Ulasan
The End of Oak Street: Saat Teror Dinosaurus Menginvasi Perumahan Suburban
Pernahkah kamu membayangkan jika suatu pagi kamu terbangun dan melihat kondisi sekitar rumahmu dihuni oleh hewan-hewan prasejarah?
Premis unik inilah yang ditawarkan dalam The End of Oak Street, film fiksi ilmiah berbalut survival thriller garapan David Robert Mitchell, yang sebelumnya sukses menebar teror lewat It Follows.
Dibintangi oleh Anne Hathaway, Ewan McGregor, Maisy Stella, dan Christian Convery, film yang baru saja tayang di bioskop Indonesia sejak 12 Agustus 2026 ini siap mengajak penontonnya bernostalgia dengan nuansa petualangan klasik ala dekade 80-an.
Mengambil latar tahun 1982, kisahnya berpusat pada keluarga Platt yang menetap di kawasan perumahan Oak Street.
Sekilas, kehidupan mereka tampak normal layaknya warga pinggiran pada umumnya. Namun, di balik itu, pernikahan Denise (Anne Hathaway) dan Greg (Ewan McGregor) sebenarnya sedang berada di ambang kehancuran.
Denise diam-diam mempertimbangkan perceraian, sementara Greg tengah bergelut dengan krisis harga diri akibat di-layoff dari pekerjaannya.
Greg bahkan harus bekerja sebagai kurir pizza demi menghidupi kedua anak mereka, Audrey (Maisy Stella) dan Brian (Christian Convery).
Permasalahan keluarga tersebut mendadak terinterupsi ketika fenomena kosmik yang aneh mulai menyelimuti lingkungan perumahan mereka.
Udara menjadi terasa sangat panas dan lembap, diikuti dengan munculnya tumbuhan spesies purba yang sudah punah jutaan tahun lalu. Kejanggalan semakin bertambah dengan penemuan kotoron hewan raksasa misterius di pekarangan rumah warga.
Puncak dari rentetan misteri ini terjadi pada suatu malam ketika kilatan cahaya putih yang menyilaukan tiba-tiba menelan seluruh kawasan Oak Street.
Keesokan paginya, realita yang sangat jauh berbeda menyambut Keluarga Platt. Aspal jalanan dan deretan rumah yang tertata kini dikelilingi oleh lanskap hutan prasejarah.
Mereka kemudian menyadari bahwa cahaya semalam adalah wormhole yang menteleportasi seluruh pemukiman beserta isinya ke masa jutaan tahun lalu.
Kepanikan pun memuncak ketika kawanan dinosaurus raksasa mulai bermunculan dan memburu para warga yang kebingungan.
Kini, ego dan konflik pribadi harus dikesampingkan demi menghadapi teror nyata yang mengintai tepat di pekarangan rumah. Keluarga Platt dituntut untuk bersatu jika ingin selamat.
Review Film The End of Oak Street
David Robert Mitchell mengambil langkah yang terbilang sangat berani melalui film ini.
Setelah sebelumnya dikenal luas lewat film horor bertempo slow-burn seperti It Follows dan Under the Silver Lake, kali ini ia menghadirkan sebuah popcorn movie yang jauh lebih ringan dan fun.
Dengan durasi 99 menit yang efisien, ia berhasil menghidupkan kembali nuansa petualangan film-film Steven Spielberg di era 1980-an.
Film ini seolah mengingatkan kita pada magisnya Jurassic Park (1993), tetapi ditempatkan dalam latar perumahan suburban ala Poltergeist (1982), lengkap dengan sapuan estetika retro era 1980-an yang memanjakan mata.
Menariknya, transisi menuju skala blockbuster ini tidak serta-merta menghilangkan ciri khas penyutradaraan seorang David Robert Mitchell.
Enggan memamerkan visual dinosaurus sejak menit pertama, Mitchell justru memilih untuk memupuk ketegangan secara perlahan sebelum wujud asli makhluk purba itu benar-benar diperlihatkan.
Layaknya pendekatan dalam It Follows, Mitchell lebih dulu membangun atmosfer mencekam hanya melalui suara raungan yang menggema dari kejauhan, derap langkah kaki berat yang menggetarkan kaca jendela, suara gemeretak ranting pohon yang patah di sekitar halaman rumah, lalu diikuti oleh munculnya vegetasi purba yang tumbuh liar secara janggal.
Begitu ketegangan sudah mencapai titik maksimal, barulah Mitchell tancap gas memunculkan wujud dinosaurus secara gamblang.
Memasuki paruh kedua, film ini bermutasi menjadi suguhan survival murni yang didominasi sekuens kejar-kejaran dinosaurus yang brutal.
Bagi kamu yang mencari tontonan aksi dinosaurus memporak-porandakan kehidupan manusia, film ini jelas memberikan porsi yang sangat memuaskan.
Dinosaurus dalam film ini juga dieksekusi dengan gaya yang liar sekaligus membumi. Meski kualitas CGI-nya mungkin tidak setajam franchise Jurassic terbaru berbujet ratusan juta dolar, wujud mereka tetap berhasil memancarkan aura predator berdarah dingin yang brutal dan cukup sadis untuk batasan rating PG-13.
Uniknya lagi, desain dinosaurus di sini tidak terjebak pada pakem lawas. Alih-alih menampilkan reptil bersisik, penonton disajikan wujud dinosaurus berbulu dan memiliki karakteristik layaknya burung raksasa pemangsa daging.
Guna menajamkan teror hewan purba tersebut, Mitchell kembali menggunakan teknik kamera split diopter, yang memungkinkan wajah panik karakter di depan dan ancaman predator di latar belakang terlihat sama tajamnya. Teknik ini sukses menyuntikkan rasa gelisah yang terus membayangi penonton sepanjang durasi.
Namun, obsesi film untuk terus memompa adrenalin lewat aksi kejar-kejaran sayangnya harus mengorbankan ruang bagi penyelesaian konflik emosional karakternya, serta menyisakan banyak celah pada elemen sci-fi dan logika naskahnya.
Resolusi dari keretakan rumah tangga Denise dan Greg terasa dieksekusi terlalu instan di penghujung cerita.
Naskahnya seolah mengambil jalan pintas dan menyederhanakan krisis pernikahan mereka menjadi sebuah kesimpulan yang kelewat praktis.
Pesan moral tentang pentingnya menghargai seseorang sebelum kehilangan pun terasa terlalu dangkal untuk benar-benar memperbaiki akar permasalahan rumah tangga mereka.
Tak hanya itu, asal-usul anomali kosmik, atau wormhole yang memindahkan kawasan perumahan Oak Street ke zaman prasejarah kurang digali secara mendalam, sehingga menyisakan plot hole.
Belum lagi pada babak ketiga, film ini tiba-tiba bertransformasi menjadi sajian time travel dengan konsep paradoks ruang-waktu ala Back to the Future, yang justru menyisakan banyak tanda tanya mengenai identitas para karakter di timeline baru.
Jika kamu adalah tipe penonton yang mendambakan kepresisian logika dan kesinambungan plot, bersiaplah untuk sedikit mengernyitkan dahi.
Lebih lanjut, film ini juga masih terjebak pada formula klasik film survival dengan menghadirkan karakter bebal yang kerap menjadi beban.
Kehadiran Brian sukses membuat saya gregetan sendiri karena sifatnya yang keras kepala, hobi keluyuran di waktu yang salah, kerap membuat keputusan konyol, serta mudah panik dan histeris.
Kelakuan impulsifnya ini sering kali malah membahayakan nyawa keluarganya. Seolah karakternya hanya ditulis demi melayani kebutuhan naskah untuk terus membawa cerita ke situasi berbahaya agar ketegangannya tidak mengendur.
Intinya, film ini sangat berhasil sebagai tontonan survival dan spectacle, tetapi terlalu mengorbankan aspek naratif demi mempertahankan momentum tersebut.
Overall, sebagai sebuah popcorn movie, film ini masih sangat worth it untuk dinikmati di bioskop, terutama di layar IMAX, untuk mendapatkan pengalaman audiovisual yang imersif.
Syaratnya cuma satu: turunkan ekspektasi terhadap bobot logika fiksi ilmiahnya dan biarkan dirimu terhanyut sepenuhnya dalam petualangan seru yang disajikan.