Ulasan

Insidious: Out of the Further, Seringnya Trauma Dijadikan Landasan Teror

Insidious: Out of the Further, Seringnya Trauma Dijadikan Landasan Teror
Poster Insidious: Out of the Further (IMDb)

Horor zaman sekarang punya satu kebiasaan yang makin sering muncul: sebelum hantunya datang, trauma karakter utama yang diperlihatkan dulu. Masa kecil yang berantakan, orang tua bermasalah, kehilangan seseorang, rasa bersalah, sampai luka psikologis kemudian dijadikan pintu masuk menuju teror. Polanya akrab. Seseorang mengalami sesuatu yang buruk pada masa lalu, tumbuh dewasa dengan luka yang belum selesai, lalu ketika hidupnya mulai terganggu oleh sesuatu yang supernatural, kita diberi tahu bahwa semua itu punya hubungan dengan masa lalunya.

Film Insidious: Out of the Further yang rilis bioskop Indonesia pada 19 Agustus 2026, datang dengan pola tersebut, sekaligus mencoba memberinya bentuk baru.

Film keenam dalam waralaba Insidious ini disutradarai Jacob Chase, yang sebelumnya menggarap Come Play. Chase menulis skenarionya, sementara cerita dikembangkan bersama David Leslie Johnson-McGoldrick. Leigh Whannell tetap menjadi pencipta karakter, sedangkan Jason Blum, Oren Peli, James Wan, dan Leigh Whannell duduk sebagai produser. Film ini berada di bawah produksi Screen Gems, Stage 6 Films, Blumhouse, dan Atomic Monster, dengan Sony Pictures sebagai distributor. Pemerannya antara lain Amelia Eve sebagai Gemma, Brandon Perea, Maisie Richardson-Sellers, Sam Spruell, Laura Gordon, Island Austin, serta Lin Shaye yang kembali sebagai Elise Rainier.

Ceritanya kali ini tertuju pada Gemma, ibu muda yang tinggal bersama putrinya di rumah tempat dia dibesarkan. Kehidupan yang awalnya tampak biasa perlahan berubah setelah berbagai kejadian aneh mulai muncul. Gemma mengalami gangguan yang membuat batas antara mimpi, ingatan, dan kenyataan semakin kabur. Kehadiran tiga sosok penguntit di lingkungan tempat tinggalnya ikut memperkeruh keadaan dan membawa keluarga ini menuju sesuatu yang jauh lebih besar. 

Gemma memiliki kemampuan memasuki The Further, dunia purgatorial yang dihuni jiwa-jiwa tersesat dalam semesta Insidious. Masalahnya, kemampuan Gemma punya konsekuensi yang jauh lebih berbahaya. Dia mampu membawa sesuatu yang hidup di The Further kembali ke dunia nyata. Ketika para penghuni dunia tersebut menyadari kemampuan itu, dunia manusia berubah menjadi tempat bermain mereka.

Di tengah teror tersebut, masa lalu Gemma kembali menyeruak. Hubungannya dengan ibunya, luka yang dia bawa sejak kecil, serta ketakutannya sebagai seorang ibu kemudian menjadi bagian penting dari konflik. Kehadiran Elise juga menjadi penghubung antara cerita baru ini dengan mitologi lama Insidious.

Menarik banget, ya? Oh, jelas!

Mendalami Trauma Sebagai Sumber Penyulut Teror

Scene Insidious: Out of the Further (IMDb)
Scene Insidious: Out of the Further (IMDb)

Apakah trauma masih digunakan sebagai tema dalam film horor, atau sudah berubah menjadi formula baru untuk membuat sebuah cerita terasa dalam? Jadi begini. Dulu, kita bisa masuk ke film horor dengan premis alakadar. Ada keluarga pindah rumah, lalu rumah tersebut ternyata dihuni sesuatu yang mengerikan.

Sekarang formulanya sering berkembang jadi: ada keluarga pindah rumah, lalu ternyata karakter utama memiliki trauma masa kecil, trauma itu berhubungan dengan orang tuanya, trauma tersebut memengaruhi anaknya, kemudian makhluk supernatural muncul sebagai manifestasi dari semua luka tersebut. Hantu akhirnya seperti datang membawa berkas psikologis lengkap.

Kedengarannya lucu, tapi kecenderungan ini sebenarnya menarik untuk dibicarakan.

Film Insidious: Out of the Further memang punya elemen yang membuatnya berbeda dari film-film sebelumnya. Kemampuan Gemma membawa sesuatu dari The Further ke dunia nyata memberi variasi baru pada mitologi waralaba ini. Film juga punya beberapa adegan yang cukup kreatif, termasuk situasi di benteng bantal yang mengubah ruang sederhana menjadi tempat yang mengancam. 

Namun, lapisan trauma Gemma membuatku melihat persoalan yang lebih besar. Film horor seringkali ingin mengatakan bahwa monster sebenarnya bukan sekadar monster. Gagasan tersebut sebenarnya bagus. Masalahnya muncul ketika hampir setiap gangguan supernatural harus memiliki penjelasan psikologis.

Akibatnya, trauma perlahan berubah menjadi semacam tombol otomatis. Tekan tombol masa lalu, keluarlah monster.

Di satu sisi, pendekatan ini membuat horor terasa lebih dekat dengan manusia. Penonton bisa memahami, ketakutan terbesar seseorang seringkali berasal dari sesuatu yang sudah lama dia simpan. Di sisi lain, ketika pola tersebut digunakan berulang kali, trauma berisiko kehilangan daya tariknya sebagai tema dan berubah menjadi perangkat naratif.

Kita akhirnya melihat seseorang ketakutan bukan karena sedang menghadapi sesuatu yang asing, melainkan karena film ingin mengajak kita menggali masa lalunya.

Aku justru merasa Film Insidious: Out of the Further menarik ketika memperlihatkan bagaimana ketakutan seorang ibu terhadap masa lalunya berhubungan dengan ketakutannya terhadap masa depan anaknya.

Gemma bukan hanya takut terhadap The Further. Dia takut menjadi seperti ibunya. Takut masa lalu kembali menimpa dirinya. Juga takut anaknya harus mewarisi luka yang sama.

Di sinilah horornya sebenarnya memiliki potensi paling kuat. Monster dari The Further menjadi ancaman supernatural, sementara trauma menjadi ancaman yang jauh lebih manusiawi: sesuatu yang bisa diwariskan tanpa pernah sengaja diberikan.

Namun, jujur saja, ada sesuatu yang menarik sekaligus melelahkan dari pola tersebut. Film bisa saja sedang merayakan kekuatan kasih sayang seorang ibu, tapi pada saat yang sama juga berpotensi memperkuat gagasan bahwa seorang ibu harus selalu kuat demi anaknya. Bahkan ketika dirinya sendiri sedang hancur.

Di titik ini, Film Insidious: Out of the Further menjadi bagian dari tren horor yang lebih luas. Trauma semakin sering dipakai untuk memberikan kedalaman kepada cerita yang pada dasarnya tetap bekerja sebagai tontonan horor. Ketika berhasil, hasilnya bisa sangat emosional. Ketika gagal, trauma hanya terasa seperti dekorasi psikologis yang ditempelkan pada cerita hantu.

Nah, aku rasa Out of the Further berada di tengah-tengah keduanya. Film ini punya usaha untuk memperluas dunia Insidious dengan punya karakter baru dan konflik personal yang cukup kuat. Namun, semakin banyak mitologi yang dibangun, semakin besar pula risiko The Further kehilangan misterinya. 

Film Insidious: Out of the Further menarik karena berada di persimpangan antara dua kebutuhan tersebut: kebutuhan waralaba untuk terus menciptakan teror baru dan kebutuhan film horor masa kini untuk memberi makna psikologis pada terornya.

Hasilnya memang menghibur buat para sinefil yang sudah mengikuti rangkaian cerita dari waralaba film horor ini. Hanya saja, sebagian penonton termasuk diriku, menginginkan konflik yang jauh lebih dalam dan nggak tertebak. Bila Sobat Yoursay penasaran bisa langsung ke bioskop. Selamat menonton. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda