di jalanan ibu kota, yang akhirnya menentukan nasib peralihan kekuasaan politik di Korea Selatan.
Kelebihan
Sutradara Kim Sung-su menunjukkan kepiawaian luar biasa dalam menjaga ketegangan naratif sepanjang durasi 141 menit. Meskipun hasil akhir dari kudeta 1979 merupakan fakta sejarah yang sudah diketahui umum, pembuat film berhasil menyuntikkan elemen thriller yang membuat penonton berada dalam kecemasan konstan.
Keunggulan terbesar film ini terletak pada performa akting para pemeran utamanya. Hwang Jung-min memberikan penampilan yang fenomenal dengan mentransformasi dirinya secara fisik dan emosional menjadi sosok Chun Doo-gwang yang manipulatif, sosiopatik, namun karismatik. Karakter ini disandingkan secara kontras dengan penampilan Jung Woo-sung sebagai Lee Tae-shin yang menampilkan ketenangan, keteguhan moral, dan rasa frustrasi mendalam dari seorang prajurit sejati.
Pengolahan tata musik oleh Lee Jae-jin turut memperkuat ritme cerita, menghadirkan dentuman melodi yang secara bertahap meningkatkan tensi seiring berjalannya waktu.
Kekurangan
Di balik kesuksesan teknis dan estetiknya, 12.12: The Day memiliki beberapa keterbatasan struktural. Salah satu aspek yang menonjol adalah minimnya ruang bagi karakter perempuan dalam alur cerita utama. Sebagian besar tokoh wanita hanya ditampilkan secara marginal sebagai pendorong emosi sekunder bagi para karakter pria, sehingga dinamika film terasa sangat terfokus pada maskulinitas militer.
Selain itu, pendekatan penggambaran karakter menggunakan dikotomi biner yang cukup tajam antara kebaikan dan kejahatan. Meskipun dramaturgi ini sangat berhasil dalam menggugah emosi penonton, dramatisasi tersebut sedikit mengabaikan kompleksitas abu-abu dan posisi ambigu yang dihadapi oleh sebagian perwira menengah pada malam kejadian.
Bagi penonton internasional yang belum familiar dengan terminologi militer dan lanskap politik Korea Selatan era 1970-an, bagian awal film juga menghadirkan arus informasi dan pengenalan tokoh yang sangat padat, sehingga membutuhkan konsentrasi ekstra untuk memahami relasi antar-faksi.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, 12.12: The Day berdiri sebagai sebuah pencapaian sinematik luar biasa yang berhasil memadukan hiburan bertensi tinggi dengan kritik sejarah yang tajam. Melalui pengarahan teknis yang matang dari Kim Sung-su serta penampilan akting yang memukau dari jajaran pemerannya, film ini mampu menghidupkan kembali malam paling menentukan dalam sejarah modern Korea Selatan tanpa kehilangan keakuratan emosional peristiwanya.
Dengan menyoroti keberanian moral individu di tengah pengkhianatan sistemik, 12.12: The Day menegaskan bahwa perjuangan menegakkan keadilan membutuhkan pengorbanan yang nyata. Karya ini tidak hanya layak mendapat tempat teratas dalam sejarah sinema Korea Selatan, tetapi juga menjadi bahan refleksi berharga bagi publik global dalam mengawal nilai-nilai demokrasi.