Ulasan
Review The X-Files: I Want to Believe Vrach Frankenshteyn, Terlalu Sinting!
Tubuh manusia biasanya dipandang sebagai sesuatu yang utuh. Jantung berada di tempatnya, paru-paru bekerja sebagaimana mestinya, darah mengalir membawa kehidupan, lalu semua organ membentuk satu tubuh yang kita kenali sebagai ‘manusia’.
Menariknya, ‘The X-Files: I Want to Believe – Vrach Frankenshteyn’ malah mengajak kita melihat tubuh dari sudut yang jauh lebih mengerikan: bagaimana jika tubuh manusia diperlakukan seperti kumpulan komponen yang bisa dibongkar, dipindahkan, disatukan, bahkan digunakan untuk memperpanjang kehidupan orang lain?
Hel demikian menarik banget karena ini Versi Director's Cut, yang memang ingin mengembalikan sisi horor yang dulu dipangkas dari versi rilisan 2008. ‘The X-Files: I Want to Believe – Vrach Frankenshteyn’ rilis di Hulu yang juga bisa ditonton di Disney+ pada 14 Agustus 2026 dengan rating R (dewasa).
Film ini diproduksi Crying Box Productions, Ten Thirteen Productions, Dune Entertainment III, dan 20th Century Fox. Chris Carter duduk di kursi sutradara sekaligus menulis skenario bersama Frank Spotnitz. Para pemerannya tetap menghadirkan David Duchovny sebagai Fox Mulder, Gillian Anderson sebagai Dana Scully, Amanda Peet sebagai Dakota Whitney, Billy Connolly sebagai Father Joseph Crissman, Xzibit sebagai Mosley Drummy, dan Mitch Pileggi sebagai Walter Skinner.
Oh, iya. Versi bioskop 2008 berdurasi ±104 menit dengan rating PG-13; versi Director's Cut 2026 durasinya ±103 menit. Sekilas memang janggal. Bukankah Director's Cut biasanya diselipi adegan tambahan dan durasi yang lebih panjang? Chris Carter ternyata mengambil pendekatan berbeda. Dia nggak cuma memasukkan kembali materi yang dulu dipotong demi mendapatkan rating PG-13, melainkan membongkar kembali filmnya dan menyusunnya sesuai visi yang sekarang ingin ditampilkan. Beberapa bagian yang dianggap kurang penting dipangkas, sementara unsur gore dan body horror yang dulu dipangkas kini diperlihatkan.
Hasilnya memang lebih singkat, sekaligus lebih berani dalam memperlihatkan sisi mengerikan dari ceritanya. Dengan kata lain, Director's Cut ini bukan versi ‘lebih panjang’, melainkan versi yang menurut Chris Carter lebih dekat dengan film yang ingin dirinya buat. Durasi menjadi lebih pendek karena filmnya dipadatkan, sementara horornya diperkuat. Jadi penasaran, kan?
Nah, ceritanya dimulai ketika sejumlah perempuan menghilang secara misterius, termasuk agen FBI Monica Bannan. Kasus ini membawa FBI pada Fox Mulder, mantan agen yang sudah lama meninggalkan pekerjaannya dan hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Dana Scully kemudian diminta membantu menemukan Mulder dan membawanya kembali ke penyelidikan.
Satu-satunya petunjuk datang dari Father Joseph Crissman, mantan pastor yang kehilangan statusnya setelah masa lalunya sebagai pelaku pelecehan seksual terhadap anak terbongkar. Dia a mengaku mendapatkan penglihatan psikis mengenai kejahatan tersebut.
Mulder tentu tertarik. Scully jauh lebih skeptis. Perbedaan mereka kembali menjadi bahan bakar cerita, sementara penyelidikan perlahan membawa mereka pada kejahatan yang jauh lebih mengerikan. Di sisi lain, Scully harus menghadapi persoalan medisnya sendiri ketika merawat Christian, anak dengan penyakit otak terminal. Konflik antara keyakinan, ilmu pengetahuan, kehidupan, dan kematian akhirnya berjalan berdampingan dengan penyelidikan Mulder.
Tubuh Manusia Nggak Lagi Dianggap Sesuatu yang Sakral

Begitulah. Organ punya fungsi. Darah punya nilai. Jaringan bisa dipindahkan. Tubuh seseorang bisa menjadi kesempatan hidup bagi tubuh orang lain. Secara medis, transplantasi tentu merupakan salah satu pencapaian paling luar biasa dalam sejarah manusia. Suatu organ yang berada di tubuh seseorang bisa menyelamatkan orang lain ketika dipindahkan dengan prosedur yang tepat.
Masalahnya muncul ketika Film The X-Files: I Want to Believe – Vrach Frankenshteyn’ membawa logika itu ke wilayah yang lebih ngeri. Di sinilah nama Vrach Frankenshteyn jauh lebih masuk akal. ‘Vrach’ merupakan kata Rusia untuk dokter, sementara Frankenstein sudah lama jadi cerita turun-temurun.
Mary Shelley menciptakan Frankenstein sebagai kisah tentang ambisi manusia pada penciptaan kehidupan. Dan ‘The X-Files’ membawa gagasan itu ke tubuh manusia: dokter, organ, operasi, dan kehidupan yang dipertahankan melalui cara-cara yang semakin sulit disebut manusiawi.
Menariknya, film ini juga membuat Scully berada tepat di tengah persoalan tersebut. Scully adalah dokter. Dia percaya pada sains. Dia terbiasa mencari jawaban melalui sesuatu yang bisa diuji, diamati, dan dibuktikan. Namun profesinya juga menempatkannya pada dilema kedokteran.
Ya, saat dokter berusaha menyelamatkan pasien dengan segala cara, niatnya tentu mulia. Batas moral mulai menjadi kabur ketika tubuh manusia lain harus dikorbankan untuk mencapai tujuan tersebut.
Di sinilah Film The X-Files: I Want to Believe – Vrach Frankenshteyn sebenarnya punya peluang untuk membicarakan Frankenstein dengan cara yang lebih kekinian. Monster Frankenstein bukan sekadar makhluk dengan jahitan di tubuh. Monster yang sebenarnya adalah gagasan bahwa manusia merasa berhak mengambil sesuatu dari tubuh orang lain karena merasa memiliki alasan yang cukup baik.
Dan persoalannya menjadi semakin rumit karena korban serta penyelamat bisa berada di sisi yang sama. Kita tentu bisa memahami keinginan menyelamatkan seseorang. Nah, Scully berada dalam posisi yang sangat manusiawi ketika berusaha mempertahankan hidup Christian.
Sayangnya, horor dan gore-nya belum cukup. Kalau tubuh hanya diperlihatkan dalam keadaan rusak, darah dan potongan daging cuma jadi tontonan. Makna ‘Vrach Frankenshteyn’ baru terasa ketika kita melihat bahwa setiap tubuh yang diperlakukan seperti mesin punya sejarah, keluarga, termasuk ketakutan.
Pada akhirnya, mungkin monster terbesar dalam film ini bukanlah tubuh yang berhasil dibangun kembali. Maka, bila Sobat Yoursay sudah penasaran banget, cuz langsung ke Disney+.