Ulasan

Ternyata Fanatisme Film Samakdo Lebih Horor dari Teror Setan, Ngeri Banget!

Ternyata Fanatisme Film Samakdo Lebih Horor dari Teror Setan, Ngeri Banget!
Poster Film Samakdo (IMDb)

Membicarakan film horor Korea Selatan rasanya nggak pernah jauh dari ritual mistis, desa terpencil, dan sejarah kelam yang menghantui masa kini. Formula itu kembali hadir dalam ‘Samakdo’, film horor okult garapan sutradara Chae Ki-jun yang diproduksi Yeonghwa-sa Judan dan didistribusikan The Contents On. 

Dibintangi Jo Yun-seo (Cho Yun-seo) dan Kwak Si-yang, film berdurasi ±99 menit ini ngajak penonton menyelami misteri sekte sesat bernama Samsundo yang diyakini telah musnah sejak era penjajahan Jepang.

Sekilas, Samakdo ibarat film tentang kutukan, ritual, dan makhluk gaib. Namun, semakin jauh ceritanya berkembang, makin terasa daya pikat film ini bukanlah sosok-sosok supranatural. Film ini menunjukkan bagaimana fanatisme mampu mengubah manusia menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada setan. 

Film Samakdo rilis awal di Korea Selatan pada 11 Maret 2026, dan kini tayang di Indonesia sejak 25 Juli 2026. Pemeran utamanya: Jo Yun-seo sebagai Chae So-yeon dan Kwak Si-yang sebagai Matsuda (jurnalis asal Jepang yang jadi kunci dimulainya penyelidikan misterius).

Sejak diumumkan, Samakdo memang sudah menarik perhatian karena menggabungkan horor okult, sejarah kolonial Jepang di Korea, hingga kisah tentang sekte sesat. Kombinasi tersebut mengingatkan penonton pada nuansa film-film horor Korea, ‘The Wailing’ maupun ‘Exhuma’, meski Film Samakdo tetap berusaha tampil lebih beda. 

Ceritanya mengikuti Chae So-yeon, produser program investigasi yang memperoleh informasi dari Matsuda mengenai keberadaan sekte misterius bernama Samsundo. Sekte itu diyakini telah lenyap setelah tragedi bunuh diri massal pada masa penjajahan Jepang. Namun, berbagai petunjuk justru menunjukkan ajaran tersebut belum musnah.

Rasa penasaran membawa So-yeon bersama timnya menuju desa terpencil yang dipercaya menjadi tempat terakhir para pengikut Samsundo. Awalnya mereka hanya berharap menemukan jejak sejarah, tapi penyelidikan perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Mereka mulai mengalami berbagai kejadian aneh, menyaksikan ritual-ritual mengerikan, hingga berhadapan dengan kekuatan gaib yang dipercaya sudah lama disegel.

Di saat yang sama, para dukun desa berusaha menghentikan kebangkitan kekuatan tersebut sebelum terlambat. Semakin dalam So-yeon menggali masa lalu Samsundo, makin jelas ancaman terbesar bukan hanya berasal dari dunia supranatural, melainkan juga dari manusia yang masih memegang teguh ajaran sekte itu.

Ngeri banget, deh!

Fanatisme Para Pengikut Sekte

Foto Film Samakdo (Cinepolis)
Foto Film Samakdo (Cinepolis)

Mereka rela mengorbankan apa saja demi mempertahankan keyakinan yang mereka anggap suci. Logika perlahan hilang, rasa kemanusiaan memudar, dan kekerasan berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

Fenomena seperti ini relevan banget dengan kehidupan nyata. Sejarah dunia sudah berkali-kali menunjukkan bagaimana suatu kelompok mampu membuat anggotanya melakukan tindakan di luar batas atas nama kepercayaan. Ketika seseorang berhenti mempertanyakan sesuatu karena merasa semua perintah berasal dari kebenaran mutlak, di situlah bahaya sebenarnya muncul.

Samakdo memanfaatkan ketakutan itu dengan sangat baik. Film ini nggak buru-buru menampilkan sosok menyeramkan setiap beberapa menit. Sebaliknya, rasa nggak nyaman dibangun melalui tatapan para pengikut sekte, ritual yang berlangsung, simbol-simbol kuno, serta keyakinan bahwa semua yang mereka lakukan adalah jalan yang benar.

Pendekatan seperti ini membuat horornya jadi lebih psikologis. Penonton dibuat bertanya-tanya apakah ancaman terbesar berasal dari makhluk gaib atau dari manusia yang sudah kehilangan nurani akibat doktrin yang mereka yakini.

Dan ya, nuansa film menjadi senjata utama Samakdo. Desa terpencil yang menjadi latar utama terasa begitu sunyi, seolah-olah menyimpan rahasia yang nggak ingin diketahui orang luar. Tata sinematografinya diliputi warna-warna gelap dengan pencahayaan minim sehingga setiap sudut mencurigakan. Ditambah desain suara yang memanfaatkan dentuman alat ritual, bisikan samar, dan keheningan panjang, ketegangannya terus terjaga hampir sepanjang film.

Jo Yun-seo (Cho Yun-seo) juga tampil meyakinkan sebagai So-yeon. Perubahan emosinya dari produser yang disesaki rasa ingin tahu menjadi sosok yang perlahan dihantui rasa takut, terasa cukup natural. Sementara Kwak Si-yang mampu menjadi partner yang pas meski karakternya nggak mendapat ruang pengembangan sebanyak So-yeon.

Sayangnya, Samakdo masih ada kekurangannya. Ide cerita memang sangat besar, tapi penyampaiannya kadang kurang rapi. Ada beberapa bagian investigasi yang berjalan cukup lambat, lalu menjelang akhir film dibanjiri berbagai informasi penting dalam waktu yang singkat. Akibatnya, sebagian misteri kurang memperoleh penjelasan yang memuaskan.

Meski begitu, kelemahan tersebut nggak sampai merusak pengalaman menonton secara keseluruhan. Film ini tetap berhasil mempertahankan atmosfer mencekam hingga klimaks. Beberapa adegan ritual bahkan begitu intens karena lebih mengandalkan sisi psikologis ketimbang jumpscare murahan.

Ibaratnya, Samakdo ingin mengatakan bahwa kejahatan seringkali lahir bukan karena adanya iblis, melainkan karena manusia yang bersekutu dengan iblis melalui fanatisme yang membutakan. Ketika keyakinan berubah menjadi alat untuk membenarkan kekerasan, dunia nyata jadi jauh lebih mengerikan dari setan itu sendiri. 

Itulah alasan mengapa menurutku Samakdo bukan sekadar film tentang kutukan atau ritual mistis. Kengeriannya berasal dari manusia yang berhenti berpikir kritis dan menyerahkan seluruh hidupnya pada ajaran tanpa pernah mempertanyakannya. Mungkin belum bisa disejajarkan dengan horor Korea Selatan terbaik sepanjang masa. Namun, tema yang menarik, serta kritik mengenai fanatisme, berhasil menawarkan pengalaman horor yang unik. 

Bagi Sobat Yoursay pecinta horor dari Korea Selatan, film ini masih sangat layak masuk referensi tontonanmu, lho. Selamat menonton. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda