Ulasan
From Cat Stevens to Yusuf Islam: Saat Ketenaran Tak Lagi Cukup Mengisi Jiwa
Apa jadinya jika seseorang sudah memiliki hampir semua hal yang diimpikan banyak orang mulai dari ketenaran, kekayaan, jutaan penggemar, dan karier cemerlang. Tetapi tetap merasa hampa?
Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah buku From Cat Stevens to Yusuf Islam karya Hermawan Aksan. Diterbitkan Mizania pada 2008, buku ini mengajak pembaca menelusuri perjalanan spiritual seorang superstar musik dunia yang rela meninggalkan gemerlap panggung demi mencari kedamaian batin.
Isi Buku
Jauh sebelum dikenal sebagai Yusuf Islam, ia lahir dengan nama Steven Demetre Georgiou. Latar belakang keluarganya pun cukup beragam. Ayahnya menganut Yunani Ortodoks, ibunya seorang Kristen Baptis, sementara ia justru bersekolah di Sekolah Katolik St. Joseph di London. Sejak kecil, bakat seninya sudah terlihat. Ia gemar bermain piano, mulai menulis lagu dan belajar gitar pada usia 12 tahun, bahkan sempat mendalami seni lukis ketika tinggal di Swedia bersama ibunya.
Memasuki usia 16 tahun, Steven belajar di Hammersmith Art School. Ketertarikannya pada musik folk membuatnya mulai tampil di pub dan coffee house. Tak lama kemudian ia mengganti nama panggungnya menjadi Cat Stevens.
Keputusan itu menjadi titik awal kesuksesan luar biasa. Tahun 1966, dua singel pertamanya, I Love My Dog dan Matthew and Son, langsung menembus jajaran lagu populer Inggris. Hampir semua lagu yang dibawakannya merupakan ciptaannya sendiri. Dalam waktu singkat, Cat Stevens berubah menjadi idola remaja dengan penjualan album yang kemudian mencapai sekitar 40 juta kopi di seluruh dunia.
Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Pada usia 19 tahun, ia terserang tuberkulosis. Berbulan-bulan menjalani perawatan di rumah sakit dan membutuhkan hampir setahun untuk pulih membuatnya mulai mempertanyakan arti kehidupan. Kesembuhan fisik ternyata menjadi awal dari pencarian spiritual yang panjang.
Buku ini menjelaskan bahwa proses menuju Islam bukanlah keputusan yang lahir secara tiba-tiba akibat satu atau dua peristiwa dramatis. Setelah sembuh, Cat Stevens justru mencoba menjelajahi berbagai jalan. Ia mempelajari Buddhisme, Zen, I Ching, numerologi, astrologi, hingga sempat tertarik pada komunisme. Bahkan ia juga mencoba pelarian melalui obat-obatan penenang sebelum kembali mendekati gereja. Sayangnya, semua itu belum mampu menjawab kegelisahan yang terus menghantuinya.
Kelebihan dan Kekurangan
Pembaca diajak memahami bahwa hidayah bukan sekadar hasil dari sebuah kejadian, melainkan buah dari pencarian panjang yang penuh keraguan, kegagalan, dan kejujuran pada diri sendiri.
Salah satu titik balik terpenting adalah ketika kakaknya menghadiahkan sebuah tafsir Al-Qur'an. Dari sanalah Steven mulai membaca, merenung, dan menemukan jawaban yang selama ini ia cari. Ia akhirnya memeluk Islam, berganti nama menjadi Yusuf Islam, lalu mengambil keputusan yang mengejutkan dunia: meninggalkan industri musik yang telah membesarkan namanya.
Banyak orang menganggap langkah itu mustahil. Di saat karier sedang berada di puncak, ia justru memilih jalan hidup yang sama sekali berbeda. Konser perpisahannya dipenuhi ribuan penggemar yang tak percaya idolanya benar-benar mundur dari panggung hiburan.
Selain mengulas proses hijrahnya, buku ini juga membahas berbagai kontroversi yang pernah mengiringi Yusuf Islam, termasuk polemik seputar Salman Rushdie hingga alasan yang membuatnya kembali bermusik bertahun-tahun kemudian. Dengan demikian, buku ini tidak hanya berhenti pada kisah pertobatan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seorang manusia terus belajar menjalani keyakinannya di tengah sorotan dunia.
Meski demikian, buku ini bukan tanpa kekurangan. Sebagian informasi yang disajikan sebenarnya cukup mudah ditemukan melalui berbagai sumber terbuka seperti Wikipedia maupun situs resmi Yusuf Islam. Bagi pembaca yang berharap mendapatkan banyak fakta eksklusif atau wawancara mendalam, mungkin akan merasa ekspektasinya belum sepenuhnya terpenuhi.
Meski begitu, nilai utama buku ini justru terletak pada penyusunan kisah hidup Cat Stevens yang runtut dan mudah diikuti. Pembaca tidak hanya mengenal seorang musisi legendaris, tetapi juga melihat sisi manusiawinya. Seorang anak muda yang pernah memiliki segalanya, namun tetap merasa kosong hingga akhirnya menemukan ketenangan melalui perjalanan spiritual yang panjang.
From Cat Stevens to Yusuf Islam adalah pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Kadang, perjalanan paling penting dalam hidup bukanlah menuju puncak popularitas, melainkan perjalanan pulang menuju diri sendiri.
Identitas Buku
- Judul: From Cat Stevens to Yusuf Islam: Kisah Perjalanan Spiritual Seorang Superstar Musik Dunia yang Meninggalkan Dunia Glamour untuk Menjadi Muslim dan Aktivis Kemanusiaan
- Penulis: Hermawan Aksan
- Penerbit: Mizania (Mizan Publika)
- Tahun Terbit: 2008
- ISBN: 9786028236225