Ulasan
Membedah Tragisme Dosa Victor dalam Novel Frankenstein karya Mary Shelley
Saya baru mengetahui novel Frankenstein usai seorang teman menceritakan pengalamannya setelah menonton film Frankenstein. Dari sana, saya tahu bahwa novel klasik ini ternyata sudah berkali-kali diangkat menjadi sebuah film dan versi terbarunya telah tayang sejak 2025 silam.
Mendengar ulasan dari teman saya, soal ilmuwan yang mempu menciptakan makhluk dari potongan-potongan mayat, saya langsung tertarik. Mulailah saya membaca berbagai ulasan novel sampai film Frankenstein. Semakin banyak saya membaca, semakin yakin bahwa novel ini bukan sekadar kisah horor, melainkan membawa kita merenungi pada batasan manusia, moralitas, dan tragedi.
Keputusan saya pada akhirnya adalah membaca novelnya terlebih dahulu. Bagi saya, akan lebih menarik jika saya bisa mengimajinasikan tokoh-tokoh dalam Frankenstein lewat bacaan. Maka,
segeralah saya mencari novel dan membacanya.
Saya masih ingat betul, pukul satu dini hari, saya baru menyelesaikan novel tersebut. Hanyut dalam kengerian dan kesedihan, membaca tragedi demi tragedi yang dimunculkan oleh Mary Shelley. Bagi saya, sosok monster bukanlah poin yang menakutkan di dalam cerita. Namun adalah kesepian, penolakan, dan ketidakmauan manusia untuk bertanggungjawab atas sesuatu yang telah ia ciptakan.
Premis novel ini dimulai dengan sosok ilmuwan bernama Victor Frankenstein yang memiliki rasa ingin tahu begitu besar terhadap kehidupan dan kematian. Keinginannya untuk menciptakan kehidupan merupakan bentuk ambisi seorang manusia yang ingin melampai batas dirinya sendiri. Mary Shelley menggambarkan dengan detail bagaimana rasa ingin tahu Victor justru membawanya dalam rentetan tragedi.
Victor lahir dalam keluarga yang hangat. Ayah dan ibunya sangat menyayanginya. Sejak kecil, Victor memiliki rasa ingin tahu yang besar dan sangat senang belajar. Ketertarikannya pada sains modern serta alkimia kuno akhirnya membawanya papda mimpi megah; menaklukkan kematian.
Namun, di sinilah tragedi dosa Victor dimulai. Bagi saya, kejatuhan Victor bukan terjadi saat ia mengumpulkan potongan mayat di kuburan atau merangkai organ-organ mati di laboratoriumnya. Kejatuhan sebenarnya terjadi tepat di detik saat eksperimen itu berhasil.
Ketika mata kuning makhluk itu terbuka dan napas pertamanya berembus, Victor tidak menyambutnya dengan bangga. Ia justru dihinggapi rasa jijik dan ketakutan luar biasa. Ia lari begitu saja dan menelantarkan ciptaannya yang baru lahir dalam keadaan polos, bingung, serta butuh bimbingan.
Di sinilah Mary Shelley dengan jenius membalikkan definisi ‘monster’. Saat membaca bagian ketika makhluk itu berkeliaran sendirian di hutan, belajar memahami bahasa api, dan kasih sayang manusia secara sembunyi-sembunyi, hati saya terasa diiris. Sejak awal, makhluk tersebut tidak jahat, sebagaimana makhluk lainnya ia pun hanya ingin dicintai. Namun, setiap kali mencoba mendekati manusia, ia hanya mendapatkan jeritan, batu, dan tembakan. Karena rupa fisiknya yang mengerikan.
Penolakan paling menyakitkan tentu datang dari Victor, sosok yang seharusnya menjadi pencipta sekaligus ‘ayah’ baginya. Ketika makhluk itu akhirnya berhadapan dengan Victor dan memohon dibuatkan pasangan agar tidak lagi meratap kesepian, Victor menolaknya. Rasa frustasi dan kesepian mendalam itulah yang akhirnya mengubah sang makhluk menjadi sosok pembalas dendam yang kejam. Ia membunuh orang-orang terdekat Victor. Saudaranya, sahabat, hingga Elizabeth, istri Victor, di malam pernikahan mereka.
Membaca kehancuran hidup Victor membawa saya akan satu hal. Victor adalah satu-satunya pencipta akan penderitaannya sendiri. Dosa Victor bukan sekedar bermain menjadi Tuhan, melainkan penolakannya secara sadar untuk bertanggung jawab atas ciptaannya. Ia menciptakan kehidupan, tetapi menolak memberikan kasih sayang dan pengasuhan.
Saat menutup halaman terakhir novel ini di dini hari itu, saya tersadar betapa relevannya kisah yang ditulis Mary Shelley lebih dari dua abad lalu ini. Di era sekarang, saat manusia berlomba menciptakan teknologi dan kecerdasan buatan, novel ini jadi peringatan keras. Betapa bahayanya ambisi manusia ketika bergerak lebih cepat daripada etika dan tanggung jawab moralnya.
Frankenstein bukan sekadar kisah horor klasik tentang sosok makhluk berwajah seram. Bagi saya, ini adalah tragedi kemanusiaan yang mengajarkan bahwa ‘monster’ sering kali lahir dari rasa benci, penolakan, dan ambisi dingin yang kehilangan arah.
Identitas Buku
- Judul: Frankenstein
- Penulis: Mary Shelley
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Jumlah Halaman: 304
- ISBN: 978-602-06-1866-1