Ulasan

Mengenang Christopher McCandless, Ketika Keinginan Bebas Berujung Maut

Mengenang Christopher McCandless, Ketika Keinginan Bebas Berujung Maut
Christopher McCandless berfoto di depan Magic Bus (Wikimedia Commons)

Sehari setelah 18 Agustus, nama Christopher McCandless kembali menarik untuk dikenang. Christopher Johnson McCandless adalah seorang petualang asal Amerika Serikat. Ia terkenal karena meninggalkan kehidupan modern setelah lulus kuliah pada tahun 1990 untuk berkelana lintas negara dengan nama samaran “Alexander Supertramp”. Kisahnya berakhir tragis saat ia ditemukan meninggal dunia karena kelaparan di dalam sebuah bus terbengkalai di pedalaman Alaska pada tahun 1992.

McCandless mungkin adalah salah satu tokoh yang katanya paling heroik dalam sejarah petualangan modern. Namanya muncul setiap kali orang membicarakan kebebasan, hidup tanpa harta, meninggalkan rutinitas, lalu mencari makna kehidupan di alam bebas. Kisahnya diabadikan Jon Krakauer dalam buku “Into the Wild”, kemudian diadaptasi Sean Penn menjadi film dengan judul yang sama pada 2007.

McCandless sendiri lulus dari Emory University pada 1990 dengan gelar di bidang sejarah dan antropologi. Setelah itu, ia menyumbangkan sebagian besar tabungannya, meninggalkan mobilnya, memutus kontak dengan keluarganya, lalu menjalani perjalanan panjang melintasi Amerika Serikat. Tujuan akhirnya adalah Alaska. Di sana, ia tinggal sendirian di sebuah bus tua Fairbanks Bus 142 yang kemudian dikenal sebagai Magic Bus, sampai akhirnya ditemukan dua pekan pasca wafatnya pada Agustus 1992.

Sekilas, kisah tersebut memang terdengar heroik. Seorang anak muda meninggalkan kemapanan, membakar uangnya, menolak materialisme, kemudian memilih hidup bersama alam. Ada sesuatu yang terdengar romantik dari keputusan semacam itu. Terlebih ketika kisahnya diceritakan melalui sinematografi indah Into the Wild, dengan lanskap Alaska yang seolah menawarkan dunia yang jauh lebih murni daripada kehidupan modern.

Tetapi justru di titik inilah saya mulai merasa tidak nyaman. Saya tidak terlalu melihat McCandless sebagai seorang revolusioner. Saya melihatnya sebagai anak muda yang hanya mengandalkan idealisme besar, terlalu meromantisasi alam dan terlalu arogan pada kemampuan dirinya sendiri. Keberaniannya patut dihargai, tetapi keberanian tidak otomatis membuat sebuah keputusan menjadi bijaksana.

Bayangkan seseorang pergi ke lingkungan ekstrem dengan pengetahuan bertahan hidup yang terbatas, peralatan seadanya, tanpa peta yang memadai, tanpa persiapan matang terhadap perubahan kondisi alam, kemudian memilih bertahan sendirian selama berbulan-bulan. Itu bukan sekadar keberanian. Ada unsur kecerobohan di sana. Alam bukan ruang suci yang akan menyambut manusia dengan tangan terbuka. Alam adalah ekosistem brutal yang tidak peduli apakah kita memiliki idealisme atau tidak.

Kematian McCandless memperlihatkan persoalan tersebut dengan sangat jelas. Ia akhirnya terjebak di dalam busnya karena kondisi Sungai Teklanika menyulitkannya kembali. Dalam keadaan semakin kekurangan makanan, tubuhnya melemah hingga akhirnya meninggal. Penyebab pastinya pernah menjadi perdebatan, tetapi yang jelas, keterbatasan makanan dan kondisi lingkungan memainkan peran penting dalam tragedi tersebut.

Masalahnya bukan pada keputusan McCandless untuk mencari kebebasan ala dia. Itu haknya. Masalahnya muncul ketika kisah tersebut kemudian dibaca sebagai resep kehidupan oleh orang lain. Seolah-olah meninggalkan pekerjaan, membakar uang, pergi ke gunung, lalu hidup sendirian di alam adalah bentuk tertinggi dari keberanian dan autentisitas.

Bagi saya, justru di sinilah Into the Wild perlu dibaca secara lebih kritis. Kita boleh mengagumi keberanian McCandless tanpa harus mengagumi seluruh keputusannya. Kita bisa memahami kegelisahannya terhadap materialisme tanpa menganggap bahwa mengasingkan diri dari masyarakat adalah jawaban.

Manusia, sejak Aristoteles, dipahami sebagai zoon politikon, makhluk yang hidup dalam relasi dengan manusia lainnya. Karena itu, kebebasan tidak selalu berarti pergi sejauh mungkin dari masyarakat. Kadang-kadang kebebasan justru berarti tetap berada di tengah masyarakat sambil berusaha mengubah sesuatu yang kita anggap keliru.

Saya suka naik gunung, tetapi justru karena itu saya semakin sulit menerima romantisme McCandless secara mentah. Alam bukan background foto Instagram. Ia punya cuaca, medan, sungai, hewan, penyakit, kelaparan, dan konsekuensi. Pergi ke alam membutuhkan pengetahuan, perhitungan, peralatan, dan kemampuan membaca risiko.

Maka, mengenang Christopher McCandless pada akhirnya bukan berarti menyebutnya pahlawan atau orang bodoh. Ia adalah manusia muda dengan kegelisahan yang nyata, keberanian yang besar, sekaligus keputusan-keputusan yang sangat berisiko. Yang patut kita kritik adalah ketika kisah hidupnya dipotong menjadi satu slogan “tinggalkan semuanya dan kejarlah kebebasan.”

Sebab kebebasan tanpa pengetahuan bisa berubah menjadi kecerobohan. Dan keberanian tanpa perhitungan, pada titik tertentu, hanya tinggal keberanian untuk menghancurkan diri sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda