Ulasan
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
Ibuk merupakan novel karya Iwan Setyawan yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2012. Novel setebal sekitar 293 halaman ini bercerita tentang kehidupan Tinah bersama suaminya, Hasyim, dan kelima anak mereka. Ceritanya banyak mengambil kehidupan keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, tetapi tetap berusaha memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya.
Cerita bermula ketika Tinah masih muda dan berjualan baju bekas bersama ibunya di Pasar Batu. Di tempat itulah ia bertemu Hasyim, seorang kenek angkot. Pertemuan tersebut kemudian membawa keduanya ke pernikahan dan kehidupan baru sebagai pasangan suami istri. Dari pernikahan itu, mereka memiliki lima anak dan mulai membangun keluarga dengan segala keterbatasan yang ada.
Kehidupan mereka jauh dari kata mudah. Hasyim bekerja sebagai sopir angkot, sedangkan Tinah mengurus rumah dan anak-anak. Ketika kebutuhan keluarga semakin banyak, persoalan uang hampir selalu muncul. Rumah yang kecil, angkot yang perlu diperbaiki, sampai biaya sekolah anak menjadi hal yang harus mereka pikirkan bersama.
Tinah sendiri memiliki pengalaman pendidikan yang tidak sampai selesai. Karena kondisi ekonomi, ia tidak bisa melanjutkan sekolah. Pengalaman itulah yang kemudian membuat pendidikan anak-anak menjadi sesuatu yang sangat ia perjuangkan. Ia ingin anak-anaknya punya kesempatan yang dulu tidak bisa ia dapatkan.
Salah satu anak yang kemudian mendapat porsi cukup besar dalam cerita adalah Bayek. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, perjalanan Bayek ikut membawa perubahan bagi keluarganya. Pendidikan menjadi jalan yang ia tempuh untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ketika kesempatan untuk kuliah datang, persoalan biaya kembali muncul. Keluarga harus memikirkan cara agar Bayek tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Dari sini, perjuangan keluarga dalam Ibuk tidak hanya soal bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada keinginan besar dari orang tua agar anak-anak mereka bisa mempunyai masa depan yang lebih baik. Bahkan ketika kondisi keluarga terbatas, pendidikan tetap ditempatkan sebagai sesuatu yang penting.
Yang bikin novel ini enak dibaca, Iwan Setyawan banyak mengambil cerita dari kehidupan sehari-hari sebuah keluarga. Percakapan di rumah, urusan uang, sekolah anak, pekerjaan Bapak, sampai hal-hal kecil yang dilakukan Ibuk untuk keluarganya ikut menghidupkan cerita.
Tokoh Tinah juga cocok dengan judul Ibuk. Cerita banyak mengikuti perjuangannya mengurus keluarga, dari kebutuhan sehari-hari sampai memikirkan pendidikan kelima anaknya.
Perjuangan Tinah tidak selalu ditunjukkan lewat tindakan besar. Perjuangan itu justru sering terlihat dari keputusan-keputusan kecil yang berkaitan dengan kebutuhan keluarganya. Misalnya ketika harus memikirkan biaya sekolah atau memenuhi kebutuhan anak di tengah keadaan ekonomi yang pas-pasan. Inilah yang membuat sosok Ibuk mudah dikenali sebagai gambaran seorang ibu yang berusaha memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya.
Bagian ini yang bikin terharu, setelah Bayek melewati masa sekolah dan kuliah, ia mulai mendapatkan kesempatan untuk membangun karier. Perjalanan tersebut membuat kondisi keluarganya perlahan berubah. Keberhasilan Bayek bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga berkaitan dengan keinginannya membantu orang tua dan saudara-saudaranya.
Ada pesan yang bisa diambil dari novel Ibuk: seberapa sulitnya keadaan keluarga, pendidikan anak tetap diperjuangkan semampunya. Perjuangan Tinah dan Hasyim juga menunjukkan bahwa keberhasilan seorang anak tidak hanya datang dari usahanya sendiri, tetapi ada dukungan orang tua yang ikut mengantarkan sampai ke sana.
Meski begitu, novel ini juga memiliki sedikit kekurangan. Memasuki bagian tertentu, fokus cerita mulai lebih banyak mengikuti Bayek dan perjalanan hidupnya. Akibatnya, sosok Ibuk yang menjadi pusat cerita di awal tidak selalu mendapatkan porsi yang sama hingga bagian akhir.
Namun, secara keseluruhan, Ibuk tetap punya daya tarik lewat cerita keluarganya. Iwan Setyawan tidak perlu menghadirkan konflik yang rumit untuk membuat perjalanan keluarga ini punya arti. Perjuangan menyekolahkan anak, mencari penghasilan, menghadapi keterbatasan, sampai melihat anak-anak tumbuh menjadi lebih mandiri sudah cukup untuk membuat ceritanya berjalan.
Buat saya yang suka novel bertema keluarga, perjuangan orang tua, dan perjalanan seorang anak dalam mengubah keadaan keluarganya, novel Ibuk ini cukup berkesan. Ceritanya mengingatkan bahwa di balik keberhasilan kita, sering ada perjuangan keluarga yang tidak banyak terlihat.